29 June 2020

Pelabuhan Tenau : Sunsetnya Memukau


Akhir akhir ini Kota Kupang lagi cerah cerahnya, sunset pun selalu cantik tiap sore. Nah di weekend sore ini sebenernya sih kita enggak ada rencana buat jalan jalan, tapi tiba tiba aja muncul keinginan buat berburu pemandangan senja.

Selepas ashar, kita pun semua siap siap, berharap masih bisa menikmati proses terbenamnya matahari.

Tujuan kita sore ini adalah sekitaran pelabuhan tenau, dan jalur tercepat menuju kesana dari rumah adalah Jalur 40/Jalur XL. Sebuah jalan yang menghubungkan daerah Tenau dengan Bandara El-Tari Kupang. Jalan ini mulus, naik turun, dengan pemandangan yang cantik di beberapa titik, namun sayangnya belum dilengkapi penerangan jalan, kecuali di area jembatan petuk, jadi saat malam tiba harus lebih hati hati karena gelap gulita.

Nah dalam perjalanan ke tenau, kita berhenti sejenak di satu spot jalan lurus dengan kanan kiri pepohonan lebat, untuk sekedar foto foto, berhubung jalanan lumayan rame sore ini, kita harus menunggu kondisi jalan kosong biar lebih yahuuud hasil fotonya, yaaah harus banyak banyak sabar sih. Selain itu kita juga harus menutup muka, ya setidaknya hidung pas truk besar melintas, debunya itu lho, brrrrrr langung beterbangan.

Di titik ini kita tidak lama, dan langsung melanjutkan perjalanan ke ujung Jalur 40. Beberapa ratus meter dari titik pertama tadi, kita sampai di proyek pembangunan monumen pancasila yang udah lebih dari setahun mangkrak. Aku inget banget dulu pas pertama lewat jalur 40, kagum banget ama bentuk kepala burung yang belum jadi itu, berharap sih bakal segera jadi, eh ternyata itu proyek mangkrak. Sangat disayangkan ya, padahal kulihat anggarannya besar lho, hadeh... Ya sudahlah

sumber : antaranews.com
Di sekitar sini aku memberhentikan kendaraan, mencari spot untuk foto foto, tapi enggak menemukan sesuatu yang oke, dikarenakan banyak yang nongkrong di sini dan rimbunnya pepohonan di sekitar jalan, kalau dipaksakan foto sih pasti bakal kurang sip hasilnya.

By the way, dari jalan di depan monumen pancasila ini pemandangannya bagus banget lho, jadi ini khan posisinya miring gitu, jalanan menurun ke arah depan, nah view yang kita lihat di depan adalah laut gaes, plus pulau semau, sebuah pulau kecil di seberang sana.


Belum merasa puas, kita pun melanjutkan perjalanan lagi, dari ujung jalur 40 ini, kita ambil arah kanan menuju pelabuhan tenau, nah kalau misal ke arah kiri kita akan sampai ke Pelabuhan Ferry Bolok, Goa Kristal, PLN Bolok, dan Pantai Baliana.

Pelabuhan Tenau ini lokasinya tidak jauh dari pertigaan tadi, nah untuk bisa masuk ke pelabuhan tenau kita harus melewati loket masuk, untuk kendaraan kita membayar 6000 rupiah saja, dengan mendapatkan tiket/karcis resmi. Pas di loket ini, seorang petugas bertanya mengenai tujuan kita masuk ke pelabuhan, aku bilang aja sih cuma mau foto foto aja di bawah, tapi beliau sepertinya kurang menyukai tujuan kita ini dan bilang kalau kita bisa diusir nanti pas di bawah sana. Heuheuheu, tapi berhubung udah masuk, nanggung, kita lanjut masuk aja, coba aja dulu, toh tujuan kita bukan sesuatu yang negatif. Kalau diusir ya kita pulang


Btw aku sih udah pernah masuk ke areal pelabuhan tenau ini, beberapa waktu lalu saat mau menanyakan mengenai jadwal penyeberangan ke pulau pulau sekitar pulau timor ini, jadi setidaknya aku tahu titik mana aja yang bisa bebas dikunjungi orang umum.

Aku pun mengarahkan kendaraan ke arah kanan pelabuhan, menuju tempat pelabuhan kapal kecil yang ternyata salah satu tujuan penyeberangan kapal ini adalah ke Pulau Semau di depan sana, yang dimana pulau itu kelihatan jelas dari sini.


Di tempat aku berdiri ini, ada banyak hal yang bisa dilihat, di arah depan kiri terdapar kapal yang sedang melakukan bongkar muat BBM, di depan persis ini terdapat kapal kayu yang sedang menunggu penumpang untuk menyeberang ke pulau semau. Kapal ini bisa mengangkut manusia dan motor, tapi tidak untuk mobil. Jadi seru nih misal kita bisa nyebrang ke pulau semau rame rame ama temen, dan motoran keliling pulau pake motor sendiri, lebih hemat pastinya karena biaya cuma 25 ribu / orang (belum termasuk motor). Nah menurut info dari orang kapal, kapal ini juga bisa kita sewa/charter private untuk keliling sekitar pelabuhan ini dengan harga 300ribu rupiah saja.

Sedangkan di arah depan kanan jauh, terdapat proses bongkar muat kapal besar, menggunakan crane. Di sekitar aku berdiri ini juga terdapat beberapa ibu ibu penjual makanan dan minuman, konsumennya sih pastinya orang orang yang mau menyeberang ke pulau semau ya. Sedangkan di arah belakang atas jauh, bisa terlihat gedung berwarna biru yang merupakan kantor bea dan cukai. Aku pernah masuk kesana, wuih karena letaknya di tanah miring, jalan masuk ke kantor itu menanjak curam gaes, harus hati hati banget sih.


Selepas gelap kita pun beranjak pergi dari pelabuhan ini, dan alhamdulilah tidak terjadi hal yang dikatakan oleh penjaga loket tadi. Nah buat kalian yang mau "nyunset" juga di pelabuhan tenau, ini nih peta lokasinya :


.





Share:

22 June 2020

Ada Sasando Kuningan di Atas Taman Ina Bo'i Kupang


Pagi ini cuaca kupang lagi cerah cerahnya, plus weekend pula, enggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, aku pun mengajak pasukan buat jalan jalan pagi keluar rumah sarapan sambil bersantai di taman sambil berjemur buat panen vitamin D.

Aku memutuskan untuk beli makanan di luar saja, biar enggak ribet, dan enggak kesiangan. Pilihanku jatuh pada masakan cepat saji McD yang berlokasi di Jalan Lalamentik, Kota Kupang, selain karena ada menu sarapannya, kedai McD juga searah dengan taman yang akan kita tuju, ditambah ada menu khusus anak anak yaitu Happy Meal yang ada hadiah mainan nya, pasti si kecil makin happy donk ya. Setelah pesan lewat Drive Thru, kita pun langsung menuju Taman Ina Bo'i yang berlokasi di persimpangan Jalan Kartini - Jalan Veteran, di arah bawah Lippo Plaza Kupang.


Aku pilih Taman Ina Bo'i karena tempatnya yang masih baru (dibangun kembali/direhab bulan desember 2019), relatif lebih sepi dibanding taman nostalgia, dan tentunya banyak pepohonan dengan pemandangan yang aduhai. Namun karena berada di persimpangan jalan dan di tanah yang miring, taman ini kurang mempunyai lahan parkir yang kurang memadai, diisi 3 mobil aja langsung penuh parkirannya.

Berhubung kita cuma sendiri, jadinya bebas pilih posisi parkir, langsung aku posisikan kendaraan di bawah pohon agar teduh. Nah untuk tempat makannya, aku manfaatkan bagian belakang kendaraan/bagasi untuk duduk. Huaaa syahdu sekali pagi ini, sarapan bareng di taman, dengan pemandangan cantik, udara seger dan iringan suara daun bergesekan karena angin.



Sarapan semakin mantap dengan ditutup oleh segelas kopi hitam panas...

Seberes sarapan, sampah pembungkus makanan kita kumpulkan, lalu kita buang di tempat sampah yang disediakan, meskipun taman ini tidak terlalu luas, tempat sampahnya ada banyak lho, dan dipisah antara sampah organik dan anorganik.


Selain dipisah, kedua jenis tempat sampah itu juga dibedakan warna dan diberi penjelasan. Untuk yang an organik diberi warna kuning dan diberi penjelasan sampah apa aja yang termasuk an organik, seperti plastik, logam/kaleng, karet, kaca, PVC, kertas dll, sedangkan untuk sampah organik, tong sampahnya diberi warna hijau dan diberi penjelasan bahwa yang termasuk sampah organik adalah daun, ranting, buah, sisa makanan dan tulang ikan/ayam.

Semoga para pengunjung taman ini bisa mengindahkan pemisahan sampah ini ya, ya meskipun belum terbiasa memisahkan jenis sampah seperti di korea/jepang setidaknya buang sampahnya enggak sembarangan dah.

Nah untuk semakin menguatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya buang sampah pada tempatnya, di atas tempat sampah ini ditulis sanksi bagi yang melanggarnya, yaitu 6 bulan kurungan penjara /denda 50 juta rupiah. Wow mantap sekali ya sanksinya.


Nah ngomongin tentang patung ina bo'i nya. Disini ada tiga komponen utama patung yaitu Patung Sasando berukuran besar dengan tinggi 6 meter, patung seorang wanita yang sedang duduk di depan patung sasando besar tadi, dan sasando kecil di depan wanita itu dengan tinggi tiga meter.

Ketiga komponen patung tersebut terbuat dari bahan kuningan yang dikerjakan oleh seniman asal Jogja bernama Amboro Lireng menggunakan beberapa teknik seperti plestering, kenteng dan modeling. FYI buat yang belum tahu, sasando adalah alat musik khas NTT, khususnya daerah Pulau Rote yang dulu pernah juga dijadikan gambar di salah satu uang kertas rupiah, ini nih gambarnya :


Udah pernah liat dan pegang uang ini belom? Haha, kalau kalian lahir sekitar tahun 1990 pasti sudah pernah bertransaksi menggunakan uang ini deh. Tapi kalau kalian belum pernah dan penasaran, bisa kok beli di berbagai toko online.

Di bagian bawah patung ini terdapat tulisan besar Taman Ina Bo'i dengan warna paduan merah dan putih, kemudian di sebelah kanan terdapat 3 patung wanita yang berdiri dan sedang memegang sesuatu, entah apa itu, enggak terlalu memperhatikan sedangkan di sebelah kiri terdapat 3 patung wanita yang sedang menari menggunakan selendang.


Mantap lah taman ini sudah dibangun dengan cukup memuaskan, dan bisa jadi alternatif untuk masyarakat kupang nongkrong selain taman nostalgia yang sudah terkenal itu. Semoga tetap bersih dan tetap terawat.

***

Peta Lokasi Taman Ina Bo'i Kupang

.

Share:

15 June 2020

Digigitin Ikan di Kolam Pemandian Oemau Rote


Bulan Juli 2019, Pulau Rote lagi panas panasnya nih. Mau keluar siang siang aja jadi males, heuheuheu. Untungnya di dekat tempatku dinas ini ada kolam pemandian yang katanya airnya seger banget, airnya langsung dari mata air gitu, dan memang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mandi.

Di suatu sore setelah menyelesaikan kerjaan, kita bertiga pun langsung meluncur ke kolam tersebut, kolam pemandian ini bernama Oemau, masuk wilayah kelurahan mokdale, kecamatan lobalain, kabupaten rote ndao.


Parkiran cukup untuk menampung beberapa kendaraan, dan saat kita kesini tidak ada yang menjaganya, alias gratis, dan sudah ada 2 ibu ibu di salah satu ujung kolam yang sedang mandi.

Kolam ini berbentuk persegi panjang, dimana di salah satu ujungnya adalah sumber mata airnya, sedangkan ujung yang lain adalah saluran keluar air.



Di area parkir kendaraan ada beberapa plang/plakat, salah satunya bertuliskan "Oemau Village Water Supply", ini yang bikin aku kaget, ternyata pembanguan tandon air di kolam ini didanai oleh donasi dari USA pada event Pacific Partnership tahun 2014 lalu. Selain itu di sebelahnya terdapat plakat/prasasti Penanaman Pohon Lana di area sekitar kolam ini yang ditandatangi oleh Bupati Rote Ndao, Drs Leonard Haning dan Maneleo Kunak Nusak Ba'a, John B Ndolu pada tanggal 20 April 2017.


Saat kucoba buat nyemplungin kaki ke airnya, weh ternyata gak sedingin yang kukira. Untuk air kolam ini bisa dibilang sih cetek, kalo misal mau loncat ke airnya ya siap siap aja kaki kebentur tanah/batu di bawah, heuheuheu. Akhirnya aku pun nyebur pelan pelan.

Bening banget kolam ini, coba aja kita tadi bawa kacamata renang atau alat snorkling, wah pasti lebih seru nih, apalagi kan di kolam ini banyak ikannya.


Ikan dsini bukan sembarang ikan nih, bukan ikan warna warni pula, tapi ikan kecil kecil yang sama seperti di tempat "Fish Spa" itu lho, yang suka makanin sel sel kulit mati.

Jadi kalau kita berdiri atau duduk diam di kolam nya, kaki kaki kita akan dicium cium ikan ini, awal nya sih geli geli gimana gitu, tapi lama lama lha kok enak ya, haha. Enggak sakit seperti yang kukira.


Meskipun tadi awalnya enggak dingin, tapi lama lama berendam disni dingin juga ya , heuheuheu. Sebelum maghrib tiba, kita pun segera bergegas naik dari kolam. Nah karena disini enggak ada fasilitas ganti baju, kita pun ganti baju dengan memanfaatkan penghalang pandangan pake pintu mobil.

Nah buat kalian yang lagi di Pulau Rote dan pengen kegelian juga, silakan meluncur ke Kolam Pemandian dan Mata Air Oemau, ini nih Peta Lokasinya :


.
Share:

8 June 2020

Laper Nih Boss, Yuk ke Hungry Boss

Hungry Boss (Laper Boss)? Heuheuheu, paduan dua kata yang catchy banget untuk menjadi nama tempat makan. FYI saat ini (Maret 2020) setidaknya ada 3 tempat makan di Kota Kupang yang menggunakan kata Boss, ada Warung Pak Boss, Warunk Bossku dan yang paling baru ini Hungry Boss, belum termasuk merek lain yang selain tempat makan, contohnya Barber Boss.


Nah sebelum adanya pandemi Corona dan Himbauan untuk tetap di rumah aja (WFH), di awal Maret 2020 aku sempet nyobain steak di kedai yang belum lama buka ini. Yuph Nama kedainya adalah Hungry Boss?? Resto. Lokasinys strategis banget lho, di Jalan Piet A Tallo, Liliba Kupang, yang merupakan jalan utama menuju Bandara El Tari dari pusat kota kupang, tidak jauh pula dari Bundaran PU (Bundaran Tirosa) yang selalu ramai menjadi tempat nongkrong warga Kupang.


Berada dalam 1 los bangunan ruko, resto ini memang tidak terlalu luas, namun di dalam ada tangga ke atas, entah di atas dipakai untuk meja kursi tamu atau enggak, aku enggak menanyakannya. Di bagian teras depan kedai, ada stand Boba (kamsia boba), memang akhir akhir ini minuman boba lagi ngehits, khususnya di Kupang, ada beberapa merek baru yang masuk ke kota kupang. Sedangkan di sebelah kedai ini ada toko roti Borneo, yang merupakan brand pemilik kedai ini, hal ini bisa dilihat di billboard depan kedai dan di kertas menu makanan, disitu tertulis "by Borneo Bakery"

Kita datang pukul 11.00 WITA, tepat di jam mulai operasional kedai ini. Terlihat beberapa pegawai sedang sibuk menata dan merapikan berbagai hal di dalam kedai, kita pun disambut dengan ramah oleh salah satu pegawai yang membukakan pintu kedai, dengan senyum nya beliau mengucapkan "selamat datang".




Hari ini kita adalah pelanggan pertama, aku langsung nyari tempat duduk di bagian dalam yang dirasa paling nyaman, sejurus kemudian kita pun dibawakan selembar kertas menu laminatingan. Menu yang disajikan disini memang tidak banyak, cukup satu lembar saja dan mengkhususkan diri sebagai resto steak. Ada beberapa steak yang disediakan yang dibagi dalam 2 kategori yaitu original dan crispi.

Untuk yang crispi terdiri dari 3 pilihan yaitu Steak Ayam, Sapi dan Ikan Dori, dengan pilihan saus Jamur, Lada Hitam dan Original, untuk karbohidratnya bisa pilih kentang atau nasi putih.

Untuk yang original ada 3 pilihan yaitu tenderloin, sirloin , lidah dan ayam. Pilihan sausnya sama dengan yang crispi sedangkan untuk karbo nya bisa pilih ubi atau kentang, dengan tambahan sayur.

Selain menu utama steak, kedai ini juga menyediakan menu bowl dengan rincian yang bisa kalian lihat di kertas menu di bawah ini. Plus menu minuman nya.


Aku sih enggak berharap atau berekspektasi tinggi akan steak di sini ya, melihat harganya yang terjangkau, cuman ya memang lagi pengen makan steak aja, dan kebetulan ada resto baru. Nah berhubung ada pilihan tenderloin, jadinya aku pesen yang terderloin, dengan karbo kentang dan saus lada hitam. Emaknya anak anak pesen yang ayam crispi dengan karbo kentang dan saus jamur. Sedangkan si kecil aku pesenkan nasi goreng bowl dengan daging ayam crispi, saus mentega dan tanpa sambal

Melihat gambar gambar sajian steak di dinding kedai ini rasanya bikin ngiler banget deh, dagingnya tebal, dengan saus yang dipisah dan terbentuk pola garis garis di dagingnya akibat digrill, beuhhhh bener bener menggugah selera. Terbayang bayang steak nya Holycow.. tapi khayalanku tiba tiba sirna pas inget harganya yang sepertiganya, dan gambar yang tertera di kertas menu, Heuheuheu.


Gak perlu lama menunggu, pesanan pun tiba, yang pertama adalah steak pesenanku yaitu tenderloin dengan saus lada hitam yang presentasinya seperti pada foto di atas, menggunakan nampan kayu, hot plate hitam yang di atasnya terdapat daging sapi dengan guyuran saus lada hitam, disajikan bersama potongan kentang, jagung, wortel dan buncis, huaaaa jadi inget steak di warung SS yang udah lama bangeeeeet enggak aku makan, heuheuheu. Rasanya sih standar ya, sama lah dengan warung  warung steak pada umumnya, cuman sayangnya tadi pas pesen ditanya mengenai tingkat kematangan, aku pesen yang medium, tapi ini datangnya well done.



Untuk steak crispi nya menurutku sih harus segera dihabiskan ya, karena kalau kelamaan bakalan enggak crispi lagi karena udah terbalut sausnya, heuheuheu. Overall untuk kedua steak, rasanya enak, bisa diterima dengan lapang dada oleh lidah lokal. Cuman kalau kalian udah terbiasa makan steak di resto mahal nan mewah ya pasti bakal ngerasa gak cocok. Untung kita cocok cocok aja, lagi laper pula.

Untuk Menu Bowl nya, bisa kalian lihat sendiri di foto di atas, nasi goreng putih dengan topping ayam crispi, potongan tomat dan timun serta telur ceplok. Eh btw tadi di menu enggak ada tulisan telur ceploknya lho, tapi di penyajian ada telur ceplok nya, heuheuheu. Mantap, anak anakku sukak.

Nah pas pembayaran, ternyata baru bisa cash nih, belum bisa pake kartu debit/kredit, lah padahal aku lagi gak bawa uang cash banyak nih, tapi untungnya bisa transfer donk, heuheuheu, alhasil aku bayarnya pake transfer bank, tapi karena beda bank, kena tambahan biaya 6.500 dah

***

Peta Lokasi Hungry Boss Kupang

.




Share:

1 June 2020

Subasuka Paradise - Pantainya Penuh Lumut Hijau


Kalau dulu aku pernah nulis tentang restoran dan Capel di  Subasuka Paradise Kupang, kali ini aku mau nulis tentang pantai yang berada di bawahnya, jadi dulu tuh pas makan di resto nya, kita bisa tuh lihat pemandangan pantai di bawah, kebetulan waktu itu lagi sore, waktunya sunset dan ramai, aku cari cari jalan ke bawah enggak ada. Ternyata jalan ke bawahnya ada di pintu masuk subasuka yang satunya, enggak jauh sih, cuman males aja kalau jalan kaki, heuheueheu.

Nah beberapa bulan berikutnya, saat sore sore waktunya sunset, aku sengaja ke Pantainya Subasuka buat sunset-an dan ngajakin si kecil buat main main pasir.


FYI, komplek subasuka ini terdiri dari beberapa lini bisnis usaha, ada Subasuka Paradise yang merupakan Tempat Makan plus ada Capel nya, kemudian ada Subasuka Gallery yang menjual pakaian dan sejenisnya, dan yang terakhir ada Subasuka Waterpark. Nah pintu masuk ke pantainya ada diantara Subasuka Gallery dan Subasuka Waterpark.

Ada pos satpamnya di pintu masuk, namun saat aku masuk enggak ada yang jaga, dan memang tidak ada tiket masuk nya. Untuk parkir, disediakan dan lumayan luas.

Masih di area parkir, ada spot dengan pancuran di tengahnya dan dikelilingi pagar, nah dari pagar itu kita bisa menikmati pemandangan pantai di arah bawah, sedangkan di arah kanan juga terlihat jelas Cana Chapel dan spot Flying Fox yang start dari area Subasuka Paradise dan finish di area Subasuka Waterpark. 


Setelah puas menikmati pemandangan dan foto foto di sekitar pancuran, kita pun mencoba untuk turun ke pantainya.

Jalan menuju pantai ada di sebelah kiri dari foto di atas itu, sudah dibuat tangga untuk turun, namun harap berhati hati ya karena di tangga itu ada pasir yang bisa bikin tergelincir.

Kondisi pantai sore ini sedang surut surutnya nih, jadi kita bisa jalan jalan bebas di pasirnya, namun surutnya air itu meninggalkan lumut hijau yang kurang oke. Sebenernya pengen sih jalan sampai ke tengah, tapi karena harus melewati lumut hijau itu, enggak jadi deh, heuheuheu



Di sekitar lumut lumut hijau kita cuma sebentar, sekedar foto foto selfie dan bareng bareng, habis itu jalan balik ke tepian nyari pasir yang bersih dan bebas dari lumut lumut. Eh by the way, ternyata oke juga nih spot buat foto foto, ada background Cana Chapel yang bentuknya mencolok diatas bebatuan.

Disitulah kita duduk duduk santai, ngemil, bercengkerama sambil menemani si kecil bermain main.


Entah kenapa ya sore ini sepi banget, padahal biasanya sepengetahuanku pantai ini tuh rame lho, apalagi sore sore pas weekend gini, cerah pula. Tapi ya berhubung sepi, justru malah asik sih buat foto foto, heuheuheu, bebas cari spot, layaknya pantai pribadi.

Gak banyak sih yang bisa dilakukan disini, lha banyak lumutnya je, males juga buat jalan jalan keliling pantai, lumutnya tuh kalau diinjek jadi ambles gitu, sandal/sepatu pasti jadi kotor.



Sebenernya sore ini cerah banget lho, tapi sayang sekali di arah barat sana banyak awan, sehingga sesaat sebelum sunset tuh, mataharinya udah tertutup awan, alhasil Zonk sunset nya.

Setelah si kecil puas main, sebelum gelap, sebelum maghrib, kita pun cabut dari pantai ini. Coba aja pantainya bersih dari lumut ya, pasti bakal lebih seru nongkrong sore disni, entah ini memang lagi musim lumut atau memang seperti ini terus ya, next time aku bakal balik kesini lagi buat sunset-an, deket rumah sih :)
Share:

25 May 2020

Bamboo Village : Resto Cantik yang Ditinggalkan


Waktu itu tuh aku lagi iseng iseng buka buka google maps, lupa pas itu tuh lagi nyari apa, yang jelas aku lagi buka wilayah sekitar Oesao, Kab Kupang. Nah secara gak sengaja aku nemu sebuah tempat makan yang tersembunyi, jauh dari jalan raya dan jauh dari keramaian, nama yang tercantum di Google Maps tuh Bamboo Village, Restaurant dan Pemancingan. Wohohohoho, talalu keren lah namanya untuk sebuah tempat di spot ini.


Langsung aku klik titik itu dan baca baca review serta lihat foto foto yang diupload oleh para "Local Guide" yang udah pernah kesana. Dari situ kudapat info bahwa tempat ini lumayan nyaman untuk makan rame rame, dengan pemandangan indah, banyak gazebo dengan kolam ikan di tengahnya, bisa mancing dikolamnya, ada banyak burung merpati, dan ada pula kandang kelinci, yang jelas seru lah pastinya ngajak anak anak kesana.

Meluncurlah kita kesana hari Minggu jam 3 sore, sengaja aku pilih waktu sore biar pas sampai sana suasananya lebih sejuk, enggak seperti pas ke Bendungan Raknamo, siang bolong kepanasan. Heuheuheu.

Pagupon

Aku mempercayakan rutenya pada google maps, aku ikutin aja jalurnya, dari pusat kota kupang aku menyusuri jalan timor raya yang merupakan jalur utama kupang - soe - atambua - timor leste. Sore itu kondisi lalu lintas bisa dibilang lancar ya, cuaca juga cerah, kupacu kendaraan dengan laju yang sedang sedang saja.

Perjalanan yang tenang dan lancar ini berakhir di pertigaan di daerah Oefafi, patokannya 300 meter setelah Alfamart Oefafi. Sesuai arahan google, aku belokkan kendaraan ke arah selatan/belok kanan memasuki jalan aspal yang kurang mulus, tapi untungnya datar enggak naik turun.


Jalan aspal perkampungan ini kulaui sejauh 2,5 km, hingga akhirnya google mengarahkan kita untuk belok kiri keluar dari aspal dan memasuki jalan tanah. Nah disini semakin seru nih, jalanan tanah sehabis hujan yang becek ini membuat kendaraan kita sedikit bergoyang goyang, untungnya sih enggak menanjak ya, jadi enggak khawatir ban selip. Enggak seseram pas perjalanan ke pantai selatan pulau timor dah, heuheuheu, ngeriiii.

Aku yakin melanjutkan perjalanan ini karena dari jalan tanah yang kulaui ini banyak jejak kendaraan, termasuk jejak ban mobil yang masih baru, belum rusak oleh hujan. Padahal saat itu istri udah mulai ragu bahwa restoran ini masih buka melayani pembeli.

Jalan tanah sejauh 1 km ini berujung pada sebuah tanah yang lumayan lapang dengan banyak petak kolam ikan dan bangunan restoran dengan beberapa gazebo. Kulihat dari jauh resto ini sudah tidak ada kegiatan, pagar tertutup, dan ya ternyata memang tutup.


Tapi kita disini enggak sendiri, ada beberapa motor yang parkir dan ada sekelompok pemuda pemudi yang sedang asyik foto foto di area resto ini.

Kecewa sih kecewa, udah jauh jauh buat nyari tempat makan eh ternyata Zonk, heuheuheu, tapi aku masih tetep penasaran sih ama area restoran ini.

Untuk mengobati rasa penasaran itu, aku pun mencoba turun dan melihat lihat sekeliling tempat ini. Sejenak turun dari kendaraan kulihat ada seonggok besar kotoran sapi yang masih agak basah, yaaa bisa dipastikan ini jalur penggembalaan sapi yang memang banyak terlihat di sekitar jalur tanah yang kulewati tadi.

Seperti layaknya di Taman Kanak Kanak, di halaman resto terdapat alat permainan yang pernah kumainkan dulu waktu kecil seperti ayunan, perosotan, jungkat jungkit dan arena panjat memanjat. Di samping alat alat ini ada beberapa rumah burung merpati (pagupon) dengan burung merpatinya yang banyak banget, aku rasa sih rumah rumah ini enggak mungkin cukup untuk ditinggali mereka semua, burung burung ini terlihat bertengger di sekitar pagupon , tapi sebagian besar justru di tanah kosong di sebelah nya, dan kulihat juga kandang kosong bekas kandang kelinci yang pernah kulihat di foto di google maps.


Di bagian tengah terdapat kolam yang luas dengan dikelilingi gazebo, masih terlihat bagus sebenarnya, bisa dibuat duduk duduk nongkrong. Sedangkan bangunan restonya juga masih terlihat bagus, kusi meja masih tertata rapi tapi terlihat jelas kalau resto ini sudah ditinggalkan pemiliknya agak lama. Waaaah sangat disayangkan, padahal bagus banget lho pemandangannya, sejuk, adem, banyak burung merpati, dan tentunya nyaman.

Ya sudah setelah puas foto foto kita pun langsung balik cabut ke Kota Kupang, udah laper gaes, tadi khan kesini memang sengaja mau cari makan, heuheuheu.

***

Peta Lokasi Bamboo Village Restaurant, Kupang



Share:

18 May 2020

Mampir Sebentar ke Embung Oelpuah, Kabupaten Kupang


Menurut Wikipedia, Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.


Aku tahu istilah embung tuh waktu masih di jawa dan kukira dulu tuh "embung" adalah kosakata bahasa jawa, eh ternyata di kupang juga banyak embung nya, heuheuheu. Memang di tanah timor ini embung tidak se hits di jawa yang sudah menjadi tujuan wisata.

Salah satu embung di Kupang yang enggak sengaja kutemuin dan kukunjungi adalah Embung Oelpuah, yang terletak di Manusak, Kab Kupang. Waktu itu aku rencananya tuh mau jalan jalan ke Bendungan Raknamo, nah dalam perjalanan kesana pas hampir nyampai ke tujuan, di sebelah kanan aku melihat genangan air yang tidak terlalu luas, dengan papan nama bertuliskan Embung Oelpuah, di sekitar situ banyak sapi dan ada beberapa orang yang sedang duduk duduk santai.


Saat lewat itu aku enggak langsung mampir, melainkan ke Bendungan Raknamo dahulu nah baru pas jalan pulang, kita mampir bentar deh ke Embung Oelpuah.

Embung Oelpuah ini terlihat sangat kecil setelah aku mengunjungi Bendungan Raknamo yang waduknya/area airnya luas banget. Namun menurutku suasana di sini lebih nyaman dan lebih cantik untuk foto foto. Karena embung ini dikelilingi oleh pohon tinggi yang kayunya tuh berwarna putih, terlihat seperti pohon yang dikelupas kulit luarnya, yang biasanya berwarna coklat dan bertekstur kasar.


Pohon seperti ini pernah kulihat di belakang kantor bupati timor tengah selatan, di jalur menuju taman rekreasi bu'at soe dan di jalur menuju Pantai Tablolong, Kupang.

Untuk duduk bersantai tidak perlu bingung, karena sudah disediakan beberapa tempat duduk. 


Untuk area genang air nya, sebenarnya dikelilingi pagar kawat berduri, namun di salah satu titik ada yang membukanya, sehingga kita bisa masuk mendekat ke airnya, bahkan pas aku kesini ada satu pemuda yang sedang mencuci motor di tepian embung. Entah apa yang ada di dalam embung itu, mungkin ada sih ikannya, tapi aku enggak melihat ada orang yang memancing. Yang jelas sih enggak ada buayanya.


Nah kalau kalian pas jalan jalan ke Bendungan Raknamo, wajib banget kalian mampir sini deh pas pulangnya. Saranku sih datangnya pas musim penghujan, jangan kemarau, biar suasananya lebih seger, lebih ijo ijooo. Oia karena disini dijadikan tempat penggembalaan sapi, harus hati hati , kadang ada ranjau kotoran sapi yang masih segar di area embung ini.

Masih ada satu spot sih yang bikin aku penasaran, yaitu sebuah bukit cantik di balik embung oelpuah ini, orang menyebutnya bukit manusak, dari jauh tuh kelihatan seperti bukit teletubies gitu deh, dengan pohon pohon lontar di sekelilingnya. Next time mungkin aku bakal mampir kesana.

***

Peta Lokasi Embung Oelpuah, Kupang, NTT


.


Share:

Youtube

Blog Archive