16 September 2019

4 Malam di Hotel Puri Indah

Gak kerasa ya udah hampir 1 tahun meninggalkan pulau lombok yang udah jadi rumah keduaku. Dan alhamdulilah di bulan Juli 2019 ini aku ada rejeki dan ada waktu buat menyambangi pulau nan indah itu lagi, yaaa walau cuma 5 hari 4 malam.


Tujuan utama kita ke Lombok adalah untuk menghadiri acara pernikahan salah seorang sahabat, sekaligus silaturahmi ke keluarga di lombok dan ziarah ke Lombok Timur.

Nah selama di Lombok ini kita berempat (emak, bapak, 2 anak balita) menginap di Hotel Puri Indah yang berlokasi di Jalan Sriwijaya Mataram, enggak jauh dari Kura Kura Waterpark. Dahulu sekitar 2016 sih aku udah pernah masuk ke Hotel Puri Indah ini, namun cuma renang renang hore aja, namun untuk kali ini, selain renang kita juga menginap donk. Eh by theway, setelah 3 tahun ternyata enggak ada perubahan sama sekali ama ini hotel, masih sama persis.


CHECK IN
Proses check in di Puri Indah ini terbilang cepat, karena aku udah booking duluan di aplikasi pesan hotel online. Saat di receptionist, aku tinggal menyebutkan nama yang kupakai saat booking, menyerahkan KTP untuk di fotokopi dan menulis no HP, alamat email serta tanda tangan di formulir check in. Setelah itu, aku mendapatkan kunci kamar dan diantarkan oleh salah seorang karyawan hotel ke kamar sembari membawakan koper kita. Oia untuk info tambahan, check in di hotel puri indah ini normalnya jam 2 dan untuk check out jam 12 siang.

Alhamdulilahnya kita mendapat kamar di lantai 1 dan berada di sebelah samping, deket parkiran, bukan dapet kamar di bagian dalam apalagi yang di lantai atas, maklum di Lombok masih kadang2 tiba tiba diguncang gempa. Khan serem kalau kita di lantai atas, heuheuheu. Ya semoga aja sih enggak ada gempa ya.



KAMAR TIDUR
Kamar yang kita dapet, bed-nya ukuran besar dengan fasilitas lemari pakaian, AC, TV Kabel, Meja Kursi, Mini Bar lengkap dengan teh kopi gula dan pemanas air, sandal, dan tempat sampah. Sedangkan di dalam kamar mandi ada toilet duduk, tissue, wastafel, 2 buah handuk, shower dengan air panas dan dingin, cermin, serta amenities seadanya (odol, sabun, sikat gigi, shampo, shower cap serta 2 gelas). Sebagai catatan, ada 1 benda yang biasanya aku temuin di hotel sekelas tapi enggak ada di sini, yaitu kulkas mini, heuheuheu ya tapi hal ini enggak masalah sih. Oia satu lagi, antara shower dan toilet duduk nya enggak ada sekat kaca, jadinya becek dah kemana mana.



KOLAM RENANG
Untuk fasilitas kolam renang, bagi tamu hotel gratis, tapi masyarakat umum bisa kok renang disini tanpa menginap, cukup bayar aja di kasir resto, tapi enggak tahu berapa bayarnya. 

Bentuk kolam renang ini masih sama persis seperti yang kujumpai saat renang di sini 3 tahun lalu dengan berada di bagian dalam resto, bukan di dalam restonya sih, tapi kalau kita dari arah luar/dari arah receptionist, kita harus melewati resto dulu baru sampai ke kolam renang nya. Hal ini yang bikin kurang nyaman bagi para tamu hotel yang mendapat kamar di depan samping, karena sehabis renang (yang biasanya pagi) saat balik ke kamar, kita harus melewati kerumunan tamu tamu hotel yang sedang sarapan, heuheuheu. Belum ada jalan khusus yang menghubungkan kolam renang ke bangunan kamar kamar di depan samping.


BREAKFAST
Seperti biasanya, saat menginap di Hotel, aku pasti pilih paket kamar yang sekalian ama sarapan nya. Nah di Hotel Puri Indah ini untuk sarapan, yang free ternyata cuma buat 2 dewasa aja, sedangkan kalau bawa anak anak, harus bayar lagi. Heuheuheu, biasanya sih di hotel lain enggak ya, lha anaknya juga masih balita ini, paling cuma makan dikit doank. Tapi ya it's Ok lah, aku tetep bayar kok 40 ribu tambahan untuk anak per setiap kali sarapan.

Dari segi pilihan menu beratnya, enggak terlalu bervariasi sih, cuman udah lengkap ada nasi putih/goreng, beberapa lauk dan beberapa sayur, serta ada opsi lain seperti bubur, sereal, gado gado, wafle, omelet, beberapa gorengan, salad, potongan buah, pastry, jus buah , kopi dan teh. Untuk rasa nya, yaaaa standar hotel lah, enak kok. Dan setiap hari pilihan jenis lauk serta sayur ganti ganti, enggak sama jadi gak bosen.


Overall hotel puri indah ini nyaman kok untuk menginap bersama keluarga, harganya juga terjangkau, serta ada kolam renang yang kids friendly, tapi ya itu sayangnya breakfastnya harus bayar lagi kalau bawa anak, heuheuheu.

***

Peta Lokasi Hotel Puri Indah Mataram, Lombok


.


Share:

10 September 2019

Trip ke Fatumnasi (Part 2)

Titik Keenam : Kebun Ubi Keladi
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.45 WITA, kita pun segera cabut dari Wisata Batu Marmer Tunua, dan melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya yaitu Fatu Nausus

Sebelum sampai ke titik tujuan itu, kita melihat di kanan jalan ada kebun talas (Ubi Keladi), dan aku pun jadi ingat postingan di Instagram yang pernah kulihat sebelum melakukan trip ini, dengan hashtag #Fatumnasi kulihat banyak orang yang posting foto dengan background kebun talas, wohooo ternyata disini toh. Kita pun mampir sebentar kesini



Awalnya kita bingung, masuk kebunnya lewat mana, karena sekelilingnya dipagar kayu dan enggak ada pintu masuknya. Hingga akhirnya kulihat ada kayu kayu yang disusun membentuk tangga, oalah ternyata untuk masuknya tuh harus naik tangga ini toh.

Di dalam kebun nya sudah ada 1 orang ibu ibu (mama) yang menjaga kebun talas ini. Aku pun minta ijin masuk untuk foto foto , dan beliau pun mengijinkan. 

Titik Ketujuh : Wisata Alam Nausus (Fatu Nausus)
Spot berikutnya yang kita tuju adalah bekas pertambangan batu marmer lagi, namun beda lokasi dengan yang di Tunua. Dari jalan utama Fatumnasi, kita harus masuk di percabangan menuju Nausus, enggak ada petunjuk arah disni, cuman ada beberapa penjual jeruk soe di pertigaan ini, kalau kalian bingung bisa tanya mereka, tapi karena aku sudah percaya ama google maps, jadi langsung gass aja.

Jalur masuk dari pertigaan ini sudah aspal mulus, mulus banget, kelihatannya sih bukan aspal baru, namun masih bagus. Pemandangan indah di kanan kiri jalan bikin hati adem dan capek ilang.

Setelah menempuh jalan mulus sekitar 2 km. tibalah kita di sebuah pertigaan lagi, dimana di sebelah kanan terdapat danau dan di sebelah kiri terdapt jalan tanah yang mengarah ke Nausus , kita pun keluar aspal dan mengikuti jalan tanah itu.

Enggak jauh kok jalan tanah yang harus kita lalui ini, cuma 1 km saja sampai parkiran. Namun di pertengahan jalan, ada 1 titik yang agak sulit dilalui yaitu sungai kecil, dimana kita harus melewati jalan tanah turunan, sampai di dasar sungai, lalu langsung menanjak lagi, nah untungnya hari ini sungainya enggak mengalir, cuma menyisakan tanah basah aja, jadi ban mobil cuma selip sedikit pas di tanjakan.


Pukul 16.12 kita sampai di pintu Gerbang Wisata Alam Nausus, dengan kondisi yang masih tertutup, tanpa penjaga, namun ada 1 orang yang naik motor yang  sepertinya ragu juga untuk masuk karena gerbang masih tertutup.

Tiba tiba ada 2 motor dari arah dalam yang mau keluar, dan pintu gerbang dari kayu ini pun dibuka, aku kemudian bertanya kepada mereka, apakah mobil bisa masuk, dan kata mereka bisa masuk, karena tadi ada beberapa mobil juga yang masuk sini, dan memang dari tadi enggak ada penjaganya, padahal di deket gerbang ada pos penjagaan. 




Di sekitar parkiran sudah ada beberapa bangunan, ada semacam bekas warung, ada beberapa rumah tradisional, ada toilet, dan ada 1 bangunan panjang, entah bangunan apa ini, enggak ada orang yang bisa untuk dimintain informasi.

Dari parkiran ini kita harus berjalan kaki sejauh 300 meter untuk sampai ke lokasi penambangan batu marmer.

Sungguh pemandangan yagn luar biasa, antara kagum dan miris sih, heuheuheu. kagum karena gagahnya bukit marmer yang ada di depanku ini, tapi miris karena sudah sebagian dipotong menggunakan mesin, tersisa separo doank. Hmmm tapi misal masih utuh dan belum dipotong, mungkin ini enggak jadi tempat wisata ya, heuheuheu.



Berhubung hari udah mulai gelap, sekitar pukul 16.50 WITA , kita pun cabut dari Nausus ini, nah pas di parkiran kita ketemu 1 orang bapak tua yang ternyata penjaga objek wisata ini. Dari beliau aku mendapat info kalau pertambangan ini udah berhenti sejak tahun 2000 karena ditolak warga, oia perusahaan pertambangan itu dimiliki oleh orang Thailand. 

Lokasi ini sekarang dimanfaatkan untuk merayakan Festival Ningkam Haumeni, yaitu sebuah festival yang digagas atas inisiasi masyarakat adat Tiga Batu Tungku (Amanatun, Amanuban dan Mollo), Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur). Festival ini muncul dalam sebuah gerakan masyarakat adat Tiga Batu Tungku yang ingin meninggalkan pilihan ekonomi yang merusak alam, seperti kegiatan tambang, HPH (Hutan Tanaman Industri), yang mengakibatkan penderitaan panjang bagi hidup dan kehidupan mereka.

Karena bagi mereka, terutama masyarakat Mollo, alam adalah titipan tuhan yang harus dijaga. Hal itu disematkan dalam kosmologi kehidupan harian mereka, bahwa alam adalah bagian dari tubuh mereka. Tanah adalah dagingnya, air adalah darah, hutan adalah rambut/pori-pori dan batu adalah tulangnya

Titik Kedelapan : Danau Fatukoto/Nefo Kaenka
Di pertigaan menuju Nausus ada sebuah danau yang bernama Nefo Kaenka, danau ini juga dikenal dengan nama Danau Fatukoto karena terletak di Desa Fatukoto.

Aku enggak sempet menikmati dengan maksimal danau ini, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.05 WITA, cuma foto foto sebentar lalu langsung cabut, balik ke Kota Soe. Aku buru buru cabut karena takut kemaleman di jalan, masih jauh perjalanan ke Soe dengan kondisi jalan yang menurun berkelak kelok dan sempit.

Danau Nefo Kaenka ini belum dikelola secara maksimal nih, meski sudah ada bangunan Lopo disana. Padahal asyik juga nih buat piknik siang siang sambil makan bersama keluarga, pastinya adem dan nyaman karena banyak pepohonan di sekitar danau ini.


Titik Kesembilan : Bermalam di Kota Soe
Alhamdulilah kita sampai di Kota Soe pukul 18.30 Wita. Dan sesuai dengan rencana kita sebelumnya, kita akan menginap semalam di Soe, sebelum besok siang kita kembali ke Kota Kupang.

Tempat pilihan kita menginap adalah Hotel Bahagia 2 yang belokasi di Jalan Gajah Mada, Kota Soe, bersebelahan dengan Kantor Polres Kab TTS.

Enggak seperti biasanya, kali ini kita enggak booking dulu sebelumnya, alias "go show" aja, dan untungnya sih masih dapet kamar kosong.


Kita daper kamarnya yang Utama 1, harganya 300 ribu dengan fasilitas TV dan Air Panas plus Sarapan. Proses cek in sangat cepat, enggak perlu isi formulir ini itu, aku cuma diminta menyerahkan KTP aja dan langsung diantar ke kamar yang berada di lantai 2.

Saat sampai kamarnya, wow, ala kadarnya banget ya, heuheuheu. Oia meski di daftar harga tercantum fasilitas TV, ternyata di kamar kita enggak ada TV nya, tapi gpp sih, enggak masalah, enggak sempet nonton TV juga.


Beberapaa kali aku terbangun dari tidur, bukan karena berisik atau apa, tapi karena kedinginan, heuheuehu, Soe dingin banget cui pas malem, padahal enggak pakai AC lho. Dan pas paginya aku cek di aplikasi HP, ternyata suhu udara di Kota Soe 16 derajat Celcius, pantes aja dingin bangett.

Untuk sarapan, lokasinya di restoran persis di sebelah resepsionis dengan menu yang disediakan yaitu Nasi Soto Ayam dengan lauk telur rebus dan tempe goreng, minum air putih, kopi, atau teh dan ada pula Roti Tawar lengkap dengan selai.


Setelah makan dan ngopi pagi, kita pun bergegas balik kamar buat mandi, dan packing. Proses cek out dari hotel ini juga cepet banget, tinggal bilang cek out, balikin kunci, dicetakin tagihan, lalu bayar, dan bisa cabut deh, enggak di cek dulu kondisi kamar nya seperti di kebanyakan hotel lain.

Titik Kesepuluh : Taman Rekreasi Bu'at
Sekitar pukul 09.00 Wita, kita pun meluncur ke Taman Rekreasi Bu'at yang lokasinya lumayan dekat, cuma 6 km saja dari hotel. Untuk rutenya tentu saja donk kita mengandalkan kesaktian Google Maps, heuheuheu. Oia ternyata rute yang kita lalui ini melewati Kantor Bupati Timor Tengah Selatan, nah mumpung udah sampai sini, akhirnya kita foto foto dulu donk ya


Kondisi sekitar kantor dan jalanan di depan kantor bupati ini sepiiii banget, gak ada orang lain yang lewat sini, yaa mungkin karena ini minggu pagi ya, orang orang lagi pada ibadah gereja.

Habis itu kita pun melanjutkan perjalanan lagi, nah sebelum benar benar sampai ke Taman Rekreasi Bu'at, kita sempat berhenti 3 kali nih, karena pemandangannya oke dan kayaknya sayang deh kalau enggak foto foto dulu, heuheuheu, karena belum tentu kita bisa sampai sini lagi to




Kondisi sekitar Taman Rekreasi Bu'at juga sepi banget cui, saat kita sampai di depan pintu gerbangnya jadi ragu deh buat masuk, aku sempat menghentikan kendaraan beberapa menit, berpikir sejenak mengenai jadi atau enggaknya masuk ke taman ini. Dan akhirnya kuputuskan untuk gak jadi masuk, haha. Kuputar balik kendaraan di depan pintu gerbangnya, dan langsung cabut menuju Kota Kupang.


Nah seperti itulah keseruan kita trip ke Soe dan Fatumnasi selama 2 hari 1 malam, buat kalian yang pengen melakukan trip kesana juga, silakan baca baik baik postingan ini, jangan lupa baca juga yang Part 1 ya, udah lengkap tuh kutulis apa aja yang harus dipersiapkan, bagaimana kondisi jalan serta apa aja yang bisa dituju.
Share:

5 September 2019

Garden Party di Holiday Resort Lombok


Satu hal utama yang jadi alasan kita untuk jalan jalan keluarga ke Lombok bulan Juli 2019 adalah Undangan Nikahan teman. Nah undangan nikah ini bukan undangan biasa ya, karena yang menikah adalah presenter nge hits di CNN, heuheuheu, kalau kalian sering nonton berita di CNN pasti pernah melihat beliau. 

Selain itu, tema resepsi dan lokasi yang digunakan juga spesial yaitu semacam Garden Party di area Holiday Resort Lombok, sebuah resort cantik di Pantai Mangsit, Lombok yang pernah kucoba menginap disana sekitar 2 tahun lalu.

Kondangan Garden Party gaesss, yaaa mungkin kalian pernah merasakannya ya, tapi bagiku ini pertama kali dan bikin aku excited banget. Haha, biasanya khan di gedung atau halaman rumah ya, datang, salaman, makan lalu pulang deh.



Nah berhubung sang Istri juga jadi bridesmaid nya, kita datang 2 jam sebelum acara Akad Nikah, karena ada sesi foto foto  sang pengantin perempuan dengan para bridesmaid yang jumlahnya ada 5 orang, yang merupakan teman teman se-gank waktu SMA dulu.

Sesi foto foto ini dilakukan di halaman luas yang berada di bagian dalam Resort ini, dimana nanti malam disini digelar acara resepsi, sedangkan untuk akad, lokasinya di dekat kolam renang dengan view pantai dan matahari terbenam/sunset.

Berikut adalah foto fotonya :







Lha terus akunya dimana? Haha aku jadi baby sitter dulu nih, ngejagain dua aanak kecil sambil bawa kamera, sesekali jepret jepret dikit. Untungnya sih si baby mau bobo di stroller, jadi enggak terlalu repot lah, tinggal dorong dorong stroller kemana aja mereka pergi, pindah pindah spot foto.

Oia, aku menyempatkan untuk mampir di penangkaran penyu milik holiday resort, lokasinya di salah satu pojokan dari tanah lapang yang luas ini, ternyata holiday resort ini punya program pelepasan tukik lho buat para pengunjung hotel, nah tukik tukik yang dilepas itu berasal dari penangkaran ini, heuheheu, lucu lucunya bayi bayi penyu ini.



Menjelang jam 6 sore, kedua rombongan dari masing masing mempelai menuju ke spot akad nikah yang berada di tepi pantai dekat dengan kolam renang. Momen ini sangat mengharukan deh, heuheuheuheu jadi inget pas akad nikah dulu, gimana rasa deg-deg an itu menguasai diri ini. Tapi bedanya pas aku akad nikah, antara mempelai pria dan wanita enggak dijejerin dulu, nah sehabis akad nikah selesai diikrarkan baru dah sang mempelai wanita keluar dan duduk di sampingku.


Tepat jam 6 sore prosesi akad nikah dimulai, dimulai dengan pembacaan ayat ayat suci Al Quran, Khotbah Nikah, Ikrar akad nikah dan diakhiri dengan doa. Sehabis itu seperti biasa, penandatanganan buku nikah, pelepasan balon ke udara dan foto foto. Untuk makanan dan minuman disediakan di dalam gazebo di dekat sini, para tamu bisa bebas ambil setelah prosesi akad selesai.

Huaaa seru banget sih bisa akad nikah dengan view sunset gini yaaa, heuheuheu. Untungnya aja sih enggak hujan dan enggak ada angin kencang. Kalau ada ya pasti langsung bubaaaar.....






Setelah semua prosesi akad nikah selesai, acara dilanjutkan dengan ishoma karena sudah masuk waktu maghrib. Dan acara akan dilanjutkan lagi nanti malam sehabis Isya untuk Resepsi nya.

Resepsi ini digelar di bagian tengah resort yang berupa tanah lapang yang dikelilingi pohon pohon kelapa. Angin malam ini sih lumayan ya rasanya, bikin dingin menusuk kulit, pas enggak bawa jaket pula. Semoga aja gak masuk angin dah. 



Perbedaan yang mencolok dibanding kondangan kondangan pada umumnya adalah disini para tamu enggak antri untuk salaman dengan pengantin di pelaminan, tapi justru kedua mempelai yang jalan keliling menghampiri tamu di meja masing masing.

Seru seru seru, haha, baru kali ini aku kondangan model kaya gini.

Sekitar jam setengah 10 malam, acara resepsi usai, semua tamu pun kembali ke rumah masing masing...

Share:

31 August 2019

Trip ke Fatumnasi (Part 1)

Meskipun jalan jalan kali ini enggak sampai bener bener ke Daerah Fatumnasi, tapi beberapa objek wisata yang aku kunjungi ini memang berada di jalur menuju ke Fatumnasi dan Gunung Mutis, dan memang sudah terkenal sebagai 1 kesatuan "Trip Fatumnasi"

Aku mulai tertarik dan penasaran dengan Fatumnasi sejak beberapa bulan lalu, saat Om Erix Soekamti (Vocalis Band Endank Soekamti) dan tim menjalankan misi Trip Salam Indonesia hingga ke Fatumnasi (lihat videonya disini) . Namun karena ada banyak halangan, akhirnya aku baru bisa menjalankan trip ini Bulan Agustus 2019.


LOKASI
FYI daerah Fatumnasi ini berlokasi di kaki Gunung Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan, jaraknya sekitar 140 km dari Pusat Kota Kupang, Ibukota Prov NTT.

MENUJU FATUMNASI
Untuk menjalankan trip yang lumayan jauh ini, aku memanfaatkan libur Hari Sabtu dan Minggu dengan berangkat Hari Sabtu Pagi sekitar pukul 8. Aku pun sudah mempersiapkan segala perbekalan seperti minuman, cemilan dan makan siang yang memang rencananya sih mau piknik makan siang di salah satu bukit di sana.

Sekitar pukul 10.15 kita pun sampai juga di Kota Soe, tempat pemberhentian sementara untuk mengistirahatkan badan dan juga kendaraan. Dengan menggunakan Mobil Xenia, perjalanan Kupang - Soe tidak ada masalah, jalan udah aspal mulus namun mulai berkelak kelok dan menanjak semenjak memasuki sebuah daerah yagn bernama Camplong, dari situ kita dihajar oleh tanjakan yang tak henti henti plus kelokan yang aduhai. Oia, ada satu jembatan super panjang di daerah Batu Putih, namanya Jembatan Noelmina, nah jembatan ini sedang dalam perbaikan jadi semua kendaraan diarahkan ke bawah dan menyeberang melewati sungai dengan kondisi jalan yang berbatu batu


Di Soe kita cuma istirahat sebentar, aku berhenti di depan SMPN 3 Soe, di bawah pohon di sebelah penjual Cilok/Salome keliling. Sekalian aku istirahat, ngadem, sekalian ngemil Cilok dengan saus pedas, biar ilang ngantuknya.

Pukul 10.30 kita pun cabut dari Soe ke arah utara menuju Fatumnasi. Kita percayakan rutenya ke aplikasi Google Maps, nah untuk menghindari aplikasi itu error karena hilang sinyal, semalam aku udah download rutenya, jadi bisa dipakai offline saat sinyal internet tiba tiba hilang.

Kondisi jalan yang kita lalui sudah aspal namun sempit dengan pinggiran aspal yang gak rata, jadi pas sisipan dengan mobil lain dari arah depan, apalagi truk, kita harus berbagi jalan, satu sisi ban kendaraan terpaksa turun dari aspal dan menginjak tanah. 

Bunga Gamal

Sepanjang perjalanan ini banyak banget bunga warna pink, ada yang tumbuh liar, ada pula yang menjadi pagar. Cantik banget bunga nya, mirip bunga sakura dari kejauhan. Kita pun tertarik untuk mengambil setangkai guna sebagai aksesoris foto foto di atas nanti. Aku pikir enggak apa apa untuk mengambil setangkai karena pohonnya banyak bangeeeet. Nah saat kita kesulitan memetik bunganya karena batangnya keras dan mudah rontok bunga nya, seorang anak laki laki tiba tiba datang dengan membawa pisau, menyapa kita dan membantu memotong batang bunga nya, heuheuheu, baik banget yaaaaa, padahal kita enggak minta tolong lho, dan tadi pun kulihat di sekitar sini enggak ada orang lain. Dari anak itupun aku tahu bahwa bunga ini bernama Bunga Gamal. Aku pun mengucapkan terima kasih pada anak itu dan melanjutkan perjalanan ke atas.

Pukul 11.11 Wita, perjalanan kita terhenti di sebuah titik yang orang orang bilang Kilo 12 . Dinamain seperti itu karena lokasi ini berjarak 12 kilometer dari Kota Soe. Kendaraan kita parkir di tepi jalan, dan kita berjalan kaki ke bukit yang berada di sebelah kiri jalan. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan cantik berupa lembah dan pegunungan di arah depan sana, saat ini sih warnanya hijau kecoklatan karena musim kemarau , semisal kita kesini pas musim penghujan pasti warnanya ijo ijo segeeeer. Oia disini matahari terik tapi anginnya sejuk, adeeeem.

Kilo 12

Setelah puas foto, perjalanan kita lanjutkan lagi ke atas dengan melewati Pasar Kapan, nah di titik ini perjalanan sempat tersendat karena banyak kendaraan yang parkir dan berhenti di jalan, kita harus sabar bergantian lewat dengan kendaraan lain.

Setelah lewat Pasar Kapan, kondisi jalan mulai mulus dan lebih lebar dibandingkan dengan aspal sebelum nya, tapi karena baru diperbaiki, jalanan aspal ini belum mulus bersih, masih banyak sisa sisa pasir lepas di atasnya, jadi harus hati hati, apalagi jalurnya makin ekstrim nanjak nya. 

Jalan Mulus ke Fatumnasi

Alhamdulilah ya, trip kita ke Fatumnasi tertunda hingga jadinya bulan agustus, setelah jalanan selesai diperbaiki, padahal awalnya aku pesimis lho, enggak menargetkan sampai semua objek kita datangi, pokoknya semampunya kendaraan dah, kalau  misalkan kondisi gak memungkinkan lewat ya aku sih harus iklas untuk putar balik, eh tapi beruntung, aku kesini pas kondisi jalan udah bagus. Jadi buat teman teman yang khawatir akan rusaknya jalan menuju Fatumnasi, sekarang enggak perlu khawatir lagi. Kayak aku kemarin, selalu diselimuti perasaan khawatir karena dari semua blog yang kubaca yang membahas perjalanan ke Fatumnasi, semuanya bilang kalau jalannya jelek, menanjak, kelak kelok dan berbatu.



Titik Kedua : Hutan Pinus
Setelah pemukiman penduduk sudah tidak terlihat lagi, kondisi kanan kiri jalan yang kita lalui menjadi hutan, yang kayaknya sih ini pohon pinus ya, atau bukan ya? haha, enggak ada tulisan namanya sih disini. Nah karena bagus, ijo ijo, banyak pohon, dan banyak sapi yang bebas mencari makan disni, aku pun menghentikan kendaraan, dan turun ke hutan ini buat foto foto, kulirik jam di HP menunjukkan pukul 11.50 WITA

Suasana hawa sejuk yang kurasakan di area hutan ini. Siang ini bukan kita saja yang asyik fotoan disini, sebelum kita sudah terlebih dahulu datang rombongan menggunakan mobil double gardan yang sepertinaya sih lagi foto prewedding ya, terlihat dari kostum, alat dan barang barang serta aksesoris yang dibawa.

Pemandangan disini mengingatkanku akan Hutan Pinus Mangunan di Jogja, mirip sih suasananya, bedanya disana sudah dikelola menjadi objek wisata resmi, sedangkan disini enggak. Tapi justru itu yang membuat spesial, disini masih alami tanpa adanya bangunan bangunan warung dll.

Banyaknya sapi yang berkeliaran di Hutan ini membuat kita yang explore hutan ini harus berhati hati dalam melangkah, jangan sampai kita menginjak kotoran sapi, apalagi yang masih hangat segar, heuheuheu.


Titik Ketiga : Pesona Alam Usapikolen
Sebelum aku menjalani trip ini, aku sering banget liat foto dengan backround seperti foto di atas ini, namun bedanya, kondisi jalannya yang masih tanah berbatu. Nah saat aku berkendara sampai ke titik ini, aku langsung menghentikannya, dan tentu saja fotoan juga donk disni.

Kemudian aku tertarik dengan bukit hijau di sebelah kananku berdiri ini, yang sangat fotogenik dengan adanya 1 pohon di lereng bukitnya, aku pun mencoba naik ke bukit itu untuk melihat pemandangan dari atas. Wohoooo ternyata pemandangan dari atas sini bagus banget, dan kondisi di bawah pohon yang aku sebut tadi tuh teduh dan nyaman banget, aku pun langsung memutuskan untuk menjadikan bukit ini sebagai spot makan siang, karena kebetulan juga ini pas pukul 12.50 WITA.


Langsung aku turun balik ke mobil dan mengangkut segala jenis makanan dan minuman yang sudah kita persiapkan dan bawa dari Kupang, serta tentu saja kain buat alas duduk ala ala piknik gitu.

Rupanya cukup menguras tenaga juga nih balik lagi ke atas bukit sambil menggendong bayi dan membawa tas berisi makanan, heuheuheu. Sesampainya di bawah pohon itu, kita langsung gelar alas duduk, dan makan siang. Huaaaaah, udah lapar banget cui.


Luar biasa suasana makan siang kita hari ini, meski dengan menu yang sederhana, jadi terasa luar biasa karena disuguhi pemandangan alam yang luar biasa. Selain ramai oleh truk truk yang lewat membawa material untuk pengerasan jalan, jalan yang kita lalui juga ramai dilewati anak anak yang baru pulang sekolah, sekali lagi mereka tuh ramah ramah banget lho, melihat kita lagi duduk di bawah pohon gini, mereka menyapa kita lho "Selamat Siang" gitu. Dan pas kulambaikan tangan, mereka pun membalas lambaian tangan juga.



Titik Keempat : Fatukolen
Perjalanan pun kita lanjutkan lagi dengan mengikuti jalan yang baru diperbaiki ini, hingga kita tiba di sebuah titik dengan hamparan rumput yang luas dan seonggok batu besar di tepi jalan. Tepat pukul 14.20 WITA kuparkirkan kendaraan di dekat batu itu.

Pas kita sampai sini, ada beberapa anak yang tiba tiba mendekat ke arah kita, kuhitung ada sekitar 3 atau 4 deh. Mereka pun dengan ramah menyapa kita, dan saat itu pula kutanya mengenai nama dari batuan besar di antara hamparan rumput hijau ini, kata mereka sih spot ini bernama Fatukolen.

Gak menyianyiakan waktu, kita pun langsung foto foto di dekat batu besar ini dimana di puncaknya terdapat 3 buah salib.




Spot Fatukolen tadi adalah titik terjauh yang kita lalui di trip ini, kita memutuskan enggak lanjut ke Fatumnasi karena kulihat alat alat berat sedang mengerjalan perbaikan jalan di jalur menuju Fatumnasi. FYI Fatukolen tadi itu secara administratif masih masuk wilayah Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, belum masuk ke wilayah Kecamatan Fatumnasi.

Titik Kelima : Batu Marmer Tunua
Spot kelima ini sebenernya lokasinya ada sebelum Spot Piknik Makan siang tadi itu, bahkan dari bukit tadi itu kita bisa melihat spot wisata batu marmer ini. Nah karena jalan menuju kesana itu masih jalan tanah, jadi aku sempat ragu tadi untuk keluar dari jalan mulus dan masuk ke jalan tanah, jadi aku skip dulu.

Baru dah setelah mentok di Fatukolen dan balik puter haluan lagi, aku pun mengarahkan kendaraan ke Wisata Batu Marmer tersebut. Untuk meyakinkan diri, sebelum masuk ke jalur tanah tersebut aku bertanya dulu ke warga setempat yang kebetulan sedang beraktivitas dekat sini. Menurut info beliau sih mobil bisa kok sampai lokasi, nah baru dah aku yakin untuk membawa mobil ini sampai sana.


Kondisi jalan tanah ini sempit, dan pastinya bakal susah dilewat kalau pas musim hujan, terlihat dari bekas ban yang menjejak di jalan ini, sudah lumayan dalam. Untungnya siang ini cerah, jadi tanah pun keras dan ban mobil bisa menggigit jalan dengan kuat.

Tantangan gak berhenti disitu, ternyata masih ada percabangan lagi, dari pertigaan terakhir ini jalan berubah menjadi semakin sempit (cukup untuk 1 mobil saja), berbatu, dan menurun. Turunnya sih enak, tapi ini nanti pas naiknya pasi susah ini, heuheuheu, tapi aku yakin aja sih, karena dulu udah pernah lewat jalan yang lebih parah dari ini pas kita Trip ke Pantai Selatan Amarasi.


Sebelum benar benar sampai ke lokasi batu marmer nya, ada bongkahan besar batu marmer yang bertuliskan identitas spot ini, dimana lokasi ini dahulunya dikelola oleh PT Sumber Alam Marmer dengan luas 10.5 HA. FYI sebenernya ini bukan tempat wisata ya, melainkan pertambangan batu marmer yang sudah ditinggalkan oleh penambangnya, kabarnya sih karena ada penolakan dari warga setempat. Namun karena sudah terlanjur beroperasi, bukit batu marmer disini sudah dipotong potong dan siap diangkut, sisa sisa bongkahan batu marmer ini masih banyak tertinggal di sini dan sekarang malah menjadi spot cantik buat foto foto.




 (Bersambung ke Trip Fatumnasi Part 2)



  



Share:

Blog Archive