31 August 2020

Pantai Pasir Putih Atapupu : Ngopi dan Leyeh Leyeh

 
Bisa jadi ini adalah pantai terjauh yang kita datangi di Pulau Timor dengan start dari Kota Kupang, heuheuheu. Jadi minggu kemarin tuh kita berempat ngetrip keliling Pulau Timor, nah salah satunya adalah Pantai Pasir Putih Atapupu, sesuai namanya, pantai ini berlokasi di Jl. Nasional Trans Timor, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur dengan jarak 300 kilometer dari Kota Kupang.

Dengan jarak sejauh itu dan membawa 2 anak kecil, tentunya kita enggak langsung cuss dari Kota Kupang donk, melainkan mampir mampir dulu dan menginap di Atambua. Nah kita mampir mampir kemana aja? Tenang aja, tentunya nanti akan aku tulis satu per satu di blog ini.

 

Kondisi siang itu, pantai pasir putih ini bisa dibilang sepi, hanya ada beberapa orang saja yang sudah berada di area pantai. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk, kurang jelas sih perhitungannya gimana, pokoknya kita ada 2 dewasa, 2 balita dengan 1 kendaraan roda empat, tiket masuknya 15 ribu rupiah, yah terjangkau lah ya.

Dari pintu masuk ini, aku langsung mencari tempat parkir yang teduh, enggak sulit sih karena di sepanjang pantai ini memang banyak pohon dengan daunnya yang rindang, nah diantara pepohonan ini ada warung-warung milik warga setempat yang menjual air minum botolan, kopi, pop ice, makanan ringan, pop mie dan kelapa muda.


 

Untuk bersantai, para pengunjung tidak perlu bingung duduk dimana, disini banyak banget tempat duduknya, ada meja kursi, ada lopo lopo ada pula bangunan semacam gazebo untuk banyak orang, dan ini semua tidak perlu sewa, alias gratis dipake. Anak anak pun pasti suka banget main di pantai ini, selain pasirnya putih lembut, tidak ada ombak, di sini banyak ayunan, yang ukurannya ada yang kecil khusus untuk anak.

 

Cocok banget nih buat bersantai siang, terutama buat aku yang lumayan capek nyetir beratus ratus km, heuheuheu. Disaat si kecil asyik main ayunan, aku pilih pesen kopi item dan duduk leyeh leyeh di kursi warna warni di bawah pohon.

Pantai sepanjang 500 meter ini sebenernya fotogenik banget, dan asyik untuk dieksplore, di kanan kiri pantai ini terdapat hutan bakau, dan di arah kanan sana terdapat perahu perahu nelayan kecil yang lucu untuk difoto, tapi karena lagi males explore, aku cuma duduk aja, enggak kemana mana, heuheuheuheu.

Enak enak enak, lumayan lama kita santai santai disini, sebelum melanjutkan perjalanan Timor Overland selanjutnya. Nah buat kalian yang ada rencana atau tugas ke Atambua, wajib dah mampir ke pantai ini, cuman 40 menit kok dari pusat kota atambua.


Peta Lokasi Pantai Pasir Putih Atapupu, NTT

Share:

24 August 2020

Pantai Ketapang Satu : Banyak Belingnya


Entah dimana yang nomor dua, Pantai Ketapang Satu ini rupanya cukup ramai ya di sore hari. Dahulunya enggak tertarik sama sekali untuk menjamah pantai ini, padahal lumayan sering lewat jalan di depan pantai ini.

Pantai Ketapang Satu ini terletak di daerah Todekisar, Kota Lama, Kupang. Persis di sebelah Jalan Sumatera dan berdampingan dengan Hotel Timor.


Tidak ada tempat parkir khusus, jadi para pengunjung harus parkir kendaraan di tepi jalan Sumatera, tanpa petugas parkir, tanpa tiket masuk. Kalau dari jalan sih, pantainya enggak terlalu kelihatan, tertutup semacam pagar beton, tapi ternyata di baliknya ada tangga turun ke pantainya lho.

Setidaknya aku sudah 3 kali ke pantai ketapang satu dalam 2 bulan terakhir ini, enggak tahu nih anak anakku seneng main pasir di sini. Dan setiap kesini ya pasti basah basahan kotor kotoran main pasir, sedangkan kita orang tuanya, duduk asik, ngunyah makanan yang dibawa sambil ngawasin mereka main.



Coba deh lihat capture-an google maps di bawah ini, disitu udah aku kasih nomor dari 1 sampai 6, untuk penjelasannya sebagai berikut :
  1. Hotel Timor dengan view Pantai Ketapang Satu
  2. Pintu Masuk Pantai Ketapang Satu, disini ada tangga untuk turun langsung ke pantainya, ada jalan cabang ke arah kanan untuk menuju ke arah jembatan yang ada Salibnya, ada warung/cafe yang menjual makanan, ada pula toilet
  3. Ada semacam jembatan/jalan beton ke arah bebatuan karang yang di mana di ujungnya terdapat 3 salib besar
  4. Bibir pantai ketapang satu, tempat kita piknik/main main pasir di kedatangan pertama dan kedua
  5. Semacam tanjung/daratan yang menjorok ke lautan dimana terdapat beberapa kursi dan di ujungnya ada patung dua orang yang sedang duduk membelakangi pantai
  6. Bibir pantai ketapang satu, tempat kita piknik/main pasir di kedatangan yang ketiga kalinya


Oia, tambahan, di titik nomor 4 itu banyak kita temukan bekas pecahan botol warna warni yang menyatu dengan pasir dan batu batu kecil, lucu juga sih, kalau dikumpulin jadi kayak gini :


Pecahan botol itu udah enggak tajem di ujung ujungnya, mungkin udah terkikis air laut dan gesekan dengan pasir, jadi pas nemu ini tuh rasanya kaya nemu batu batu permata di antara pasir dan bebatuan, heuheuheu.

***

Peta Lokasi Pantai Ketapang Satu, Kupang





Share:

17 August 2020

Pantai Haubenkase Kupang : Batu Warna Warni Mirip Kolbano

Beberapa waktu yang lalu aku menemukan info tentang pantai ini secara tidak sengaja, aku lagi iseng iseng aja searching di youtube tentang pantai pantai di Kupang, eh aku lihat ada pantai yang namanya cukup unik ya, nama pantainya adalah Pantai Haubenkase Buatam. Wew, aku langsung gali informasi lebih jauh lah mengenai pantai ini.

Pantai Haubenkase ini secara geografis terletak di wilayah Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, NTT. Nah melihat lokasinya yang ada di daerah Amarasi, aku agak ragu sih kesana karena pernah mengalami perjalanan yang sangat menakutkan saat menjangkau pantai pantai di Amarasi Timur, perjalanan itu pernah aku tulis di sini.

Tapi ada satu hal yang membuat aku semangat untuk kesini, yaitu adalah bahwa pada tanggal 7 September 2019, Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat bersama jajaran pejabat melakukan kunjungan kerja ke Pantai ini. Wah dalam hati, "berarti jalan menuju ke pantai ini manusiawi donk ya". Woke di tanggal 25 Juli 2020 kemarin kita pun cuss ke Pantai Haubenkase ini.

Dengan menggunakan bantuan Google Maps, aku pun mempercayakan rute yang dibuatkan oleh aplikasi itu, yaaa meskipun pernah dikecewakan sih, dibuatkan rute yang mengerikan pas di Amarasi Timur.

Dari Kota Kupang, kita mengarahkan kendaraan ke daerah Baun yang sudah terkenal akan kuliner Babi nya. Jalur menuju Baun ini sudah aspal namun lumayan sempit, dan banyak lubang di sisi sisi aspalnya, jadi kalau sisipan dengan kendaraan dari depan, harus pelan dan kadang sampai berhenti, buat gantian lewat, apalagi pas ada truk lewat dari depan.

Di rute ini ada satu spot yang cukup curam dan menikung, tapi untungnya sudah diperkeras menggunakan beton, mungkin karena struktur tanah di spot ini yang enggak stabil ya, jadi di titik ini bukan aspal, melainkan beton seperti di jalan tol gitu.

Kondisi jalan menjadi lumayan rame saat mendekati Pasar Baun. Sepertinaya disini memang pusat perekonomian warga baun, ada kantor pos, puskesmas, kantor pegadaian dan kantor bank ntt.

Kondisi jalan yang awalnya aspal dengan lobang lobang, berubah menjadi aspal yang cukup rusak menyisakan bebatuan yang menjadi dasar aspal, dan sekitar 1 km sebelum lokasi jalan berubah menjadi jalan tanah berwarna putih, yuph FYI tanah di kupang ini memang didominasi tanah kapur berwarna putih yang kalau pas musim kemarau gini debunya akan mengebul dengan bebas, heuheuheu.

Lumayan seru sih di spot belokaan terakhir, menurun dengan bentuk huruf S, dan kondisi jalan tanah, untungnya ini musim kemarau, jadi pede lewat, kalau musim penghujan mungkin aku ragu untuk melewati spot ini, mengingat kondisi ban kendaraan yang cuma ban eco yang udah mulus mulus, heuheuheu.


Pantai Haubenkase Buatam ini memang sudah dikelola dengan baik oleh jemaat Gereja Ebenhaezer, yang lokasi gerejanya persis sebelum jalan masuk menuju pantai ini.

Ada sebuah portal bambu yang dibentangkan di jalan masuk ini, dan untuk memasukinya kita membayar 10 ribu saja, ini tarif untuk kendaraan roda empat ya, kalau untuk motor tentunya berbeda.

Huaaaa ternyata pantai ini luas banget, dalam artian dari parkiran ini kita harus berjalan lagi melewati daratan pasir dan batu untuk bisa menyentuh air lautnya.

Oia di parkiran ini ternyata ada warung nya gaes, sekilas sih menjual kopi kopian dan makanan ringan. Sedangkan di sebelah parkiran ini terdapat beberapa spot foto foto dengan background  tulisan ala ala gitu, dan ada beberapa lopo lopo/gazebo yang disewakan di atas bebatuan.


Kita sih enggak tertarik kesitu, kita langsung jalan menuju pantainya, agak buru buru sih, enggak bisa terlalu explore jauh karena udah lumayan sore, jam 5 sore lewat kita baru sampai sini, perkiraanku salah, jam 3 lewat dari kupang ternyata kesorean, karena jalan yang rusak, kendaraan hanya bisa berjalan pelan.

Langsung kita gelar karpet/alas untuk duduk dan membuka bekal yang kita bawa, laper juga ternyata nyetir dari kupang kesini. Saat aku makan, anak anak lagi seru bermain pasir dan lari lari kesana kemari.


Sore ini kondisi pantai tidak ramai, cuma ada 3 group, itupun karena pantainya yang luas banget jadi kerasa sepi pantainya, sisi positipnya jadi lebih nyaman untuk piknik.

Di sisi kanan pantai ini terdapat bukit batu dengan pohon enau/palem/apalah itu aku enggak tahu, heuheuheu yang tegak kokoh berdiri , entah apa yang ada di balik bukit batu itu, mungkin ada pantai juga, sedangkan di arah kiri kita duduk terbentang luas pantainya. Untuk pasir di pantai haubenkase ini bercampur dengan batu batu cantik berwarna warni, mirip dengan pantai kolbano, cuman bedanya di kolbano enggak ada pasirnya, kalau disini ada pasirnya.



Cukup singkat sih kita berada disini, agak nyesel juga karena berangkatnya kesorean, baru nyampai jam 17.11 dan jam 17 50 udah siap berkemas buat balik kupang, karena serem juga kalau balik malem malem dengan kondisi jalan yang seperti itu.

Semoga pemerintah segera memperbaiki jalan menuju ke pantai ini ya, karena lumayan berpotensi lho pantai ini...

***

Peta Lokasi Pantai Haubenkase, Kupang


.



Share:

10 August 2020

Gagal ke Lelogama

(Mei 2020)

Lelogama adalah suatu daerah di daerah Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, di Kaki Gunung Timau. Nah salah satu hal yang membuat aku tertarik banget untuk menjelajah Lelogama adalah adanya pembangunan Observatorium dengan teleskop terbesar di Asia Tenggara.

Tentang Observatorium (diolah dari berbagai sumber)
FYI, Saat ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang membangun observatorium nasional di Timau, Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur lho. Menariknya, wilayah tempat observatorium ini nantinya akan jadi destinasi Taman Nasional Langit Gelap pertama di Indonesia

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan observatorium nasional di Gunung Timau ini akan menggantikan observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Alasannya, dari tahun 1923 sampai dengan 1970an observatorium Bosscha masih berfungsi baik, namun pada tahun 1980an kota Bandung sudah semakin terang, polusi cahayanya sudah terlalu tinggi. Jadi untuk memotret galaksi dan objek yang redup sudah sangat sulit. Maka, pada sekitar tahun 2011, tim astronom dari Institut Teknologi Bandung melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari lokasi yang cocok dijadikan tempat observatorium baru. 

Pilihan akhirnya jatuh di sekitar lereng gunung Timau, NTT. Yang istimewa, observatorium di Timau ini akan menjadi rumah bagi teleskop terbesar di Asia Tenggara, dengan diameter 3,8 meter. Keberadaan observatorium nasional Timau, bisa menyumbang perkembangan sains dan teknologi antariksa di Indonesia. Selain itu, observatorium Timau juga akan mampu menjadi daya tarik wisatawan karena menjadi observatorium terbesar di Asia Tenggara (semoga ya, aamiin)

Untuk mendukung proyek tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur membangun jalan raya sepanjang 40 kilometer, dimulai dari jalur utama Kupang - So'e di daerah Takari Kab Kupang menuju ke kawasan obsevatorium terbesar di Asia Tenggara di Gunung Timau. Nah jalan raya ini baru selesai di awal tahun 2020 ini, ya meskipun sebenarnya belum selesai 100% sih, padahal deadline nya tuh akhir tahun 2019 oh, tapi ngaret, sudah diperpanjang sampai batas waktu, namun masih ada beberapa spot yang belum teraspal.

Pembangunan jalan ini bagi masyarakat lelogama merupakan anugrah yang luar biasa, karena sebelumnya, jalur sepanjang 40 km kondisinya rusak banget nget nget, kalau kemarau, kering berdebu berbatu batu, kalau musim penghujan becek dan licin plus kontur jalan yang naik turun serta berkelak kelok. Coba deh cari videonya di youtube, banyak banget yang upload mengenai rusaknya jalan menuju Amfoang sebelum diaspal lagi.

***

Pagi Pagi setelah sarapan, kita berempat pun bersiap berangkat ke arah Lelogama. Perbekalan untuk makan siang sudah kita siapkan, rencananya sih untuk dimakan di Lelogama, biar dsana enggak perlu beli makan, namun dalam perjalanan ke Lelogama Amfoang Selatan, kita tetep mampir ke Alfamart dulu untuk membeli cemilan dan kopi botolan, biar enggak ngantuk pas nyetir.

Perjalanan menyusuri Jalan Timor Raya cukup lancar, tidak terlalu banyak mobil berlalu lalang, jalanan pun sudah aspal mulus, cuman mulai berkelak kelok saat memasuki daerah Camplong.

Nah di daerah Takari, sebelum Jembatan Panjang Batuputih, kita keluar jalur utama, masuk ke jalur menuju amfoang, di persimpangan jalan ini lumayan rame, banyak warung dan terdapat beberapa angkot yang mangkal menunggu penumpang.

Jalan ini adalah titik awal dari jalur yang diaspal mulus tahun 2019 kemarin dan sepanjang 40 km ke depan akan mulus terus (harusnya sih). Eh tapi kenyataannya enggak, masih ada beberapa spot yang belum teraspal. Videonya bisa kaliaan lihat di sini.

Nah dalam perjalanan ini, kita harus melewati sebuah jembatan yang cukup mendebarkan sih, tiang tiang dan tulangnya sih dari besi besi kokoh, tapi alas atau jalan pada bagian jembatan tersebut terbuat dari bilah bilah kayu, heuheuheu. ngeri juga sih kalau sampai ambrol.. Nama jembatan ini adalah Jembatan Kali Kering.




Ada sebuah plakat di jembatan ini, seperti yang kalian lihat di foto di atas ini, ada beberapa informasi yang kita dapat, yaitu bahwa proyek jembatan ini dibangun menggungan anggaran tahun 2001 dan menghubungkan daerah Bokong dengan Lelogama, heuheuheu, ya Bokong, kalau kalian orang jawa pasti akan tersenyum atau mungkin ketawa saat pertama melihat ini. FYI Bokong disni adalah nama daerah yaaaa.

Nah setelah itu kita lanjut perjalanan lagi, eh ternyata enggak seseram yang dibayangkan saat menyeberang jembatan ini menggunakan kendaraan.


Beberapa kilometer dari Jembatan Kali Kering tadi, perjalanan kita dihentikan oleh beberapa petugas/hansip. Mereka menyuruh kita turun, cek masker, menanyakan tujuan kita kemana, menyuruh cuci tangan dahulu untuk semua orang yang ada di dalam kendaraan, dan mengisi nama di buku, semacam buku tamu atau buku pengawasan. Kirain bakal disuruh balik nih, eh ternyata enggak donk, habis itu kita diperbolehkan lanjut perjalanan menuju Lelogama.


Tidak jauh dari titik pemeriksaan tadi, kita sampai di satu spot yang membuat kita tuh pengen banget berhenti dan foto foto, enggak tahu ini nama spotnya apa, yang jelas cantik untuk diabadikan. Background bukit batunya itu lho, seakan menyembul diantara hijaunya pepohonan, ini mirip mirip dengan bukit bukit batu di Gunung Fatuleu.



Setelah puas foto foto, kita pun lanjut perjalanan.

Perasaan happy karena perjalanan menuju lelogama sudah tidak jauh lagi, tiba tiba sirna begitu saja karena beberapa kilometer dari spot foto foto tadi, perjalanan kita kembali dihentikan, kali ini bukan oleh hansip, tapi oleh aparat TNI yang dengan tegas dan sopan menyuruh kita untuk balik, karena jalan sementara ditutup portal dan hanya warga setempat yang boleh lalu lalang melewati portal ini, huhuhuhuhu, sedih banget..... Tapi untungnya anak anak enggak nangis ya, mereka tetep happy diajak jalan jalan meskipun enggak sampai tujuan.

Ya sudah kita pun langsung puter balik, kembali ke Kota Kupang dalam kondisi lapar, karena sudah waktunya makan siang dan bekal makan siang yang kita bawa pun kita bawa balik, heuheuheu

***

NB : Perjalanan ini kita lakukan di Bulan Mei 2020, nah mulai tanggal 15 Juni spot ini sudah dibuka kembali untuk umum, dan kita pun melakukan perjalanan kembali kesini pada akhir Bulan Juli 2020 kemarin, tunggu ya tulisan mengenai serunya piknik ke Lelogama, tapi kalau kalian mau nonton VLog kita Piknik Seru di Lelogama, bisa meluncur ke https://www.youtube.com/watch?v=IeQmC8chozg



Share:

3 August 2020

Hotel Instagramable Untuk Staycation di Yogyakarta


Beberapa bulan belakangan kita tidak dapat menikmati serunya liburan karena pademi yang menyerang negara ini. Bahkan sebelum era new normal dimulai kita terpaksa harus dirumah saja selama tiga bulan lebih. Kejenuhan karena terlalu lama di rumah pasti sudah sangat kita rasakan saat ini. Nah di era new normal ini banyak sekali hal-hal yang harus kita ubah, demi tetap merasa aman dan terhindar dari virus. Gaya berlibur pun tampaknya saat ini butuh kita sesuaikan lagi. Jika dulu liburan identik dengan pergi mengunjungi berbagai objek wisata di luar kota dan bertemu banyak pengunjung, maka sekarang mungkin kita belum bisa untuk melakukan hal itu dulu. Namun bukan berarti kita tidak bisa memanjakan diri untuk berlibur, karena kita masih bisa melakukan liburan ala staycation.

Staycation merupakan salah satu jenis liburan yang mudah dilakukan karena kita hanya cukup bermalam di salah satu penginapan terbaik yang ada di kita. Tidak butuh biaya yang banyak untuk menikmati liburan jenis ini karena tidak membutuhkan biaya transportasi. Menginap di hotel terbaik dengan fasilitas lengkap tentu bisa memanjakan diri kita dan menghilangkan kejenuhan akibat selalu berdiam diri di rumah selama ini. Apalagi sekarang ini banyak sekali promo hotel traveloka yang bisa kalian manfaatkan untuk bisa menginap di hotel bagus dengan potongan harga yang tinggi. Untuk kalian yang tinggal di Yogyakarta, beberapa hotel berikut mungkin bisa dijadikan salah satu pilihan terbaik untuk staycation.

1.      Adhisthana Hotel
Hotel yang satu ini berlokasi di Jalan Prawirotaman 2 No 613, Brontokusuman, Kota Yogyakarta. Hotel ini memiliki gaya arsitektur yang unik dengan menonjolkan nuansa kejawaan dengan gaya modern minimalis. Selain itu adhisthana hotel didominasi dengan warna yang tidak mencolok, seperti putih, abu-abu, coklat hangat, dan juga biru tua yang membuat hotel semakin terkesan elegan. Untuk kalian yang sangat suka berfoto maka hotel ini cukup instagramable karena banyak sudut hotel yang bisa dijadikan spot berfoto. Salah satu fasilitas hotel ini yang patut kalian coba juga adalag café kecil yang diberi nama Lawas café. Café ini dihiasi oleh art painting yang cantik dan juga bergaya minimalis, sehingga cocok juga untuk dijadikan spot berfoto

2.      Uniq Hotel Yogyakarta
Hotel yang satu ini memiliki arsitektur bangunan yang menarik dengan mural-mural artistik yang menghiasi beberapa sudut ruangan. Bagi kalian yang ingin menginap di hotel yang instagramable maka ini juga sebuah pilihan yang tepat. Di sini kalian juga akan dimanjakan dengan beberapa fasilitas seperti Restaurant & Café, family room, dan bahkan mereka juga memiliki meeting room. Hotel ini memiliki cukup banyak kamar dengan jenis bergaram yang bisa kalian pilih sesuai keinginan. Lokasi dari hotel ini sendiri adalah di Jalan Magelang No 16, Kricak, Tegalrejo, Kota Yogyakarta

3.      Tjokro Style
Tjokro Style merupakan salah satu hotel bintang tiga dengan harga terjangkau yang cocok untuk kalian yang ingin staycation bersama keluarga atau teman. Hotel ini mengusung konsep desain yang kontemporer dengan tema muda, modern, dan penuh warna. Di hotel ini kalian bisa menemukan banyak spot foto yang instagramable yang bisa memuaskan kalian yang suka berfoto. Hotel ini terletak di Jalan Menteri Supeno No 48, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Di hotel ini kalian bisa memanjakan diri dengan banyak fasilitas seperti kolam renang, restaurant, dan bahkan tempat spa.

Nah kira-kira hotel instagramable mana yang paling kalian suka? Jangan lupa pantengin traveloka ya untuk mendapatkan tawaran promo hotel traveloka yang sangat menggiurkan. 

Share:

Youtube

Blog Archive