20 September 2021

Menikmati Kuliner Seafood di Warung 910 Pantai Menganti Kebumen


Salah satu pantai di Kebumen yang pengen banget aku datangi semenjak pindah Kebumen adalah Pantai Menganti. Heuheuheu, udah terlalu lama di timur Indonesia, pantai yang biasa kita datangi selalu pasir patih, dan Pantai Menganti lah yang jadi alternatif pengobat rindu pada pasir putih.
 
Tapi kali ini aku jalan jalan ke pantai bukan bareng keluarga, melainkan bareng temen temen kantor. Jadi karena ada urusan kerjaan di deket Menganti, akhirnya kita memutuskan untuk mampir, sekalian makan siang di salah satu warung seafood.
 
View dari Bukit Pandang Banjaran

Jalur menuju Pantai Menganti ada dua pilihan, yaitu lewat daerah Ayah, atau lewat jalur Pantai Bolong. Dengan kondisi jalur yang enggak jauh beda, naik turun dan berkelak kelok, karena memang pantai menganti ini ada di balik bukit, bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda 4, di beberapa titik sih lumayan curam tanjakannya, sehingga buat yang pertama kali ke menganti, harus dipastikan kendaraannya dalam kondisi prima, baik itu saat menanjak maupun baliknya, saat turun.
 
Setelah melewati Bukit Pandang Banjaran, kita akan bertemu dengan petugas yang menjaga pintu masuk pantai. Dsitu kita harus membayar tiket masuk seharga 15 ribu per orang, tiket ini sudah termasuk biaya parkir kendaraan, asuransi, dan kendaraan shuttle
 


Dari loket pembelian tiket tersebut, kita masih harus melewati jalur menurun yang lumayan curam sekitar 1 km. Di Pantai Menganti ada beberapa warung seafood, namun yang kita tuju kali ini adalah Warung Seafood 910.
 
Warung ini lokasinya di tepi pantai, dengan sebagian bangunan diatas tanah menjorok ke pantai, kalau dilihat dari arah laut, terlihat seperti rumah panggung gitu. Konsepnya lesehan, tidak ada kursi yang disediakan, dan untuk menu makanannya seperti halnya warung warung seafood lain, yaitu olahan ikan, kepiting, udang dll. 






Beberapa menu makanan kita pesan, dan untuk menu ikan, kita bisa pilih sendiri di box ikan yang tersedia, ada ikan bawal laut, kakap dll, meskipun dalam kondisi beku, aku lihat sih dari mata dan insang, ikannya masih segar.

Setelah semua pesanan selesai diorder, kita menunggu duduk duduk lesehan di tempat yang tersedia. Siang ini cuma kita aja yang makan disini, jadi serasa pelanggan VIP, heuheuheu. Berhubung sudah lewat jam 12 siang, sambil menunggu makanan tiba, secara bergantian kita beribadah dulu di musholla yang tersedia di bawah, tempatnya cukup untuk dua orang. Ruangan kecil ini langsung berhadapan dengan pantai/laut, jadi suara ombaknya tuh terasa deket banget, ini kalau ombaknya lebih gedean dikit, bisa sampai masuk musholla nih. Tapi alhamdulilah enggak.





By the way, kalau di sekitar kebumen pesen Tempe Mendoan, yang datang tuh ya bener bener tempe mendoan ya, tempenya tipis, masih lembek/belum matang sempurna, ukurannya relatif besar dan tentu saja masih panas. Berbeda saat kita pesan tempe mendoan di kota selain Kebumen, Cilacap, Banyumas, pasti datangnya tempe goreng tepung biasa. 

Bumbu ikan bakarnya maknyus, tingkat kematangannya juga pas, dagingnya juicy, gurih manis. Ikan bawal laut ternyata enak juga, jarang jarang pilih bawal laut saat makan di warung seafood. Overall semua menu yang kita pesan enak enak rasanya. Recommended dah, tempatnya juga bersih, nyaman.



Selesai makan, kita lanjut ke arah kanan pantai, sampai mentok parkiran. Di sini ternyata rame juga, banyak mobil parkir. Rencananya sih kita mau naik shuttle yang disediakan pengelola untuk mengantar pengunjung menuju sisi ujung kiri pantai yang ada spot keren, salah satunya adalah Jembatan Merah. 

Bagi yang datang menggunakan mobil, memang tidak diperbolehkan ke sisi ujung kiri naik mobil pribadi, karena jalurnya yang menanjak dan sempit, jadi harus naik shuttle dari parkiran ujung kanan, tiket shuttle sudah termasuk di harga tiket masuk pantai menganti, jadi tidak perlu bayar lagi. Tapi sayang sekali beberapa orang dari kita merasa enggan untuk naik shuttle, karena panas banget siang ini, heuheuehu, akhirnya enggak jadi semua dah... Next time aku bakal coba
 

***

Peta Lokasi Warung Seafood 910 Pantai Menganti, Kebumen
 
Share:

13 September 2021

Njegir Dendipati : Wisata Selfie Baru di Utara Gombong Kebumen


Jalan Jalan kita kali ini ke arah Barat Kebumen, tepatnya Gombong ke utara, lewat jalur ke Benteng Van der Wijck dan lurus lagi sekitar 2 kilometer. Nama tempatnya adalah Njegir Dendipati, yang masuk ke dalam wilayah Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen.

Tidak ada tiket masuk untuk bisa menikmati taman ini, cukup membayar parkir aja saat pulang. FYI nama taman wisata ini diambil dari kata Njegir yang artinya lereng dan Dendipati yang artinya Adipati/Bupati. Jadi bila kita telaah lebih dalam lagi, lereng disini maksudnya taman ini dibangun di tanah miring, kemudian yang dimaksud adipati ini adalah bahwa bila kita berjalan mengikuti jalan setapak yang menanjak ke bagian belakang taman, kita akan menemukan beberapa makam yang salah satunya adalah makam bupati kebumen yang pertama, namanya adalah Panembahan Brodonolo, yang infonya beliau adalah leluhurnya Bapak Prabowo  (info dari penjaga taman).



Dari cerita ini, bisa kita simpulkan bahwa taman wisata ini menggabungkan taman wisata alam dengan wisata religi, yang nantinya bila ada yang ziarah ke makam, bisa sekalian jalan jalan ke taman wisata ini. Meskipun masih dalam proses pembangunan, taman wisata ini sudah bisa dinikmati, beberapa spot selfie sudah tersedia, seperti kapal, sarang burung, dan tower, selain itu juga ada playground seperti perosotan dan ayunan. Beberapa bangunan masih dalam proses pengerjaan seperti mushola, toilet, warung, kolam renang anak, gazebo dan tempat rapat/pertemuan. Pembangunan taman ini sempat tersendat karena masalah biaya. Alokasi dana desa sudah hampir habis, dan menunggu tahap berikutnya, katanya sih akhir tahun 2021 ini bakal rampung.




Konsep dari wisata ini memang terlihat matang, dan punya tujuan jelas ke depannya, semoga saja segera rampung 100% pembangunannya.

Oia untuk tempat sampah di area taman wisata juga belum ada, kemarin pas habis makan jajan, mau nyari tempat sampah enggak nemu, akhirnya kita bawa pulang lagi sampahnya. Sebelum masuk ke taman ini aku sempet ngopi dulu di warung kecil yang lokasinya persis di depan taman ini. Istirahat sebentar sambil nunggu si kecil yang masih tidur di dalam mobil. Sekitar 30 menit aku ngopi, duduk di warung sambil melihat aktivitas para pengunjung di dalam taman. 
 
Vlog di Njegir Dendipati


 
 
Waktu itu banyak anak muda, naik motor yang datang dan pergi, jadi di dalam area taman ini cuma sebentar saja, enggak sampai 15 menit, cuma mampir foto foto lalu pergi lagi. Beda dengan anak anak dan orang tua yang membawa anak anak, relatif mereka lebih lama di dalam taman, karena anak anak asyik bermain di playground nya, termasuk kita, heuheuheu. 








***

Peta Lokasi Njegir Dendipati Kebumen



Share:

6 September 2021

Pesona Jemur Indah : Wisata di Area Bendungan Kedungsamak Kebumen


Tempat yang satu ini sudah agak lama viral namun dari dulu tuh pengen kesini enggak jadi jadi, dan akhirnya minggu kemarin karena kebingungan mau jalan jalan kemana, akhirnya kita meluncur ke sini.

Nama tempatnya adalah Pesona Jemur Indah, yang lokasinya berada di Jalan Peniron, Desa Jemur, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, tepatnya di area Bendungan Kedungsamak. Tempat yang dahulunya cuma bendungan, disulap oleh warga sekitar menjadi tempat wisata alternatif. Tempat parkirnya sangat luas, akses jalan juga bagus, bisa diakses kendaraan roda dua maupun empat. Untuk tiket masuknya plus parkir cuma 5 ribu rupiah, ini harga untuk mobil, tidak memperhitungkan jumlah orang, dan kalau untuk motor, pastinya lebih murah.


Dari area parkir ini kita bisa berjalan kaki menuju bantaran area bendungan dengan melewati sebuah cafe bernama Sipon Cafe. Rencananya kita mau explore bendungannya dulu, baru nanti nongkrong di cafenya.

Ternyata bendungan ini merupakan percabangan untuk saluran irigasi, jadi dari sini kita bisa melihat dua aliran sungai. Nah di saluran irigasi inilah aku pernah melihat foto orang orang lagi maen river tubing menggunakan ban gitu. Tapi sore ini tidak ada, hanya ada 1 perahu wisata yang beroperasi di sungai utama. Di sungai utama (Luk Ulo) ini juga terlihat banyak penambang pasir di sisi seberang.





Untuk mempercantik area ini, pengelola menanam berbagai bunga yang sore ini terliahat banyak yang mekar, selain itu juga ada beberapa spot selfie ala ala. Di sebelahnya lagi, persis di samping intake bendungan, terdapat payung payung lengkap dengan bangku dan meja, sepertinya spot ini bisa dipakai untuk makan makan dengan pesan di sipon cafe dekat parkiran tadi, tapi kalau mau duduk duduk aja juga boleh, enggak harus pesan makanan dahulu.



Di bagian sungai luk ulo yang dibendung, terlihat beberapa orang yang sedang mencuci motor, ada yang memancing, dan sesekali ada yang menyeberang menggunakan motor / sepeda, jadi ternyata bendungannya bisa dilewati motor dan sepeda, ini bendungannya lho, bukan jembatan. Mungkin karena lagi tidak besar aja debit airnya, kalau pas besar tentu saja tidak bisa dilewati.



Sebelum pulang, kita nongkrong dulu di Cafe Sipon, ngemil sambil ngopi ngopi. Selain tempat makan di area ini juga terdapat musholla dan toilet umum. Tempat duduk dan meja cafe sipon ini terbuat dari potongan gelondongan kayu besar, dengan payung berwarna merah sebagai peneduh. Kalau sore gini sih tidak perlu peneduh, sudah adem.

Tidak banyak menu yang disajikan di cafe sipon ini, cuman ada kopi, teh, milkshake, jus buah dan makanan ringan seperti pisang goreng, mendoan, kentang goreng, dan mie.




***

Peta Lokasi Pesona Jemur Indah, Bendungan Kedungsamak, Kebumen




Share:

30 August 2021

Alun Alun Manunggal Gombong : Nongkrong Sambil Ngemil Ubi Bakar Cilembu

Alun Alun Gombong

Sore itu aku tuh lagi pengen ngemil ubi bakar cilembu yang anget yang baru keluar dari oven, nah salah satu tempat di kebumen yang menjual ubi bakar cilembu yang ueeenak tuh lokasinya agak jauh dari pusat kota, yaitu di depan Candisari Resto & Hotel. Basanya aku mampir ke warung ini pas ada kerjaan di Gombong dan sekitarnya, waktu pertama kali nyobain, aku langsung ketagihan, jadi setiap ada tugas/kerjaan ke arah barat, aku pasti mampir beli.
 

Tiba-tiba terlintas ide untuk beli ubi bakar, dibungkus lalu dimakan di sekitar Alun Alun Gombong.  Okelah, aku langsung cuss ke arah barat bersama pasukan rumah. 

Kondisi lalu lintas sore itu lumayan lancar, sekitar 25 menit perjalanan kita sampai juga di warung ubi bakar cilembu. Selain ubi, di warung ini juga dijual peuyeum, manisan pala, getuk goreng, berbagai keripik dan lain lain. Berbekal 2 keranjang ubi bakar cilembu, kita pun langsung cuss ke Alun Alun Gombong. Oia, harga ubi bakar cilembu ini 20 ribu per keranjang.
 


Dari warung ubi cilembu, kita hanya butuh waktu 10 menit saja untuk sampai ke alun alun. Lokasinya tidak berada persis di tepi jalan raya, tapi harus masuk gang dulu (arah selatan) yang berada di seberang Muncul Bursa Motor, atau bisa juga gang di sebelah baratnya. 

Rupanya Alun Alun Gombong ini sudah tertata dengan rapi ya. Sekeliling alun alun sudah dibuatkan jalan trotoar paving. Tempat jualan dipusatkan di sisi barat alun alun dan sedikit di sisi utara, selain kedai dan gerobak yang menjual makanan, juga ada wahana bermain anak, penyewaan mobil listrik, odong odong dan lain lain. Sedangkan di sisi selatan terdapat beberapa warung makan/cafe dan di pojokan selatan timur terdapat GOR dan lapangan basket yang sore itu ramai dipakai muda mudi latihan basket. Kalau melihat dari seragam yang dipakai, mereka sepertinya klub basket.


Setelah parkir kendaraan di spot parkir sisi utara alun alun, kita beli tahu bulat, kebetulan di samping tempat kita parkir ada mobil pick up yang menjual tahu bulat. Kirain beneran dadakan, eh ternyata tahunya udah digoreng, dan tinggal dimasukin ke plastik, kondisi tahunya pun udah enggak panas.

Lalu kita berjalan melewati trotoar, ke sisi barat, di sini kita berhenti sejenak karena si kecil pengen naik odong odong, sekitar 10 menit naik dengan membayar 5 ribu rupiah, kita lanjut jalan ke arah selatan, mencari tempat yang lebih tenang, karena di sisi barat ini rame banget.

Di sisi selatan alun alun terdapat beberapa ibu ibu nangkring dan menjual minuman seperti kopi dan pop ice. Aku pun mampir di salah satunya, pesan beberapa minuman dan beli makanan ringan.



Sambil minum minum es dan ngopi, kita buka bekal yang tadi kita beli di tengah perjalanan yaitu Ubi Bakar Cilembu. Wih ternyata masih hangat ubinya, bahkan pas dibelah, terlihat keluar asapnya, heuheuheu. Rasanya manis dan teksturnya lembut banget, ditambah aromanya yang wangi. Menurut info sih, aroma wangi ini bisa keluar maksimal kalau dibakar atau dipanggang, sedangkan kalau direbus hasil akhirnya enggak bakal sewangi dan semanis ini.

Cukup lama kita disini, beberapa bungkus jajan abis, ubi bakar juga abis disantap, sambil melihat lihat aktivitas orang orang di sekitar alun alun ini, ada yang main layang layang besar di tengah alun alun, ada yang jogging keliling, ada yang sepedaan, ada yang main game alias mabar, ada yang main basket di lapangan, dan ada pula yang cuma duduk duduk ngemil seperti kita.



***

Peta Lokasi Alun Alun Gombong

Share:

23 August 2021

Jalan Jalan Sore ke Sungai Bogowonto

 
Lokasi rumah orang tua yang dekat dengan sungai membuat aku dulu waktu kecil sering banget main di sungai, entah itu mandi mandi, lompat dari atas, nyari kerang, nyeser udang dan ikan dan bahkan pernah ikut Om-ku (paman) nyetrum ikan, heuheuheu. Untuk sungainya ada dua, sungai kecil yang merupakan sungai irigasi percabangan dari Sungai Bogowonto yang hulunya di Bendung Boro dan tentu saja Sungai Bogowontonya itu sendiri.
 
FYI, sungai bowonto ini mempunyai panjang sekitar 67 km yang hulunya ada di Gunung Sumbing dan hilirnya di Samudera Hindia. Penduduk di sepanjang Sungai Bogowonto ini memanfaatkan untuk sumberdaya perikanan baik secara tradisional dengan cara memancing atau menjala. Besarnya debit air Sungai Bogowonto juga dimanfaatkan untuk pengairan/ irigasi melalui sejumlah bendung. Ada 3 bendungan di sungai ini yakni Bendung Boro, Bendung Penungkulan, dan Bendung Triredjo / Sejiwan sebagai bendung paling atas. 
 
Saat ini sedang dilakukan pengembangan dan ekplorasi Sungai Bogowonto ini untuk sarana wisata kayaking dan arung jeram, yang beberapa waktu lalu, sebelum pandemi corona sempat viral.
 

Dulu, untuk ke sungai bogowonto, dari rumah tinggal jalan kaki aja ke arah bawah, melewati papringan (hutan bambu) lalu menyusuri tepian sungai kecil beberapa ratus meter ke arah utara, baru menyeberang melewati jembatan sungai kecil lalu jalan turun ke Sungai Bogowonto. Nah berhubung hutan bambunya sekarang udah jadi perumahan, jalan ke sungai pun ikutan lenyap, alhasil harus lewat jalan lain yang agak muter , enggak bisa langsung turun. Di sungai kecil ini, seperti biasa setiap sore atau pagi pasti ada yang beraktivitas disini, entah itu mencuci baju, main air, atau mandi mandi.


Sebelum turunan menuju Sungai Bogowonto ternyata sekarang ada fasilitas umum untuk bersih bersih, semacam kamar mandi gitu, keren deh. Jalan kecil yang berada di sebelah fasilitas umum ini lumayan sempit dan agak curam ke bawah, jadi harus hati hati, aku aja sampai kepleset karena licin, heuheuheu, alhamdulilah enggak apa apa, padahal sambil gendong si kecil.

Kondisi sungai bogowonto hari ini bisa dibilang sedang surut (jawa : asat), jadi bisa buat main air anak anak, untungnya enggak sedang meluap, bisa gagal dah main airnya. Sampai di sungainya, kurasakan tidak ada perbedaan yang berarti dengan kondisi beberapa tahun yang lalu, bahkan dengan kondisi waktu aku masih kecil juga tidak ada perubahan sama sekali.



Sungainya lebar, namun aliran air cuman ada di bagian tengah saja, dan kita pun berjalan kaki menuju kesana, untuk berjalan kesana kita harus hati hati, selain karena licin, ternyata banyak ranjau juga, haha, beberapa gundukan kotoran sapi/kerbau kulihat, ada yang masih segar, ada yang sudah mengering.

Ada dua anak dari kejauhan kulihat sedang mencari ikan, satu anak memegang seser, satunya lagi memegang ember kecil, sepertinya buat menampung hasil buruan. Dan benar saja, setelah mereka mendekat, aku coba lihat isi embernya, isinya ada ikan ikan kecil dan udang. Heuheuheu, bener bener mirip jaman kecilku dulu dah, mainnya ke sungai nyari ikan.

Aku jalan jalan keliling sungai, nyari nyari spot foto sembari liat liat sekitar, nostalgia, inget masa kecil dulu. Sedangkan si kecil asyik duduk sambil main air, kakaknya juga, tapi sekilas terlihat kakaknya agak kurang nyaman bermain air di sungai tidak seperti saat main air di pantai, tapi kalau si bungsu sih asyik asyik aja dia.

Menjelang maghrib, kita pun segera beranjak dari sungai ini, tidak ada sunset, karena matahari terbenam dibalik rimbunnya pohon bambu di arah barat.







Share:

My Youtube Channel

Blog Archive