16 October 2018

Beberapa Hal yang Mempengaruhi Harga Sewa Mobil


Menyewa mobil menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan oleh masyarakat terutama Indonesia untuk bepergian. Meskipun harus mengeluarkan budget yang tidak murah, namun menyewa mobil bisa dibilang pilihan yang tepat untuk kebutuhan transportasi keluarga. Biasanya menyewa mobil dilakukan bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi namun malas menggunakan angkutan umum. Saat ini juga telah banyak perusahaan yang menawarkan jasa sewa mobil untuk mudik maupun untuk sekedar berlibur. Mobil yang ditawarkan pun juga beragam. Mulai dari mobil dengan ukuran sedang hingga yang berukuran besar untuk memuat banyak orang. Untuk keperluan mudik, biasanya yang paling banyak dicari adalah mobil dengan kapasitas besar karena biasanya saat mudik orang-orang akan membawa banyak barang utnuk oleh-oleh keluarga di kampung halaman. Harga yang ditawarkan juga bervariasi, tergantung dengan mobil yang digunakan serta waktu sewa mobil. Untuk para konsumen yang ingin menyewa mobil, sebaiknya tidak tergoda dengan perusahaan yang menawarkan harga murah. Konsumen juga harus lebih pintar dalam memperhatikan nilai yang didapatkan dari perusahaan yang akan menjadi tempat sewa mobil. Terutama yang harus diperhatikan yaitu keamanan, keselamatan, serta kenyamanan dari kendaraan yang akan disewa. 

Harga sewa mobil biasanya ditentukan oleh beberapa hal seperti jenis mobil, lama penggunaan mobil, serta waktu. Setiap jenis mobil memiliki harga sewa yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah muatan yang dapat ditampung oleh mobil tersebut. Biasanya semakin besar mobil, maka harganya juga semakin tinggi. Beberapa jenis mobil yang ditawarkan antara lain Avanza, Xenia, Livina, Innova, dan lain-lain. Biasanya untuk jenis mobil Innova dibanderol dengan harga Rp 400 ribu per harinya. Harga ini akan berbeda apabila yang digunakan jenis mobil Innova dengan ukuran yang lebih besar, yaitu ditawarkan dengan harga Rp 1 juta per hari. Sedangkan untuk jenis mobil Avanza dihargai Rp 350 ribu per hari. Sedangkan untuk jenis mobil city car seperti Ayla, Brio, dan Agya ditawarkan dengan harga Rp 250 ribu per hari. Selain dihargai per hari, jasa sewa mobil juga menawarkan harga paketan, mingguan maupun bulanan. Seperti untuk mobil jenis Avanza atau sejenis MPV, untuk paket 10 hari dibanderol dengan harga Rp 5 juta. Tersedia juga paket lain yaitu untuk mobil jenis Innova ditawarkan dengan harga Rp 7 juta untuk 10 hari. Tarif ini sama untuk jenis mobil Avanza. Harga yang ditawarkan tersebut belum termasuk ongkos supir maupun bensin.

Konsumen juga harus memperhatikan waktu untuk menyewa mobil. Hal ini dikarenakan sewa mobil pada hari biasa harganya akan jauh berbeda ketika harga sewa mobil pada saat lebaran. Tentu saja sewa mobil pada saat lebaran harganya akan jauh lebih mahal dibandingkan pada hari biasa. Hal ini disebabkan pada hari lebaran banyak orang yang menyewa mobil sehingga jumlah mobil menjadi semakin langka. Biasanya harga yang ditawarkan saat lebaran naik dua kali lipat dibandingkan pada saat hari biasa. Begitu juga untuk ongkos supir maupun bensin juga mengalami kenaikan pada saat lebaran. Jika di hari biasa ongkos supir ditawarkan dengan harga Rp 150 ribu per hari, maka pada saat lebaran ongkos supir bisa menjadi Rp 250 ribu per hari. Tariff yang ditawarkan tersebut belum termasuk ongkos untuk makan supir yang tentunya juga harus ditanggung oleh para konsumen. 

Share:

Cerita dari Tanjung Aan dan Bukit Merese


Dengan berbagai permasalahan yang ada, kawasan Mandalika cukup lumayan lama berbenah. Namun alhamdulilah sekarang, jalan jalan udah lebar dan mulus, fasilitas umum ditambah (tempat bilas), pembangunan beberapa hotel mewah, serta udah ada masjid besar bernama Masjid Nurul Bilad.

Namun itu semua hanya di sekitar pantai Kuta Mandalika saja, berbeda kondisinya dengan pantai Tanjung Aan dan sekitarnya, Jalannya sebagian besar masih rusak dan yang paling mengganggu adalah tembok panjang yang membentang sepanjang pantai dari Bukit Merese, sumpah deh nih tembok ganggu banget, enggak segera dilanjutkan pembangunan lagi, dibiarin gitu aja.


Beberapa hari yang lalu, aku menyempatkan mampir ke Pantai Tanjung Aan, setelah setahunan lebih enggak kesana, heuheuheu. Sudah sering sih mendengar cerita mengenai tembok panjang itu, hingga akhirnya aku melihat sendiri.

Untuk masuk ke tanjung aan di bagian kaki bukit merese, kita dipungut biaya 10rb rupiah/mobil, enggak menghitung isi orang nya berapa, pokoknya semobil 10rb. Kendaraan kita parkirkan di deket jalur pendakian ke Bukit Merese, dari portal masuk tadi ke parkiran ini, dahulu pemandangannya bagus lho, pantai indah dengan pasir putih, tapi sekarang pemandangannya tembok, heuheuheu.

Dari parkiran, kita berjalan kaki untuk menuju pantai yang berada di balik tembok ini. Ada lobang kecil di tembok itu (entah siapa yang melobangi), kita harus nunduk (bener bener nuduk) untuk bisa masuk, sedangkan si kecil bisa langsung masuk aja, karena tinggi lobang ini sekitar 5cm di atas kepala si kecil.

Yuhuuuu, akhirnya kita sampai juga di pantainya....




Suasana Tanjung Aan di bagian ini paling uenaak dah, karena teduh, banyak pohon nya, sehingga kita bisa goler goler tiduran di pasir sambil menikmati suara deru ombak. Kita goler goler dulu karena saat sampai sini masih lumayan terik, yaa sekalian istirahat lah ya.

Walaupun sebenarnya nyaman, namun ada 3 hal nih yang sedikit mengganggu.

Yang pertama adalah banyaknya sampah, baik itu sampah organik (rumput laut) maupun bungkus bungkus makanan. Sampah organik ini disebabkan karena akhir akhir ini ombak lagi besar, jadi banyak terbawa sampai tepi pantai, sedangkan sampah bungkus makanan, yaaa seperti biasa disebabkan oleh wisatawan yang gak peduli ama sekitarnya, padahal ada lho tempat sampah di sekitar sini.

Yang kedua adalah banyaknya anjing, entah ini anjing liar atau anjing milik warga sekitar yang membuka warung di sekitar pantai. Kehadirannya lumayan mengganggu sih, suka mendekat dekat, apalagi kalau kita sedang makan semacam daging2an... Terus juga suka berkelahi mereka, suaranya itu lho, serem cui..

Yang ketiga adalah para penjaja gelang dan kain. Pekerjaan mereka sebenernya mulia sih, berjualan, mencari uang dengan cara yang halal. Namun beberapa orang/wisatawan bisa jadi bakal terganggu dengan cara mereka berjualan, karena sedikit memaksa sih. Beneran deh. Dan aku pernah ngalamin dulu, awalnya khan karena kasihan, yaudah aku beli dah gelangnya (walaupun nanti enggak bakal kupake sih), nah pas milih milih, eh temen temen nya sesama penjual gelang (semua anak anak di bawah 10 tahun) tiba tiba datang menyerbu, dan pengen dibeli juga barang dagangannya, heuheuheu.... Berabe khan..

***

Semakin sore, air laut terlihat semakin surut. Tumbuhan laut berwarna hijau yang awalnya tadi enggak kelihatan terendam air laut, sekarang menjadi terlihat. Dan sejurus kemudian, beberapa inaq2 (ibu ibu) dan anaknya dengan membawa alat pencongkel menunduk nunduk menyusuri tumbuhan/rumput2 laut tersebut, hoho ternyata mereka sedang mencari kerang untuk dikonsumsi. By the way bila kalian pernah nonton serial drama korea "What's Wrong with Secretary Kim" , nah ada tuh adegan lagi nyari kerang seperti ini, heuheuheu.



Lalu perjalanan kita lanjutkan dengan mendaki bukit merese, niatnya sih mau sunsetan. Sampai di atas, ternyata udah rame banget cui, ada yang lagi syuting pula, adegannya adalah Perang Peresean, lengkap dengan penabuh alat musiknya. Enggak tahu sih itu syuting apa, aku enggak nanya, cuma menikmati saja. Bukan hanya wisatawan lokal yang nongkrong dsini, wisatawan mancanegara pun banyak. Mereka duduk duduk sambil foto foto, sekaligus menanti terbenamnya matahari.




Niat untuk sunset-an ternyata pupus, heuheuheu, si kecil rewel minta pulang, ya sudah daripada nangis, kita akhirnya beranjak dari tempat ini, berjalan turun menuju parkiran dan pulang....
Share:

11 October 2018

Nuf'Said : Warung Sederhana Diantara Resort Mewah


Nuf'Said adalah sebuah warung sederhana diantara hotel hotel/resort mahal di Pantai Mangsit, Lombok Barat. Lokasi yang strategis, membuat warung ini banyak dikunjungi bule bule dan wisatawan, terutama yang menginap di hotel2 sekitar sini, sebut saja ada Katamaran Resort, Holiday Resort, Verve Villa, Qunci Villa, Sudamala, Purimas, dan Jeeva Santai. Ya mungkin aja mereka bosan dengan menu hotel atau memang nyari makanan dengan harga yang miring, tapi tetap dengan view yang wokeee.

Jalan masuk ke warung ini cukup sempit , berupa jalan kecil diantara Verver dan Holiday Resort, tapi cukup untuk dilewati kendaraan roda 4. Untuk parkirannya lumayan luas, karena di sini berupa tanah kosong yang banyak pohon kelapanya, ya semacam kebon kelapa gitu dah

Kita sampai ke warung ini udah lumayan sore sih, bisa dibilang telat lah untuk menikmati sunset, ya biasalah jalan menuju senggigi dari kota mataram pasti macet kalau minggu sore, apalagi tadi ketemu nyongkolan (adat pernikahan) di jalan, heuheuheu. Kondisi warung udah lumayan ramai, tapi untung saja masih ada kursi kosong di pojokan utara.



Berbeda dengan cafe cafe lain nya, warung ini bener bener sederhana deh, meja kursinya dari kayu dan bambu, atapnya juga dari daun, sedangkan dinding warung nya juga dari kayu kayu, pokoknya serba coklat deh... 

Menu yang disajikan warung ini utamanya adalah seafood bakar bakaran (grill), tapi berhubung kita cuma mau nongkrong sore sambil sunsetan, kita enggak order menu seafood, cuma menu menu ringan aja, seperti mie kuah, kentang goreng, banana split dan kelapa muda. Padahal menurut kabar kabar yang beredar , barakuda bakar nya enaaaak lho... Next time dah kita bakal cobain..


Nah sambil menunggu pesanan disiapkan, kita main main pasir dulu donk ama si kecil, karena memang sudah merencakanan dari awal, jadinya persiapan bawa mainan pasir dan mobil mobilan. By the way udah lumayan lama dia gak main pasir, heuheuheu seneng banget dah.

Sementara itu matahari dengan cepatnya menuju cakrawala, pemandangan sunset sore ini lumayan cantik, ditambah lagi surut, jadi kelihatan batu batuan nya. Namun sayang, di arah barat banyak awan, matahari nya menghilang ditelan awan deh.

Kalau diperhatikan, pasir di sini unik deh. Berwarna hitam untuk yang di bagian atas (termasuk yang deket warung) tapi berwarna putih di garis pantai nya, jadi ada dua jenis pasir gitu deh. Oia di pinggiran sini juga banyak terdapat bekas rumah keong dan kerang2 kecil, serta pecahan terumbu terumbu karang, wah sepertinya di bagian agak tengah bagus nih buat snorkling.. (sepertinya sih)


Gak berapa lama, orderan makanan pun datang. Langsung dah kulahap mie kuah nya (kalau dalam menu sih namanya Soup Mie). Eh ternyata bukan mie kuah biasa (mie instant) ini bumbunya racikan sendiri deh, enggak terlalu kuat, agak cenderung hambar, untung ada saus dan sambal, jadi lebih kerasa. Untuk pelengkapnya ada potongan buncis, kubis dan wortel mentah, telur rebus setengah matang, serta suwiran daging ayam, cocok sih dimakan sambil menikmati angin pantai yang dingin.

Sedangkan si kecil dengan lahapnya menikmati banana split, yaitu pisang dengan topping es krim coklat. Btw awalnya kita pesan pisang goreng lho, eh ternyata kosong kata pramusaji nya. Yaudah akhirnya kita pesan deh banana split. Pas disajikan, potongan pisang nya itu pisang goreng, heuheuheu, weladalah jadinya bukan kosong, tapi harus pesan sekalian dalam wujud banana split.

Untuk kentang goreng nya agak berbeda, biasanya khan pake kentang beku berbentuk balok balok gitu, nah di sini pake kentang fresh yang dikupas, dipotong potong biasa, lalu digoreng. Disajikan dengan saus tomat, saus sambal dan garam. Jadi ternyata kentangnya digoreng tanpa bumbu. Kalau mau terasa asin gurih, ya tinggal dicocol ke garam nya, heuheuheu. Tapi enak juga ternyata..



Nah buat kalian yang lagi jalan jalan ke lombok dan pengen menikmati menu seafood ataupun menu menu ringan sambil nongkrong santai di pantai sore sore dengan harga yang bersahabat, silakan meluncur ke Nuf Said Warung ini. Lokasi persisnya silakan disimak di peta di bawah ini :



.


Share:

6 October 2018

Jalan Jalan ke Benteng Vredeburg


Saat jalan jalan ke Jogja bulan lalu, sebenernya aku males banget menuju Malioboro dan sekitarnya, lha macet banget cui... Tapi ya berhubung teman jalan lagi pengen banget ke arah sana, tepatnya Benteng Vrederburg, yaudah aku ngikut aja.

Dengan menggunakan taksi online, kita pun meluncur kesana pagi pagi, biar enggak terlalu macet, eh tapi tetep aja, padat merayap sih. Tapi untungnya si kecil enggak rewel, justru asyik ngelihatin hiruk pikuk di jalanan.

Berhubung pakai taksi online, kita enggak pusing nyari parkiran, dan memang disana parkiran mobil udah penuh, kalau untuk motor sih masih bisa.


Ini adalah kunjungan ke-2 ku di Vrederburg, dulu sih relatif sepi, enggak seramai ini, yaa mungkin karena efek lagi libur panjang.

Tiket masuknya murah banget lho, cuma 3000/orang untuk dewasa dan 2000/anak anak. Ini untuk wisatawan domestik, kalau untuk wisatawan manca, lebih mahal tentunya.

SEJARAH
Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1760 oleh Pemerintah Belanda yang pada saat itu merasa khawatir dengan pesatnya kemajuan Kraton Yogyakarta. Alasan yang digunakan Belanda tatkala membangun benteng yang jaraknya sangat dekat dengan keraton adalah untuk menjaga keamaan kraton dan sekitarnya. Tentu saja itu hanya akal-akalan saja. Aslinya benteng itu dijadikan pusat strategi dan pertahanan sekaligus blokade terhadap keraton. 

Bangunan ini awalnya bernama Rustenburg (peristirahatan), dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 - 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang mempunyai arti "Benteng Perdamaian". Penggantian nama ini dilakukan setelah renovasi benteng yang rusak karena gempa bumi besar. Meskipun direnovasi, bentuk bangunan benteng tetap sama seperti awal dibangun yakni bujur sangkar lengkap dengan 4 bastion (ruang penjagaan) di setiap pojoknya. 

Sebagai tempat pertahanan, Benteng Vredeburg dilengkapi dengan pintu gerbang menghadap ke barat, tembok keliling, parit, dan jembatan angkat. Saat ini di belakang benteng telah ada akses masuk yang mengubungkan Benteng Vredeburg, Taman Budaya Yogyakarta, dan Taman Pintar. Sesuai dengan pasang surut kondisi Indonesia zaman dulu, Benteng Vredeburg pun mengalami perpindahan tangan dari satu penguasa ke penguasa lain. Fungsinya pun berubah-ubah, mulai dari benteng pertahanan pasukan Belanda, tempat perlindungan para residen, tempat tahanan, markas tentara, dan kini akhirnya difungsikan sebagai tempat belajar sejarah perjuangan Indonesia alias menjadi Museum.




Saat kunjunganku dahulu, enggak sampai masuk masuk lihat diorama sih, cuma jalan jalan keliling di luar nya sambil foto foto. Nah kali ini kita masukin satu satu ruangannya, untuk lihat diorama. Wohooo ternyata keren keren ya. Lebih keren dari yang di keraton... Masing2 diorama itu menceritakan kisah pada jaman nya, dan keterangan/rincian ceritanya ditulis dengan jelas di depan diorama itu. Keren deh...

Karena terlalu asyik menikmati ruangan diorama, gak terasa waktu udah beranjak siang, padahal masih banyak spot di area benteng ini yang belum kita sambangi hari ini. Ya sudahlah, akhirnya kita menyudahi sampai sini saja, mungkin di lain waktu, kita bisa explore lebih jauh lagi.





FYI, di dalam area benteng ini ada cafe nya lho, namanya Indische koffie, tapi sayangnya pas kita kesana, cafe ini belum buka, aku cuma bisa intip intip bagian dalamnya lewat jendela, padahal bagus lho bagian dalamnya, kombinasi klasik dan elegan. Belum keberuntunganku nih, sayang sekali...


***

Peta Lokasi Benteng Vredeburg, Jogja

.




Share:

1 October 2018

Sensasi Gurih Sate Klatak Pak Pong


Saat liburan ke Jogja kemarin, aku selalu menggunakan taksi online untuk bepergian kesana kemari, nah pas lagi perjalanan ke suatu tempat, aku menyempatkan nanya ke beberapa driver, tentang rekomendasi sate klatak yang wajib didatangi di Jogja, dan kesemuanya menjawab Sate Klatak Pak Pong. Woke, saat malam terakhir di Jogja, kita pun menyempatkan meluncur ke sana

Sate Klatak Pak Pong ini lokasinya di Jalan Sultan Agung, yang merupakan percabangan dari jalur utama Jalan Imogiri Timur. Strategis banget, karena jalan imogiri ini adalah salah satu jalur menuju tempat wisata Mangunan yang sudah terkenal itu.


FYI, yang berjualan sate klatak pertama kali adalah seseorang bernama Jupairi (kakek dari Pak Pong), sekitar tahun 1960-an. Kadang mangkal di pasar malam atau pertunjukan wayang, kadang berkeliling kampung dengan pikulannya. Lama-lama, beliau mendapat kontrakan dan berjualan secara tetap. 

Karena sering membantu kakeknya dari kecil, Pak Pong (nama aslinya Zakiron) tertarik untuk meneruskan usahanya. Dia mulai berjualan pada tahun 1997. Awalnya lokasinya kecil, tapi akhirnya bisa punya warung yang sekarang ini sejak 2007. Dulu Sate klatak hanya menu tambahan, justru Menu utamanya adalah gulai dan tongseng. Lama-kelamaan, banyak yang memesan klatak dengan kuah gulai dan tongseng. Akhirnya, sekarang malah jadi menu utama bersama dengan tengkleng


Berhubung pas weekend, ruame banget warung nya. Parkiran full. Kita langsung menuju bagian pemesanan untuk pesan Sate, dan Tengkleng. Oia, pelayanannya bagus nih, ama mbaknya kita dicarikan tempat yang kosong lho, diantar sampai tempat duduk nya, terus ditulis dah nomor meja kita di nota. Mbak nya pesen, kita sebaiknya jangan pindah kursi biar pelayannya enggak bingung, dan cepat terlayani. Bagian dalam warung ini lumayan luas lho, seratusan orang muat nih, ada yang lesehan, ada pula yang duduk di kursi.

Oleh mbaknya kita di kasih tahu kalau harus sabar, karena setidaknya perlu waktu sejam untuk bisa tersaji semua pesanan, heuheuheu, lama banget cui nunggu nya. Tapi ya berhubung udah jauh jauh kesini, kita jabanin dah...



Apa sih yang spesial dari sate klatak ini? heuheuheu, salah satunya adalah tusukan sate yang menggunakan jeruji motor/sepeda. Infonya sih dengan jeruji ini, penghantaran panas lebih sempurna, jadi bagian dalam daging pun bisa matang juga.  Selain itu, cita rasanya juga beda, biasanya khan sate itu kombinasi manis pedas ya, kalau sate klatak ini rasanya asin gurih gitu. Bumbunya sederhana banget, cuma kemiri, bawang putih, dan garam yang diulek kemudian dilarutkan. Dan penyajiannya menggunakan kuah gulai (seperti gambar di atas).

Gimana? Penasaran?
Yuk ah cuss buruan mampir ke Warung Sate Klatak Pak Pong, kalau kalian lagi jalan jalan ke Jogja :)


***

Peta Lokasi Warung Sate Klathak Pak Pong, Jogja

.
Share:

26 September 2018

Alun Alun Purworejo yang Semakin Cantik

Lama gak dikunjungi, eh Alun Alun Purworejo makin cantik nih. Lebih tertata, lebih rapi, lebih lengkap fasilitasnya dan tentunya lebih nyaman untuk dikunjungi.

Sebagaimana kita tahu, Alun Alun Purworejo ini selalu menjadi pusat keramaian dikala Malam Tahun Baru, Malam Takbiran dan Libur Lebaran. Dahulunya di sisi timur dan barat alun alun diperuntukkan sebagai tempat kaki lima berbagai jenis makanan, pokoknya kalau mau kulineran malam, ya alun alun dan jawabannya, soalnya lengkap sih. Heuheuheu



Nah sekarang udah berbeda jauh nih, alun alun udah bersih dari pedagang , karena para pedagang dipusatkan di sebelah selatan alun alun dengan nama Romansa Kuliner Purworejo. Kemudian di beberapa sisi alun alun dibangun patung patung, seperti Buah Manggis, Durian, Celorot, Gajah, dan Gong Perdamaian, sedangkan di pojok timur-selatan alun alun, dibangun air mancur dengan background huruf huruf bertuliskan PURWOREJO. Gazebo pun banyak dibangun di sekeliling alun alun, tak lupa tempat sampah yang jumlah nya banyak, tapi sayang sekali, banyak pengunjung yang masih cuek meninggalkan sampah setelah selesai nongkrong, enggak membuangnya di tempat sampah.




Yang paling disukai anak anak nih, juga dibangun di sisi barat alun alun, yaitu Playgorund. Tempat ini dicat warna warni, yang pastinya menarik anak anak untuk mendekat, dan GRATISS pula lho, mantaph dah. Sedangkan di pojok barat-selatan alun alun, dibangun panggung terbuka yang biasanya dipakai untuk pementasan seni, seperti tari dolalak dll.


Buat kalian yang pengen keliling alun alun tanpa jalan kaki, bisa tuh naik bendi. Bendi ini adalah angkutan semacam dokar dengan ditarik kuda, tapi kuda di bendi ini lebih kecil dibanding kuda yang menarik dokar, tarifnya cuma 15 ribu aja lho.

Sedangkan yang mau olahraga sambil belanja belanja dan wisata kuliner, datang aja di minggu pagi karena di sepanjang jalan Mayjen Sutoyo (selatan alun alun) diadakan CFD (Car Free Day). Kebanyakan orang kesini sih buat nyari sarapan ya, heuheuheu bukan olahraga. Ada sate ayam, sate ambal, bubur ayam, nasi kuning, soto dll. Ada juga yang menjual baju, kerudung, dan kaos khas purworejo.









Share:

21 September 2018

Nyicip Sup Jamur Liar di Yats Colony Jogja

"Yats Colony" , nama yang cukup unik untuk sebuah penginapan dan tempat makan. Yuph, tempat ini berlokasi di Jalan Patangpuluhan, Jogja. Enggak terlalu jauh dari Malioboro, gampang banget dijangkau, apalagi kalau pakai taksi online kayak aku ini, tinggal ketik aja lokasi tujuan, dan sampai deh, dianter ama mamang driver nya, heuheuheu.



Bukan cuma namanya yang menarik, desain bagian depan nya juga sangat mencuri perhatian. Dinding bagian atasnya itu lho, bolong bolong gitu, terbuat dari susunan lobang udara yang biasanya dipasang di rumah cuma 3 atau 4 biji di dinding atas. Nah kalau di sini, dipasang full semuanya.

Oia, FYI kita kesini enggak menginap ya, cuma mampir nongkrong di cafe nya aja, yang berlokasi di bagian depan penginapan. Pengennya sih nginep disini juga, tapi sepertinya belum jodoh... Next time dah pas ke Jogja lagi.



Bangunan tempat makan ini ada dua lantai, saat kita kesini, lantai 1 sedang full, wajar sih, karena ini pas jam makan siang. Penataan tempat duduknya sepertinya mengutamakan kenyamanan deh, jarak antara 1 meja dengan yang lain enggak mepet mepet, efeknya ya jadi cuma sedikit meja kursinya. Tapi justru  inilah poin positifnya, enggak crowded... Meski full, tetap terasa nyaman nongkrong lama lama.



Selain tempat makan, di lantai 1 ada stand kecil di pojokan yang menjual pernak pernik lucu, tapi harganya lumayan mahal cui, aku tertarik ama bantal sofa yang bentuknya kotak itu, eh tapi harganya 300rb/biji, akhirnya gak jadi deh. Heuheuheu. nah di belakang stand ini ada tangga menuju lantai 2. Di lantai dua ternyata masih kosong melompong, kita pun bebas memilih tempat duduk yang paling asoy.

Setelah order pesanan masing masing, kita beranjak untuk foto foto di sekitar lantai 2 ini, spot yang paling asyik adalah di bagian luar ruangan ini, yaitu di balik dinding bolong bolong yang terlihat pas datang tadi



Di sini, juga ada beberapa tempat duduk yang bisa digunakan, namun cocoknya sih sore hari deh, kalau siang gini puanaaas gaes, mendig buat foto foto aja, pas udah puas, masuk lagi deh, di dalam ademm.... Oia, ada kids corner nya juga lho di lantai 2 ini, jadi si kecil bisa main main di sini deh



Pesanan makananku adalah Wild Mushroom Soup alias Sup Jamur Liar dan Ice Black alias es kopi item. Selain cantik penyajiannya, sup jamurnya juga enak lho, disajikan selagi hangat, lembut di mulut, tapi ada sensasi kriuk kriuk dari potongan roti (croutons). Recommended lah. Sedangkan untuk es kopinya, enak juga, yaaa sama lah rasanya ama es kopi yang dijual di kedai kedai kopi, segeeer, cocok disruput siang siang gini.

Nah dari pengalamanku makan siang di tempat ini, menurutku tempat ini rekomended banget, udah tempatnya bagus, unik, nyaman, makanan nya pun enak enak, oia lokasinya juga mudah dijangkau.

***

Peta Lokasi Yats Colony Jogja

.
Share:

Blog Archive