27 August 2018

Cerita Seru dari Air Terjun Kelambu, Lombok


Berbeda dengan Air Terjun Benang Kelambu di Lombok Tengah yang bertetangga dengan Air Terjun Benang Stokel, Air Terjun Kelambu (ada yang menyebut Kelambun/Aik Kelambu) ini berlokasi di daerah Bukittingi, Gunungsari, Lombok Barat. Sekitar 25 km dari pusat Kota Mataram.

Untuk menuju kesini gampang banget deh, tapi sebaiknya sih menggunakan kendaraan roda dua aja, biar jalan kaki nya tidak jauh. Nah info lengkap mengenai rute nya, silakan baca di postingan Air Terjun Tibu Tereng (sudah aku tulis beberapa waktu lalu). Karena air terjun ini tidak jauh dari Tibu Tereng, bahkan bisa dianggap satu lokasi, jadi sekali kesini bisa mengunjungi Tibu Tereng sekaligus Kelambu.

Dari lokasi parkir, kita tinggal jalan kaki ke arah bawah, dengan menyusuri jalan setapak dari semen, lumayan curam sih, tapi untungnya cuma sekitar 300 meter saja, hingga kita mencapai aliran sungai. Perjalanan kita lanjutkan dengan menyeberang jembatan bambu.


Nah sebenarnya air terjun kelambu ini ada persis di bawah jembatan bambu ini lho, cuman kita harus berjalan memutar untuk bisa sampai ke bagian bawah air terjun nya, dengan tinggal mengikuti saja jalur nya, sampai ke bawah. Di jalur ini ada dua titik curam yang lumayan licin, apalagi misalnya pas musim penghujan. Jadi harus hati hati ya...

Apabila sudah sampai di sungai nya, kita tinggal jalan kaki sedikit ke arah kanan atau melawan arah arus sungai. Yuhuuuu dan sampailah kita di air terjun Kelambu.

Entah kenapa ya namanya kelambu... padahal kondisi nya berbeda dengan air terjun benang kelambu yang bila diartikan sesuai namanya, aliran air nya membentuk semacam kelambu/gorden... Ya sudahlah, apapun itu, nama Kelambu ini sudah disepakati dan menjadi nama air terjun ini.

Air Terjun ini tidak tinggi ya, tapi lebih tinggi sih bila dibandingkan dengan Tibu Tereng. Dan bila kita memandang ke arah atas dari air terjun ini, kita akan melihat jembatan bambu yang tadi kita lewati itu.



Berhubung ini udah siang dan kita kelaperan, perbekalan kita keluarkan semua... Yuph, kita memang udah persiapan bawa makanan untuk dimasak dan tentu saja sekalian alat masaknya. Ada sosis, pop mie, kopi, kompor gas kecil plus gas nya, dan tentu saja panci kecil untuk merebus air. Khan enak tuh dingin dingin ngopi sambil ngemil pop mie dan sosis bakar.

Air terjun ini ada di balik semacam celah dinding tebing sungai gitu, unik deh,,, apalagi saat cahaya matahari posisinya pas menyusup di celah celah itu, jadi cantik foto nya. Airnya gak terlalu deres sih, yaa mungkin karena lagi kemarau ya. Nah karena enggak deres itu, jadinya kita bisa deh berendem dan mandi mandi di bawahnya. Segeeeeer dan bening banget airnya, sampe kelihatan jelas batu batu di dasarnya dan ikan ikan kecil yang berenang kesana kemari, sedangkan di sisi air yang tenang ada beberapa ekor anggang anggang, itu lho hewan kecil (kaya laba laba) yang bisa berdiri di atas air (search aja di google, untuk tahu wujudnya).


Setelah puas dua jam nongkrong di air terjun ini, kita pun segera berkemas dan kembali naik ke parkiran. Heuheuheu perjuangan berat nih jalan kaki ke parkiran, karena jalurnya menanjak curam dan agak licin, karena tanah basah. Tapi alhamdulilah kita bisa selamat sampai parkiran...



Share:

22 August 2018

Ngopi Siang di Hayati Specialty Coffee


Sebagai penggemar kopi, di setiap kota yang aku datangi, aku pasti menyempatkan untuk singgah di salah satu kedai kopi nya, terutama yang hits hits, heuheuheu. Seperti halnya saat jalan jalan ke Jogja beberapa waktu lalu. Aku mampir ke sebuah kedai kopi bernama Hayati Specialty Coffee.

Kedai kopi ini berlokasi di Jalan Demangan Baru No 7 Jogja, enggak jauh dari Lippo Plaza Jogja. Mudah sekali dijangkau, baik menggunakan kendaraan roda 2 maupun 4, kalau aku sih kemarin naik Taksi Online, jadi tinggal masukin tujuan di aplikasi, tinggal duduk, dan sampai deh di lokasi.

Namanya unik ya "Hayati", mirip mirip nama orang gitu, heuheuheu, eh tapi nama sederhana ini mempunyai makna yang dalam lho, hayati ini khan artinya "hidup", nah bagi pemiliknya di dalam kopi itu selalu ada kehidupan.



Dari depan sih, kelihatannya kedai kopi ini kecil, cuma menempati satu los ruko, tapi ternyata setelah masuk, enggak sesempit yang kita kira, karena masih terdapat ruangan luas di bagian belakang (outdoor) yang dikhususkan untuk para ahli hisap (smoking room).

Desain interiornya sederhana, namun cantik dan instagramable, dengan dominasi warna monochrome, pantesan aja pas kesini banyak yang lagi foto foto, bahkan ada yang lagi foto produk, yaitu tas tas dan aksesoris lain. Tempat yang nyaman dan wifi kenceng gini, memang cocok untuk ngopi ngopi sambil meeting, atau ngerjain tugas. Kalau kata beken nya sih jadi semacam coworking space cafe gitu deh.


MENU
Sebagai sebuah kedai kopi, tentu saja menu utamanya kopi donk ya, tapi enggak cuma kopi item semacam espresso dan americano ya, ada juga cappucino, picollo, latte, dan es kopi. Buat yang gak suka kopi tapi suka nongkrong, ada kok minuman dengan bahan dasar teh, coklat maupun es blended. Nah untuk menu beratnya ada pasta, nasi goreng, bakmi goreng dan ricebowl. Selain itu juga ada menu ringan seperti churros atau kentang goreng.






Karena buka nya lumayan pagi, yaitu jam 8, Hayati Coffee juga menyediakan menu sarapan / breakfast yaitu variasi toast yang bisa menghangatkan pagi Kalian. Untuk masalah harga sih engak perlu khawatir karena menu di sini harganya enggak terlalu mahal kok alias ramah di kantong, apalagi kalau cuma pesen kopi doang, heuheuheu.

Foto foto di atas adalah menu menu yang kita pesan, overall semuanya enak. Bakmi gorengnya meski kelihatan sedikit, ternyata makan seporsi aja langsung kenyang abiss, untuk kopinya aku pesen kopi ethiopia dengan diproses V60. Si baby K juga ikut nongkrong donk ya, dan dia kupesenin churros buat cemil cemil, pas aku icip sih, lumayan enak ya, cuman bentuknya yang buntek gitu bikin bagian dalamnya agak kurang mateng, biasanya khan churros bentuknya kecil panjang gitu.

***

Peta Lokasi Hayati Specialty Coffee, Jogja

.

Share:

17 August 2018

The Mandalika : Wajah Baru Pantai Kuta Lombok


Mau tahu seperti apa kondisi pantai kuta lombok tengah beberapa tahun lalu, search aja deh di blog ini, aku udah pernah beberapa kali nulis tentang pantai kuta. Nah Pantai Kuta ini digadang gadang akan dikembangkan menjadi seperti Nusa Dua di Bali, bahkan bisa dibilang melebihi Nusa Dua, karena akan ada Sirkuit Balap bertaraf internasional (tapi entah kapan, heuheuheu).

Branding Pantai Kuta saat ini lebih diarahkan ke nama ``Mandalika``, yang diambil dari legenda/cerita rakyat setempat, yang merupakan putri cantik bagian dari cerita Bau Nyale yang sudah kesohor itu.



Dengan branding baru ini, pantai kuta berubah total, jaman dulu khan terlihat kumuh dan berantakan karena banyak bangunan liar seperti warung warung, gubug gubug dan terpal terpal biru yang gak jelas. Kini sepanjang pantai sudah dipaving, lebih diutamakan ke pejalan kaki, sedangkan mobil mobil dan kendaraan lain harus parkir di tempat yang disediakan, harusnya sih aturan ini bener bener dijalan kan ya biar makin oke, karena kemarin masih kulihat beberapa kendaraan parkir sembarangan di jalanan paving yang seharusnya bebas dari parkiran kendaraan, disitupun udah ada tanda dilarang parkirnya.

Untuk fasilitasnya juga makin lengkap, ada playgorund gratis yang bisa dimanfaatkan anak anak untuk bermain, tapi sayang nya bener bener di area terbuka gitu, jadi kalau misal siang hari, dijamin bakal gosong kalau main di sini, heuheuheu. Konsepnya sih oke ya, kaya di luar negeri, tapi khan di sana dingin jadi ya cocok cocok aja...




Di sebelah tulisan The Mandalika ada bangunan dengan desain yang unik deh. Ternyata bangunan ini adalah toilet umum, tempat ganti dan bilas. Bagian dalamnya luas banget dan bersih. Semoga kondisi ini tetap terjaga ya. Di sebelah bangunan ini ada lagi bangunan berupa tempat pengolahan air laut, dan di sebelahnya lagi ada bangunan yang serupa dengan bangunan yang pertama tadi. Untuk bisa memanfaatkan fasilitas umum ini ada tarifnya lho, jadi enggak gratis. Bisa dibayar langsung di penjaga yang berseragam khusus.

Di sekitar area paving paving ini ada area berumput yang seharusnya bukan buat pejalan kaki, alias tidak boleh diinjak injak, kaki hanya boleh menginjak paving, tapi ya seperti sebuah kebudayaan ya, rumputnya gundul gegara diinjak injak, padahal udah ada peringatan nya lho, heuheuheu, pakai bahasa sasak pula. 




Setelah puas main di Mandalika ini, kita iseng iseng mengarahkan kendaraan ke area hotel novotel, Waaow, sekarang kondisinya woke banget, udah dua jalur dan banyak bunderan di setiap persimpangan, mirip banget jalanan di Nusa Dua. Dan di sekitar sini aku lihat ada proyek besar pembangunan Hotel Royal Tulip dan Hotel Pullman, heuheuheu. Dulu hotel novotel menjadi hotel yang paling mewah di kuta, tahun depan bisa jadi Novotel menjadi hotel yang paling jadul di Kuta.

Untuk urusan ibadah, dibangun juga sebuah masjid yang megah bernama Masjid Nurul Bilad yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, bulan Oktober 2017 lalu, dengan desain atap yang terispirasi dari masjid kuno Bayan Beleq di Lombok Utara. Bangunan dalam masjidnya sih tidak luas banget ya, lebih luas halaman/lapangan di sekitarnya. Woke banget dah ini, sehabis ibadah, kita bisa foto foto sembari jalan ke parkiran :)



Share:

12 August 2018

Menikmati Suasana British Vintage di Cafe Brick


Berdasar rekomendasi dari sang adik yang kuliah di Jogja, kali ini kita coba nongkrong di daerah Ngaglik, Sleman, yaitu Cafe Brick. Lokasi tepatnya di Jalan Damai No.8, Tambakan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Jogja, sebuah percabangan jalan Kaliurang KM 8,5 . Lumayan jauh sih dari pusat kota, apalagi pas libur panjang gini, muaceeet, untungnya mas mas Grab nya hapal jalan tikus, alias mblusuk mblusuk, enggak lewat jalan utama.

Selain jam operasional nya 24 Jam, ada hal unik lagi yang bikin aku penasaran ama cafe ini, yaitu tema yang diusung adalah "British Vintage". Interior dan eksteriornya bener bener total didesain sesuai konsep nya.




Bangunan cafe ini benar benar mencolok bila dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya. Kita dihadapkan dengan bangunan yang sering kita lihat di film film inggris jadul, ditambah pedestrian dan lampu jalan nya. Wokeee banget

Cafe ini mempunyai dua lantai, akses menuju lantai 2 menggunakan tangga melingkar di pojok kanan cafe. Sedangkan di bagian atas kasir, digantung sebuah motor vespa yang sepertinya sih masih bisa dikendarai.


Menu yang disajikan beraliran Asia dan Eropa, yang dibagi ke kategori main course, dessert, soup, snack, beverages dan karena buka 24 jam, ada pula menu of midnight yang mereka sebut dengan istilah Brick’s Burjo

Untuk minuman, aku pesen kopi cold brew, alias kopi yang diseduh selama beberapa jam menggunakan air dingin. Sajian kopi ini unik deh karena dikemas dalam sebuah botol dengan penutup klasik mirip botol limun sarsaparilla (foto di atas). Sedangkan untuk makanan beratnya, aku order Sphagetti dengan daging Tuna. Menu ini disajikan dengan piring putih besar namun dengan porsi sedang, awalnya aku kira porsi nya terlalu sedikit, tapi setelah kumakan habis, ternyata malah kekenyangan, heuheuheu. Enak enak enak....



Setelah perut kenyang, dan puas foto foto di dalam cafe. Kita pun turun, menuju kasir untuk membayar, dan lanjut ke samping dan belakang cafe untuk foto foto.

Bagian luar ini juga tak lepas dari kreatifitas sang pemilik untuk mengubah suasana menjadi bener bener sesuai konsep. Dibuat semacam pedestrian di inggris dengan kursi kursi, lampu jalan dan telepon umum yang ikonik,






Tak sampai di situ, dinding dinding nya pun dihias dengan pintu dan jendela yang khas, serta pajangan beberapa motor klasik. Di bagian belakang terdapat sebuah lapangan golf mini yang bisa dimainkan. Unik banget deh...

Recommended banget buat kalian yang suka nongkrong dan foto foto, apalagi ini cafe buka 24 jam, jadi enggak usah bingung mau dateng jam berapa.... Nah buat yang mau kesini juga, silakan lihat Pela Lokasi Cafe Brick Jogja di bawah ini :

Share:

7 August 2018

Serunya Main Kano di Pantai Nipah


Pantai Nipah adalah salah satu pantai favoritku untuk menghabiskan liburan, lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Mataram, tepatnya di Dusun Nipah, Desa Melaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, dekat dengan proyek megah Amarsvati di Pantai Malimbu.

Untuk menuju ke pantai ini tidaklah susah, karena jalur dari kota mataram cuma satu, dan sudah mulus plus lebar, cuma ya itu, di beberapa titik terdapat tanjakan, turunan dan belokan tajam. Jadi pastikan saja kendaraan yang dipakai dalam kondisi prima.



Aku pernah merasakan sepi nya pantai ini, tapi itu beberapa tahun yang lalu, sedangkan sekarang sudah super ramai, dari ujung ke ujung dipenuhi oleh penjaja kuliner ikan bakar.

Pemandangan cantik pantai nipah ini juga bisa kita nikmati dari Bukit Nipah, dari atas sini terlihat Gradasi air laut yang memesona membuat betah di bukit ini karena sangat memanjakan mata, pas dah buat selfie selfie.

Tapi bila ingin basah basahan, ya berarti harus turun ke pantai nya. Tiket masuknya murah lho, cuma 5rb/mobil (berapapun isi orangnya), uang 5 ribu ini dibayar saat kita keluar dari area pantai ini. Tidak ada kertas tiket nya, kita langsung membayarkan nya ke tukang parkir.



Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan di pantai nipah ini, salah satunya adalah bermain kano. Ada beberapa orang yang menyewakan kano, dengan beberapa warna dan nomor tertentu di samping kano. Kita menyewa dua kano, lengkap dengan dayung nya, berhubung kita ada banyak orang, kita harus bergantian menggunakan kano ini.

Jujur aja meskipun udah bertahun tahun di Lombok, ini pertama kalinya aku main kano, heuheuheu. Eh ternyata seru juga ya, cocok banget di pantai nipah yang ombaknya bersahabat ini, tinggal dayung dayung bentar, agak ke tengah, dan tinggal nikmati syahdunya pantai ini. Kita enggak perlu takut kano nya akan terbawa arus ke tengah atau kemana mana, karena tenang banget air nya.



Saat pergantian kano, aku manfaatkan untuk snorkling di sekitar pantai nipah ini. Jangan kawatir lupa bawa atau memang enggak punya alat snorkling nya, karena di sini banyak juga yang menyewakan alat nya. Kita menyewa 2 kano plus 3 alat snorkling, membayar 100ribu, alat ini bisa kita pakai seharian lho, tapi ya gak mungkin seharian juga sih, bisa gosong kita seharian main kano dan snorkling.

Terumbu karang di sini memang masih ada yang hidup dengan baik, tapi cuma di beberapa titik aja, tapi untungnya air nya bersih dan bening banget, jarak pandangnya bagus. Ikan ikan ada beberapa yang kulihat, seperti kerapu, cucut dan ikan ikan karang, oia aku juga melihat makhluk panjang goler goler berwarna putih di sekitar karang, entah itu ular atau belut laut, udah serem duluan.. Heuheuheu



Badan lelah, perutpun lapar. Untungnya tadi sebelum kita main main air sudah pesan ikan bakar, cumi bakar, plecing kangkung, sambal terong, nasi putih dan tentu saja kelapa muda, heuheuheu. Jadinya pas perut udah lapar, langsung bisa diisi....

Fasilitas disini juga bisa dibilang lumayan lengkap, ada tempat bilas, tempat ganti baju, ada berugak untuk sholat, kalau enggak bawa alat sholat nya, bisa pinjem di berugak ini, sinyal Telkomsel juga kenceng... Recommended dah buat piknik piknik hore,,,



Share:

2 August 2018

Ukiran Alami Batuan Sungai Bogowonto

Bogowonto memang gak bisa lepas dari kenangan masa kecil, dimana sungai ini menjadi salah satu tujuan tempat bermain bersama temen temen di waktu masih SD dulu. Mandi mandi, berendem, nyari ikan dengan serokan, dan nyari batu batu yang bentuknya unik, fokusnya sih maen maen seru seruan, apalagi jaman dulu belum pada punya kamera, jadi enggak terdistraksi untuk foto foto.

Beberapa puluh tahun enggak main ke sungai itu, ternyata sekarang lagi booming nih di media sosial, gegara ada satu spot di Sungai Bogowonto yang menawarkan pemandangan cantik berupa batuan dasar sungai yang berlapis lapis diukir alam. Apalagi sekarang ini musim kemarau, sehingga banyak menyisakan kolam kolam alami, hasil dari air yang terjebak di lobang lobang batu. Sangat cocok dah untuk foto-foto maupun ajang selfie dengan latar belakang ukiran batu alami eksotik nan indah menawan ini.

Ukiran batu alam yang terbentuk dari hasil gerusan aliran air sungai ini kira kira membentang sepanjang 1 kilometer. Letaknya berada sekitar 500 meter sebelah selatan Bendung Boro, bebatuan yang tersusun masih teraliri air dengan debit kecil, dan akan terlihat jelas saat musim kemarau saja, sedangkan saat musim penghujan, debit air meningkat, dasar sungai tidak kelihatan lagi.


Selain itu juga terdapat palung-palung kecil terisi air yang sepertinya dalem banget sih. Untuk menjangkau hingga ke lokasi ini gampang banget deh, arahkan kendaraan kalian ke Pangenrejo, lalu masuk ke gang di sebelah selatan Gereja Kristen Jawa Pangenrejo, di Jalan Brigjen Katamso Purworejo (dekat eks Rumah Sakit PKU Pangen). Ikutin aja jalan aspal kecil ini ke arah timur, sampai bertemu lapangan Ciluek, lalu melewati jembatan sungai kecil, lalu menurun sampai ke sebuah warung bernama Warung Bogowonto.



Nah di parkiran warung inilah kita bisa memarkirkan kendaraan (baik roda 2 maupun 4). Tidak ada tiket masuk untuk bisa menikmati objek wisata ini, cuma bayar parkir aja kok. Atau bisa juga sekalian makan siang di warung ini, heuheuheu

Dari warung ini, kita tinggal jalan kaki menuruni beberapa anak tangga menuju tepian sungai, dan arahkan perjalanan kalian ke kiri sekitar 100 meter, sampai deh ke lokasi menawan ini.


 Lokasi : Search aja di google maps ``Warung Bogowonto``
Share:

Blog Archive