27 September 2019

Ada Padang Pasir dan Tugu Salib di Pantai Alamanda

Seperti sudah jadi rutinitas, tiap hari Sabtu/Minggu, sekali seminggu kita pasti mengunjungi pantai di sekitar Kupang, kadang sukses dan berakhir bahagia, kadang zonk, haha karena kondisi pantai yang enggak sesuai dengan ekspektasi kita.

Nah di pertengahan Bulan Juli 2019 ini, kita mengunjungi salah satu pantai di selatan Pulau Timor, namanya Pantai Alamanda yang sebelumnya bernama Pantai Batulesa. Lokasi pantai ini berada di Desa Sumlili, Kupang Barat, Kabupaten Kupang.


AKSES dan RUTE JALAN
Untuk menuju ke pantai alamanda ini sebenernya gampang, dan dijamin enggak bakal kesasar jika menggunakan Google Maps, namun dalam postingan ini aku akan menjelaskan bagaimana kondisi jalan nya

Nah bila kalian pernah ke Pantai Tablolong, jalan menuju Pantai Alamanda ini intinya hampir sama, cuman di pertigaan besar yang ada Toko Kelontong Maranata , kita arahkan kendaraan lurus saja, karena kalau ke kanan kita akan sampai ke Tablolong.

Peta Lokasi Pantai Alamanda


Kondisi jalan dari Kupang sampai ke pertigaan besar ini bisa dibilang lumayan oke lah, masih manusiawi meski ada lubang di beberapa titik. Kios kios kelontong, dan penjual bensin eceran juga masih banyak. Namun setelah melewati pertigaan ini kondisi jalan berubah drastis. Saat kita melihat kondisi jalan di Google Street View (citra foto google diambil tahun 2016) sih masih bagus, masih keliatan wujud aspalnya, lha ternyata pas kita lewati (Juli 2019) ancur parah. Dari total 6 Km, hanya 100 meter di awal dan 1 km di akhir aja yang jalannya masih oke. Sisanya? bekas aspal yang sudah lepas aspal aspalnya, menyisakan dasar bebatuan yang siap memangsa siapa saja yang jatuh saat melewati jalur ini, ditambah kondisi jalan yang menurun, heuheuheu, pokoknya jangan lewat pas lagi musim hujan dah.

Oia ada yang unik disini, 1 km jalan bagus yang aku sebutkan di atas itu adalah jalur yang rencana awalnya adalah Jalur Trans Selatan Pulau Timor lho. Ini adalah titik paling barat yang sudah selesai dibangun, yang seandainya bila benar benar terwujud, jalur ini akan melewati daerah baun, amarasi, lalu bisa saja sampai tembus ke Oetune dan Kolbano. Nah kalau kalian sudah pernah membaca cerita nyasarku di Amarasi, disana juga sudah dibangun potongan puzzle jalan Trans Selatan Pulau Timor yang terpotong potong oleh jalur sungai. Sangat disayangkan sih sebenernya, sedih akutuh :(

Jalan Lebar dan Mulus sebelum Pantai Alamanda

Agak setengah hati juga sih pas aku sudah melewati beberapa ratus meter di jalan rusak tadi, mau balik lagi ke kota kupang tapi kok eman eman, mau lanjut tapi kok jalannya enggak nyaman dilewati gini ya. Namun aku enggak menunjukkan sikap klo lagi gak mood gini, takutnya nanti semua yang ada di mobil jadi ikut ikutan gak mood, haha. Tetep aku tunjukkan muka  muka bahagia sambil nyanyi nyanyi lagu ngikutin lagu yang kuputer di HU pake Bluetooth HP.

Di sepanjang perjalanan dari pertigaan besar tadi sampai habis jalan rusaknya, kita sama sekali enggak papasan dengan mobil lain lho, cuma beberapa kali aja disalip ama motor. Hal ini membuatku jadi berpikiran kalao di pantai sana tuh bakal sepi dari pengunjung, bisa santai, masak masak dan makan makan dengan nyaman. Karena kita niatnya memang mau masak masak di pantai, udah bawa kompor, wajan, dan bahan makanan untuk dimasak.

Kaget bukan main saat hampir sampai ke Pantai Alamanda, dari kejauhan sudah terlihat bahwa di Pantai Alamanda sudah banyak banget mobil parkir dengan puluhan manusia berbaju merah merah, di bawah tenda. Oalah ternyata lagi ada acara outbond toh. Buset dah ah siapa yang punya ide buat bikin acara outbond di sini nih, heuheuheu. 

Kirain sepi gitu, lha malah super duper rame....


Ya sudah karena sudah terlanjur sampai sini, kita pun tetap masuk ke area pantai alamanda dengan melewati pintu gerbangnya, dan membayar tiket masuk sebesar 10rb untuk mobil, kalau untuk motor 5rb saja. Jarang jarang nih di kupang harus bayar buat menikmati pantai, Haha, tapi ya gpp, toh ada tiket resminya (lupa foto tketnya) , uangnya bisa buat pembangunan di sekitar sini. 

Oia, Bulan Juli ini angin di kupang dan sekitarnya lagi besar nih, bukan cuma di pantainya, tapi di tengah kota pun kena dampaknya. Tak terkecuali dengan Pantai Alamanda ini, anginnya lagi besar banget. 

Ada sisi positif dan sisi negatif dari angin besar ini.


Sisi negatifnya adalah, angin besar ini menerbangkan pasir pasir halus plus debu kemana mana, ribet mau fotoan, takut kelilipan. Bahkan sesaat setelah keluar mobil dan fotoan lalu masuk mobil lagi, muka kita udah penuh debu, kelihatan dari tisu basah yang kita usap ke muka, langsung coklat, haha.

Tapi ada sisi positifnya lho, angin besar yang menerbangkan pasir ini membentuk gundukan gundukan pasir dengan alur alurnya yang alami, dari sudut tertentu bisa menghasilkan foto yang cantik lho, semacam Gumuk Pasir di Pantai Oetune gitu dah. Tapi ada sedikit hal yang mengganggu, yaitu huruf huruf besar bertuliskan Pantai Alamanda itu lho, bikin foto ala ala gumuk pasir jadi kurang alami, heuheuheu.


Cuma sebentar kita fotoan di sekitar tulisan besar Pantai Alamanda ini, udah gak tahan ama angin berpasir plus debu nya, lagian juga gak enak ninggalin anak lama lama di dalam mobil.

Lalu kita lanjutkan ke arah dalam lagi, melewati kerumunan orang orang yang outbond dan ternyata udah selesai acaranya, tinggal nyanyi nyanyi dan joget aja.

Di dekat tenda para peserta outbond ada 1 spot batuan yang di atasnya ada 3 Salib. Yang ternyata setelah kucari info dari beberapa sumber, spot tersebut adalah Tugu Salib yang dibangun mulai Bulan Mei tahun 2016 secara swadaya oleh masyarakat dengan dibantu Sumbangan dari Yayasan Gerakan Peduli Sosial (YGPS) NTT.


Tugu Salib ini diresmikan oleh Ketua DPD Partai Gerinda NTT (pada masa itu) Esthon Foenay pada Hari Sabtu tanggal 16 Juli 2016. Tugu yang dibangun persis di atas batu karang ini, menurut Esthon, bisa menambah satu lagi obyek wisata di Kecamatan Kupang Barat yang selama ini terkenal dengan wisata bahari. Kedepannya, diharapkan tugu salib ini dapat dijadikan sebagai lokasi wisata religi. 

Di beberapa titik di Pantai Alamanda ini juga sudah dibangun Lopo Lopo / Gazebo untuk istirahat para pengunjung, yang sepertinya sih enggak gratis ya, dari kejauhan seperti terlihat ada tulisan tarif nya (kalau gak salah liat ya) seperti lopo yang terdapat di Pantai Tablolong yang juga berbayar.

Kita enggak mampir ke Lopo itu, tapi melanjutkan ke bagian dalam lagi, sekilas terlihat juga beberap toilet umum yang bisa dimanfaatkan pengunjung. Nah di bagian ujung pantai ini terdapat pepohonan rimbun, rencananya sih mau stop di sini dan bikin perapian untuk masak di sini, tapi ternyata pas aku coba keluar, kondisi enggak memungkinkan, angin masih terasa agak mengganggu dan banyak lalat di sekitar sini. Ya sudah akhirnya diputuskan gak jadi masak masak, heuheuheuheu, kita lanjut balik ke Kota Kupang lagi, dengan melewati Jalan Rusak lagi :) 

Photo by Google Maps

21 September 2019

Berburu Kudapan Malam di Romansa Kuliner Purworejo


Pulang kampung alias mudik ke Purworejo tahun ini aku sempatkan untuk jalan jalan malam ke Alun Alun Purworejo dan sekitarnya, huaaa ternyata ada beberapa perubahan ya di alun alun ini bila dibandingkan dengan tahun lalu, maklum aku bisa kesini cuma setahun sekali. Di bagian pojok utara timur ada seoonggok robot besar yang di depannya ada papan catur raksasa, spot ini selalu ramai oleh para pengunjung yang berfoto foto.


Kemudian lanjut jalan ke arah selatan, kutemui semacam lampion bentuk binatang dan pepohonan. Spot ini juga gak luput dari para pemburu foto selfie, sedangkan di seberang SD Maria terdapat alat fitnes yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum, gratis. (tahun lalu ini udah ada)

Denah alun alun purworejo

Berjalan ke arah selatan, sampai dipojokan selatan timur terdapat tulisan besar Purworejo, yang seingatku sih tahun lalu sudah ada namun warna nya kombinasi putih dan kuning, serta jenis font nya juga beda, Sekarang berwarna Ungu menyala dan ada tambahan kata Alun Alun di atasnya. Aku sempatkan foto foto dulu donk di sini, siapa tahu tahun depan berubah lagi font dan warna nya, heuheuheu. Sambil menunggu gantian foto, aku membeli cilok dari abang abang yang jualan menggunakan sepeda dan mangkal deket sini.


Nah di sebelah selatan Landmark Tulisan Alun Alun Purworejo ini terdapat spot kuliner bernama "Romansa Kuliner" , sebenernya tahun lalu pun spot ini udah ada, cuman belum sempet mampir dan baru bisa mampir di lebaran 2019 ini.

Kebijakan untuk memusatkan warung warung di satu tempat gini emang bener bener oke sih, alun alun jadi terlihat bersih, rapi dan cantik, padahal dulu sempet banyak yang protes mengenai kebijakan memindahkan para pedagang kaki lima di bagian barat dan timur alun alun purworejo. Trotoar alun alun yang dulu dijadikan tempat jualan pun kini bisa bebas digunakan para pengunjung untuk jalan kaki ataupun lari keliling alun alun.


Romansa Kuliner ini dihuni puluhan kedai makanan, lengkap banget mulai dari yang ringan seperti dimsum sampai yang berat seperti nasi goreng, bakso, sate , gule dll. Parkirannya lumayan luas tapi tetep aja bakal full saat musim lebaran, apalagi malam hari.





Karena lagi pengen yang seger seger, aku pesen es bubur kacang ijo donk, heuheuheu, makanan yang jarang kutemui di Kupang, jarang lho ya, bukan berarti gak ada. Enak enak enak. Untuk cemilannya aku pesen sempol beberapa tusuk dan untuk oleh oleh dibawa pulang, aku pesen martabak manis isian kacang coklat.

Nah buat kalian yang lagi jalan jalan ke Purworejo dan bingung mau makan apa, monggo silakan ke Romansa Kuliner aja, banyak pilihan makanan dan minuman dan rasa nya bisa dibilang enak enak lah (yang udah kubeli sih, heuheuheu). Fasilitas toilet dan mushola juga ada di bagian belakang. Untuk menuju ke lokasi ini pun juga gampang, kalau gak ada kendaraan pribadi, tinggal naik taksi atau grab aja :)


***

Peta Lokasi Romansa Kuliner Purworejo



16 September 2019

4 Malam di Hotel Puri Indah

Gak kerasa ya udah hampir 1 tahun meninggalkan pulau lombok yang udah jadi rumah keduaku. Dan alhamdulilah di bulan Juli 2019 ini aku ada rejeki dan ada waktu buat menyambangi pulau nan indah itu lagi, yaaa walau cuma 5 hari 4 malam.


Tujuan utama kita ke Lombok adalah untuk menghadiri acara pernikahan salah seorang sahabat, sekaligus silaturahmi ke keluarga di lombok dan ziarah ke Lombok Timur.

Nah selama di Lombok ini kita berempat (emak, bapak, 2 anak balita) menginap di Hotel Puri Indah yang berlokasi di Jalan Sriwijaya Mataram, enggak jauh dari Kura Kura Waterpark. Dahulu sekitar 2016 sih aku udah pernah masuk ke Hotel Puri Indah ini, namun cuma renang renang hore aja, namun untuk kali ini, selain renang kita juga menginap donk. Eh by theway, setelah 3 tahun ternyata enggak ada perubahan sama sekali ama ini hotel, masih sama persis.


CHECK IN
Proses check in di Puri Indah ini terbilang cepat, karena aku udah booking duluan di aplikasi pesan hotel online. Saat di receptionist, aku tinggal menyebutkan nama yang kupakai saat booking, menyerahkan KTP untuk di fotokopi dan menulis no HP, alamat email serta tanda tangan di formulir check in. Setelah itu, aku mendapatkan kunci kamar dan diantarkan oleh salah seorang karyawan hotel ke kamar sembari membawakan koper kita. Oia untuk info tambahan, check in di hotel puri indah ini normalnya jam 2 dan untuk check out jam 12 siang.

Alhamdulilahnya kita mendapat kamar di lantai 1 dan berada di sebelah samping, deket parkiran, bukan dapet kamar di bagian dalam apalagi yang di lantai atas, maklum di Lombok masih kadang2 tiba tiba diguncang gempa. Khan serem kalau kita di lantai atas, heuheuheu. Ya semoga aja sih enggak ada gempa ya.



KAMAR TIDUR
Kamar yang kita dapet, bed-nya ukuran besar dengan fasilitas lemari pakaian, AC, TV Kabel, Meja Kursi, Mini Bar lengkap dengan teh kopi gula dan pemanas air, sandal, dan tempat sampah. Sedangkan di dalam kamar mandi ada toilet duduk, tissue, wastafel, 2 buah handuk, shower dengan air panas dan dingin, cermin, serta amenities seadanya (odol, sabun, sikat gigi, shampo, shower cap serta 2 gelas). Sebagai catatan, ada 1 benda yang biasanya aku temuin di hotel sekelas tapi enggak ada di sini, yaitu kulkas mini, heuheuheu ya tapi hal ini enggak masalah sih. Oia satu lagi, antara shower dan toilet duduk nya enggak ada sekat kaca, jadinya becek dah kemana mana.



KOLAM RENANG
Untuk fasilitas kolam renang, bagi tamu hotel gratis, tapi masyarakat umum bisa kok renang disini tanpa menginap, cukup bayar aja di kasir resto, tapi enggak tahu berapa bayarnya. 

Bentuk kolam renang ini masih sama persis seperti yang kujumpai saat renang di sini 3 tahun lalu dengan berada di bagian dalam resto, bukan di dalam restonya sih, tapi kalau kita dari arah luar/dari arah receptionist, kita harus melewati resto dulu baru sampai ke kolam renang nya. Hal ini yang bikin kurang nyaman bagi para tamu hotel yang mendapat kamar di depan samping, karena sehabis renang (yang biasanya pagi) saat balik ke kamar, kita harus melewati kerumunan tamu tamu hotel yang sedang sarapan, heuheuheu. Belum ada jalan khusus yang menghubungkan kolam renang ke bangunan kamar kamar di depan samping.


BREAKFAST
Seperti biasanya, saat menginap di Hotel, aku pasti pilih paket kamar yang sekalian ama sarapan nya. Nah di Hotel Puri Indah ini untuk sarapan, yang free ternyata cuma buat 2 dewasa aja, sedangkan kalau bawa anak anak, harus bayar lagi. Heuheuheu, biasanya sih di hotel lain enggak ya, lha anaknya juga masih balita ini, paling cuma makan dikit doank. Tapi ya it's Ok lah, aku tetep bayar kok 40 ribu tambahan untuk anak per setiap kali sarapan.

Dari segi pilihan menu beratnya, enggak terlalu bervariasi sih, cuman udah lengkap ada nasi putih/goreng, beberapa lauk dan beberapa sayur, serta ada opsi lain seperti bubur, sereal, gado gado, wafle, omelet, beberapa gorengan, salad, potongan buah, pastry, jus buah , kopi dan teh. Untuk rasa nya, yaaaa standar hotel lah, enak kok. Dan setiap hari pilihan jenis lauk serta sayur ganti ganti, enggak sama jadi gak bosen.


Overall hotel puri indah ini nyaman kok untuk menginap bersama keluarga, harganya juga terjangkau, serta ada kolam renang yang kids friendly, tapi ya itu sayangnya breakfastnya harus bayar lagi kalau bawa anak, heuheuheu.

***

Peta Lokasi Hotel Puri Indah Mataram, Lombok


.


10 September 2019

Trip ke Fatumnasi (Part 2)

Titik Keenam : Kebun Ubi Keladi
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.45 WITA, kita pun segera cabut dari Wisata Batu Marmer Tunua, dan melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya yaitu Fatu Nausus

Sebelum sampai ke titik tujuan itu, kita melihat di kanan jalan ada kebun talas (Ubi Keladi), dan aku pun jadi ingat postingan di Instagram yang pernah kulihat sebelum melakukan trip ini, dengan hashtag #Fatumnasi kulihat banyak orang yang posting foto dengan background kebun talas, wohooo ternyata disini toh. Kita pun mampir sebentar kesini



Awalnya kita bingung, masuk kebunnya lewat mana, karena sekelilingnya dipagar kayu dan enggak ada pintu masuknya. Hingga akhirnya kulihat ada kayu kayu yang disusun membentuk tangga, oalah ternyata untuk masuknya tuh harus naik tangga ini toh.

Di dalam kebun nya sudah ada 1 orang ibu ibu (mama) yang menjaga kebun talas ini. Aku pun minta ijin masuk untuk foto foto , dan beliau pun mengijinkan. 

Titik Ketujuh : Wisata Alam Nausus (Fatu Nausus)
Spot berikutnya yang kita tuju adalah bekas pertambangan batu marmer lagi, namun beda lokasi dengan yang di Tunua. Dari jalan utama Fatumnasi, kita harus masuk di percabangan menuju Nausus, enggak ada petunjuk arah disni, cuman ada beberapa penjual jeruk soe di pertigaan ini, kalau kalian bingung bisa tanya mereka, tapi karena aku sudah percaya ama google maps, jadi langsung gass aja.

Jalur masuk dari pertigaan ini sudah aspal mulus, mulus banget, kelihatannya sih bukan aspal baru, namun masih bagus. Pemandangan indah di kanan kiri jalan bikin hati adem dan capek ilang.

Setelah menempuh jalan mulus sekitar 2 km. tibalah kita di sebuah pertigaan lagi, dimana di sebelah kanan terdapat danau dan di sebelah kiri terdapt jalan tanah yang mengarah ke Nausus , kita pun keluar aspal dan mengikuti jalan tanah itu.

Enggak jauh kok jalan tanah yang harus kita lalui ini, cuma 1 km saja sampai parkiran. Namun di pertengahan jalan, ada 1 titik yang agak sulit dilalui yaitu sungai kecil, dimana kita harus melewati jalan tanah turunan, sampai di dasar sungai, lalu langsung menanjak lagi, nah untungnya hari ini sungainya enggak mengalir, cuma menyisakan tanah basah aja, jadi ban mobil cuma selip sedikit pas di tanjakan.


Pukul 16.12 kita sampai di pintu Gerbang Wisata Alam Nausus, dengan kondisi yang masih tertutup, tanpa penjaga, namun ada 1 orang yang naik motor yang  sepertinya ragu juga untuk masuk karena gerbang masih tertutup.

Tiba tiba ada 2 motor dari arah dalam yang mau keluar, dan pintu gerbang dari kayu ini pun dibuka, aku kemudian bertanya kepada mereka, apakah mobil bisa masuk, dan kata mereka bisa masuk, karena tadi ada beberapa mobil juga yang masuk sini, dan memang dari tadi enggak ada penjaganya, padahal di deket gerbang ada pos penjagaan. 




Di sekitar parkiran sudah ada beberapa bangunan, ada semacam bekas warung, ada beberapa rumah tradisional, ada toilet, dan ada 1 bangunan panjang, entah bangunan apa ini, enggak ada orang yang bisa untuk dimintain informasi.

Dari parkiran ini kita harus berjalan kaki sejauh 300 meter untuk sampai ke lokasi penambangan batu marmer.

Sungguh pemandangan yagn luar biasa, antara kagum dan miris sih, heuheuheu. kagum karena gagahnya bukit marmer yang ada di depanku ini, tapi miris karena sudah sebagian dipotong menggunakan mesin, tersisa separo doank. Hmmm tapi misal masih utuh dan belum dipotong, mungkin ini enggak jadi tempat wisata ya, heuheuheu.



Berhubung hari udah mulai gelap, sekitar pukul 16.50 WITA , kita pun cabut dari Nausus ini, nah pas di parkiran kita ketemu 1 orang bapak tua yang ternyata penjaga objek wisata ini. Dari beliau aku mendapat info kalau pertambangan ini udah berhenti sejak tahun 2000 karena ditolak warga, oia perusahaan pertambangan itu dimiliki oleh orang Thailand. 

Lokasi ini sekarang dimanfaatkan untuk merayakan Festival Ningkam Haumeni, yaitu sebuah festival yang digagas atas inisiasi masyarakat adat Tiga Batu Tungku (Amanatun, Amanuban dan Mollo), Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur). Festival ini muncul dalam sebuah gerakan masyarakat adat Tiga Batu Tungku yang ingin meninggalkan pilihan ekonomi yang merusak alam, seperti kegiatan tambang, HPH (Hutan Tanaman Industri), yang mengakibatkan penderitaan panjang bagi hidup dan kehidupan mereka.

Karena bagi mereka, terutama masyarakat Mollo, alam adalah titipan tuhan yang harus dijaga. Hal itu disematkan dalam kosmologi kehidupan harian mereka, bahwa alam adalah bagian dari tubuh mereka. Tanah adalah dagingnya, air adalah darah, hutan adalah rambut/pori-pori dan batu adalah tulangnya

Titik Kedelapan : Danau Fatukoto/Nefo Kaenka
Di pertigaan menuju Nausus ada sebuah danau yang bernama Nefo Kaenka, danau ini juga dikenal dengan nama Danau Fatukoto karena terletak di Desa Fatukoto.

Aku enggak sempet menikmati dengan maksimal danau ini, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.05 WITA, cuma foto foto sebentar lalu langsung cabut, balik ke Kota Soe. Aku buru buru cabut karena takut kemaleman di jalan, masih jauh perjalanan ke Soe dengan kondisi jalan yang menurun berkelak kelok dan sempit.

Danau Nefo Kaenka ini belum dikelola secara maksimal nih, meski sudah ada bangunan Lopo disana. Padahal asyik juga nih buat piknik siang siang sambil makan bersama keluarga, pastinya adem dan nyaman karena banyak pepohonan di sekitar danau ini.


Titik Kesembilan : Bermalam di Kota Soe
Alhamdulilah kita sampai di Kota Soe pukul 18.30 Wita. Dan sesuai dengan rencana kita sebelumnya, kita akan menginap semalam di Soe, sebelum besok siang kita kembali ke Kota Kupang.

Tempat pilihan kita menginap adalah Hotel Bahagia 2 yang belokasi di Jalan Gajah Mada, Kota Soe, bersebelahan dengan Kantor Polres Kab TTS.

Enggak seperti biasanya, kali ini kita enggak booking dulu sebelumnya, alias "go show" aja, dan untungnya sih masih dapet kamar kosong.


Kita daper kamarnya yang Utama 1, harganya 300 ribu dengan fasilitas TV dan Air Panas plus Sarapan. Proses cek in sangat cepat, enggak perlu isi formulir ini itu, aku cuma diminta menyerahkan KTP aja dan langsung diantar ke kamar yang berada di lantai 2.

Saat sampai kamarnya, wow, ala kadarnya banget ya, heuheuheu. Oia meski di daftar harga tercantum fasilitas TV, ternyata di kamar kita enggak ada TV nya, tapi gpp sih, enggak masalah, enggak sempet nonton TV juga.


Beberapaa kali aku terbangun dari tidur, bukan karena berisik atau apa, tapi karena kedinginan, heuheuehu, Soe dingin banget cui pas malem, padahal enggak pakai AC lho. Dan pas paginya aku cek di aplikasi HP, ternyata suhu udara di Kota Soe 16 derajat Celcius, pantes aja dingin bangett.

Untuk sarapan, lokasinya di restoran persis di sebelah resepsionis dengan menu yang disediakan yaitu Nasi Soto Ayam dengan lauk telur rebus dan tempe goreng, minum air putih, kopi, atau teh dan ada pula Roti Tawar lengkap dengan selai.


Setelah makan dan ngopi pagi, kita pun bergegas balik kamar buat mandi, dan packing. Proses cek out dari hotel ini juga cepet banget, tinggal bilang cek out, balikin kunci, dicetakin tagihan, lalu bayar, dan bisa cabut deh, enggak di cek dulu kondisi kamar nya seperti di kebanyakan hotel lain.

Titik Kesepuluh : Taman Rekreasi Bu'at
Sekitar pukul 09.00 Wita, kita pun meluncur ke Taman Rekreasi Bu'at yang lokasinya lumayan dekat, cuma 6 km saja dari hotel. Untuk rutenya tentu saja donk kita mengandalkan kesaktian Google Maps, heuheuheu. Oia ternyata rute yang kita lalui ini melewati Kantor Bupati Timor Tengah Selatan, nah mumpung udah sampai sini, akhirnya kita foto foto dulu donk ya


Kondisi sekitar kantor dan jalanan di depan kantor bupati ini sepiiii banget, gak ada orang lain yang lewat sini, yaa mungkin karena ini minggu pagi ya, orang orang lagi pada ibadah gereja.

Habis itu kita pun melanjutkan perjalanan lagi, nah sebelum benar benar sampai ke Taman Rekreasi Bu'at, kita sempat berhenti 3 kali nih, karena pemandangannya oke dan kayaknya sayang deh kalau enggak foto foto dulu, heuheuheu, karena belum tentu kita bisa sampai sini lagi to




Kondisi sekitar Taman Rekreasi Bu'at juga sepi banget cui, saat kita sampai di depan pintu gerbangnya jadi ragu deh buat masuk, aku sempat menghentikan kendaraan beberapa menit, berpikir sejenak mengenai jadi atau enggaknya masuk ke taman ini. Dan akhirnya kuputuskan untuk gak jadi masuk, haha. Kuputar balik kendaraan di depan pintu gerbangnya, dan langsung cabut menuju Kota Kupang.


Nah seperti itulah keseruan kita trip ke Soe dan Fatumnasi selama 2 hari 1 malam, buat kalian yang pengen melakukan trip kesana juga, silakan baca baik baik postingan ini, jangan lupa baca juga yang Part 1 ya, udah lengkap tuh kutulis apa aja yang harus dipersiapkan, bagaimana kondisi jalan serta apa aja yang bisa dituju.

5 September 2019

Garden Party di Holiday Resort Lombok


Satu hal utama yang jadi alasan kita untuk jalan jalan keluarga ke Lombok bulan Juli 2019 adalah Undangan Nikahan teman. Nah undangan nikah ini bukan undangan biasa ya, karena yang menikah adalah presenter nge hits di CNN, heuheuheu, kalau kalian sering nonton berita di CNN pasti pernah melihat beliau. 

Selain itu, tema resepsi dan lokasi yang digunakan juga spesial yaitu semacam Garden Party di area Holiday Resort Lombok, sebuah resort cantik di Pantai Mangsit, Lombok yang pernah kucoba menginap disana sekitar 2 tahun lalu.

Kondangan Garden Party gaesss, yaaa mungkin kalian pernah merasakannya ya, tapi bagiku ini pertama kali dan bikin aku excited banget. Haha, biasanya khan di gedung atau halaman rumah ya, datang, salaman, makan lalu pulang deh.



Nah berhubung sang Istri juga jadi bridesmaid nya, kita datang 2 jam sebelum acara Akad Nikah, karena ada sesi foto foto  sang pengantin perempuan dengan para bridesmaid yang jumlahnya ada 5 orang, yang merupakan teman teman se-gank waktu SMA dulu.

Sesi foto foto ini dilakukan di halaman luas yang berada di bagian dalam Resort ini, dimana nanti malam disini digelar acara resepsi, sedangkan untuk akad, lokasinya di dekat kolam renang dengan view pantai dan matahari terbenam/sunset.

Berikut adalah foto fotonya :







Lha terus akunya dimana? Haha aku jadi baby sitter dulu nih, ngejagain dua aanak kecil sambil bawa kamera, sesekali jepret jepret dikit. Untungnya sih si baby mau bobo di stroller, jadi enggak terlalu repot lah, tinggal dorong dorong stroller kemana aja mereka pergi, pindah pindah spot foto.

Oia, aku menyempatkan untuk mampir di penangkaran penyu milik holiday resort, lokasinya di salah satu pojokan dari tanah lapang yang luas ini, ternyata holiday resort ini punya program pelepasan tukik lho buat para pengunjung hotel, nah tukik tukik yang dilepas itu berasal dari penangkaran ini, heuheheu, lucu lucunya bayi bayi penyu ini.



Menjelang jam 6 sore, kedua rombongan dari masing masing mempelai menuju ke spot akad nikah yang berada di tepi pantai dekat dengan kolam renang. Momen ini sangat mengharukan deh, heuheuheuheu jadi inget pas akad nikah dulu, gimana rasa deg-deg an itu menguasai diri ini. Tapi bedanya pas aku akad nikah, antara mempelai pria dan wanita enggak dijejerin dulu, nah sehabis akad nikah selesai diikrarkan baru dah sang mempelai wanita keluar dan duduk di sampingku.


Tepat jam 6 sore prosesi akad nikah dimulai, dimulai dengan pembacaan ayat ayat suci Al Quran, Khotbah Nikah, Ikrar akad nikah dan diakhiri dengan doa. Sehabis itu seperti biasa, penandatanganan buku nikah, pelepasan balon ke udara dan foto foto. Untuk makanan dan minuman disediakan di dalam gazebo di dekat sini, para tamu bisa bebas ambil setelah prosesi akad selesai.

Huaaa seru banget sih bisa akad nikah dengan view sunset gini yaaa, heuheuheu. Untungnya aja sih enggak hujan dan enggak ada angin kencang. Kalau ada ya pasti langsung bubaaaar.....






Setelah semua prosesi akad nikah selesai, acara dilanjutkan dengan ishoma karena sudah masuk waktu maghrib. Dan acara akan dilanjutkan lagi nanti malam sehabis Isya untuk Resepsi nya.

Resepsi ini digelar di bagian tengah resort yang berupa tanah lapang yang dikelilingi pohon pohon kelapa. Angin malam ini sih lumayan ya rasanya, bikin dingin menusuk kulit, pas enggak bawa jaket pula. Semoga aja gak masuk angin dah. 



Perbedaan yang mencolok dibanding kondangan kondangan pada umumnya adalah disini para tamu enggak antri untuk salaman dengan pengantin di pelaminan, tapi justru kedua mempelai yang jalan keliling menghampiri tamu di meja masing masing.

Seru seru seru, haha, baru kali ini aku kondangan model kaya gini.

Sekitar jam setengah 10 malam, acara resepsi usai, semua tamu pun kembali ke rumah masing masing...