28 September 2020

Menengok Timor Leste di PLBN Motaain

Masih inget dengan postingan tentang jalan jalan kita di PLBN Wini? nah kali ini aku mau nulis cerita perjalanan ke PLBN Motaain.

Perjalanan ke kedua tempat perbatasan Timor Leste tersebut sebenarnya kita lakukan dalam 1 trip namun beda hari, karena lumayan jauh dari kota Kupang, jadinya kita bermalam dulu di Atambua sebelum ke PLBN Motaain.

 
Pagi itu, setelah sarapan di Hotel Matahari Atambua lalu check out, kita pun meluncur menuju PLBN Motaain sekitar pukul 09.00 Wita, perjalanan kali ini tidak jauh, hanya berjarak 21 kilometer saja, perkiraan dari google maps sih bisa ditempuh dalam waktu setengah jam. Karena itulah kita enggak buru buru, dalam perjalanan PLBN kita mampir mampir dulu ke ATM, isi bensin, beli minuman serta camilan untuk di perjalanan.

Meskipun dekat, ternyata jalan yang kita lalui lumayan menanjak lalalu langsung dibalas dengan turunan, alhamdulilah untungnya jalan sudah super mulus dan entah kenapa sepi banget siang ini, padahal ini hari libur loh. Hal yang perlu diwaspadai sebenarnya adalah ternak warga seperti kambing, sapi dan ayam yang dibiarkan bebas berkeliaran, takutnya tiba tiba nyebrang gitu.



Berbeda dengan PLBN Wini yang harus parkir kendaraan di luar gerbang (kalau gak punya kenalan petugas), di PLBN Motaain ini kita bisa bawa masuk kendaraan melewati gerbang depan, caranya gampang banget, saat di gerbang tinggal minta ijin saja ke petugas, bilang mau foto foto, lalu kita diminta meninggalkan kartu identitas seperti KTP atau SIM (salah satu aja dari pengunjung), dan kita diberi kartu parkir, waktu dikasih kartu parkir ini, aku sempet basa basi ke petugasnya, "Pak, ada biaya parkirnya?" Lalu beliau menjawab "Terserah saja pak, kalau mau ngasih ya seikhlasnya".



Jarak dari Pintu gerbang utama ke gerbang kedua/portal penjagaan kedua sekitar 500 meter, nah disini kendaraan harus diparkirkan, tidak boleh masuk kecuali punya kenalan petugas, seperti temenku dulu kesini bisa naik mobil bahkan sampai ke gerbang timor leste nya.

Dari parkiran ini, kita berjalan masuk melewati jalur di sebelah kiri, mulai dari bagian depan Wisma Indonesia, meskipun panas, jalurnya lumayan teduh karena ada atapnya. Kita ikutin terus jalurnya sampai mentok ke belakang.


Di bagian paling belakang ini adalah gerbang terakhir menuju perbatasan Timor Leste, alhamdulilah gerbangnya dibuka dengan dijaga beberapa petugas PLBN dan TNI berseragam loreng, kita sempat menyapa mereka sebentar dan minta ijin foto foto sampai ke jembatan perbatasan yang separo wilayah NKRI dan separo masuk Timor Leste dengan ditandai oleh cat di pagar jembatan, sebelah sini berwarna merah putih sedangkan di sebelah sana berwarna merah kuning hitam. Di spot ini juga terdapat tugu dengan plakat yang ditandatangi oleh DR Jose Ramos Horta dan DR N Hassan Wirajuda.



 
Selepas puas foto foto, kita duduk duduk dulu beristirahat di dekat posko penjagaan, panas banget gaes siang ini, sudah lama NTT tidak diguyur hujan, keriing abiss, tapi untungnya ada pemandangan sekelompok orang yang lagi joget tiktok di depan tulisan "Motaain Indonesia", lumayan buat hiburan.

Enggak lama kita istirahat, karena si kecil udah rewel, kita pun cabut balik ke parkiran, ambil mobil lalu lanjut ke Pantai Atapupu, nah pas di gerbang keluar, kita ambil KTP yang pas masuk tadi ditinggalkan dan bayar parkir 10ribu. Sebenarnya enggak ada tarif parkir resminya sih, tapi gpp, kita ikhlas, yaa itung itung buat beli cemilan petugasnya.

***

Peta Lokasi PLBN Motaain - Perbatasan Timor Leste

Share:

21 September 2020

Mampir ke Pantai Wini, Timor Tengah Utara

 
Selepas mengunjungi perbatasan Timor Leste di PLBN Wini, rencana kita adalah menuju ke Kota Atambua, namun tentunya kita bakal mampir ke tempat tempat wisata yang kita lewati, nah salah satunya adalah Pantai Wini.
 
Pantai Wini ini lokasinya sangat dekat dengan PLBN Wini, masuk ke wilayah Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara.
 

Berada persis di tepi jalan, pantai ini tidak memiliki parkir khusus kendaraan, jadi pengunjung harus parkir di badan jalan, tapi untungnya jalan di sini ada 4 lajur, jadi tidak menimbulkan kemacetan, apalagi jalanan ini juga lumayan sepi.
 
Pantai yang cantik dan terawat ini tidak ada penjaganya, tidak ada tiket masuk ataupun biaya parkir, pengunjung bisa bebas menikmati pantai wini lengkap dengan fasilitasnya, seperti playground untuk anak anak ini.
 

 
wah coba di kupang pantainya ada tempat mainnya gini, khan asyik nih, banyak pohon pula, jadi adem meskipun di waktu siang bolong gini. Oia di pantai ini alhamdulilah enggak ada warung, jadi terlihat lebih rapi dan bersih, heuheuheu
 
Di pantai ini kita sama sekali enggak menyentuh air lautnya, bahkan mendekat ke garis pantainya saja enggak, karena udah terlanjur nyaman di playground ini. Lumayan lama sih mereka main main
 
Setelah puas, kita pun melanjutkan trip ke Kota Atambua. Nah buat kalian yang lagi di Pulau Timor dan bingung mau jalan jalan kemana, ini bisa dijadikan alternatif pilihan, yaaa meskipun lumayan jauh dari pusat Kota Kupang :)
 


 
***
 
Peta Lokasi Pantai Wini, NTT
 
Share:

14 September 2020

Akhirnya Sampai Juga di PLBN Wini : Perbatasan Timor Leste

 
Semenjak pindah kerja ke daerah Kupang, NTT, salah satu tempat yang harus dan wajib kukunjungi adalah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Nah setelah 2 tahun di Kupang, alhamdulilah aku berhasil juga menjejakkan kaki ke perbatasan tersebut, namun baru 2 titik perbatasan yaitu Wini dan Motaain, sedangkan Motamasin yang berada di bagian selatan Pulau Timor belum.
 
Kali ini, di postingan ini aku akan menuliskan ceritaku saat mengunjungi perbatasan Indonesia - Timor Leste di daerah Wini.
 
Semasa pemerintahan Presiden Jokowi, bangunan perbatasan adalah salah satu fokus pembangunan, dari yang dulu awalnya biasa aja berubah keren, megah dan menjadi salah satu tujuan wisata foto foto. Bangunan ini diberi nama PLBN, yang merupakan kependekan dari Pos Lintas Batas Negara.

FYI wilayah timor leste di pulau timor tuh aneh deh, selain ada wilayah utama di ujung timur pulau timor, ada satu lagi wilayah timor leste yang berada di tengah tengah wilayah NTT, terpisah dari wilayah utama. Coba deh lihat peta di bawah ini, 


Nah warna kuning yang nyempil diantara warna coklat itulah wilayah timor leste yang terpisah dari wilayah utama dimana pintu masuknya adalah PLBN Wini.

Menurut info dari pemilik warung yang lokasinya enggak jauh dari PLBN Wini, tempat ini adalah salah satu tempat pelarian orang orang kupang yang nyari tempat wisata alternatif, dan di long weekend ini menurutnya banyak orang dari kupang yang kesini, salah empatnya sih kita, heuheuheu. 

Mobil parkir di luar
 
Untuk bisa masuk foto foto di bagian dalam PLBN tidaklah sulit, apalagi kalau kalian punya kenalan penjaga PLBN atau Petugas Bea Cukai, bisa masuk naik kendaraan sampai belakang. Nah kalau kita ini yang datang tanpa kenalan, parkir dulu kendaraannya di luar/di depan gerbang, lalu ijin/lapor di pos keamanan. Nah berhubung sekarang masih dalam masa pandemi corona, setiap pengunjung harus memakai masker, diukur suhu tubuh menggunakan thermogun, cuci tangan menggunakan sabun dan isi buku tamu, baru deh bisa masuk foto foto.



 
Di bagian depan ini terdapat tulisan Wini Indonesia, di sampingnya terdapat bangunan semacam lopo lopo yang lumayan luas. Disini kita berteduh sebentar, panas banget gaess siang ini.

Sesuai petunjuk dari penjaga keamanan tadi, kita harus berjalan ke arah kiri kalau mau sampai belakang, dimana disana ada tugu burung garuda raksasa yang menghadap barisan pegunungan indah di seberang sana.





Namun sayang sekali pintu gerbang belakang yang menuju ke Timor Leste sedang ditutup rapat, kita gak bisa melewatinya, meskipun cuma numpang foto. Ya sudah setelah foto foto di sekitar tugu burung garuda raksasa, kita pun bergegas jalan balik ke depan dan melanjutkan trip Timor Overland kali ini.

***

Peta Lokasi PLBN Wini - Timor Leste

Share:

7 September 2020

View Cantik Bendungan Rotiklot dari Wisata Sabanase


Kondisi jalan dari Wini ke Atambua memang sebagian besar bikin kurang nyaman, aspal sih aspal, tapi semacam lapisan atas aspalnya itu udah lepas semua, meninggalkan jalan kasar yang bikin suara ban tak terbendung berisiknya masuk ke kabin kendaraan. Namun alhamdulilah penderitaan penumpang ini usai setelah melewat pertigaan Pasar Lakafehan, Kab Belu. Dari pertigaan ini kita ambil jalan yang ke kanan, karena kalau ke kiri, jalan akan mengarah ke Atapupu dan PLBN Motaain.
 
Di peta, jalur ini bernama Jalan  Nasional Trans Timor / Jalan Ki Hajar Dewantara, kondisinya mulus namun berkelak kelok dan menanjak terus. Bila dibandingan jalur tadi yang relatif datar tapi grudak gruduk, aku sih mending yang ini dah, naik turun kelak kelok tapi mulus.

Harus ekstra hati hati lewat jalur ini, jangan sampai terlena oleh keindahan pemandangan di kanan kirinya, apalagi kalau pas ketemu truk truk besar yang membawa kontainer, beuhh mantap jiwaa.

Sekitar 2.5 kilometer dari pertigaan pasar tadi, di sebelah kanan terdapat pintu gerbang menuju Bendungan Rotiklot yang telah diresmikan oleh Presiden Jokowi tanggal 20 Mei 2019. FYI, bendungan rotiklot ini adalah salah satu dari tujuh bendungan yang menjadi progamnya pak jokowi, semementara yang sudah jadi di Pulau Timor adalah Bendungan Rotiklot dan Raknamo, sedangkan yang masih dalam pembangunan yaitu Bendungan Temef di Kecamatan Polen, Kab Timor Tengah Selatan dan Bendungan Manikin di Kecamatan Taebenu, Kab Kupang. 

Pintu Masuk Sabanase

Agak galau juga sih awalnya, antara mau mampir atau enggak, tapi ahh sudahlah aku lewatin saja, heuheuheu. Hingga akhirnya 3 km setelah pintu gerbang tadi aku melihat sebuah percabangan jalan ke kanan yang pas kulihat di peta itu adalah jalan masuk ke Wisata Alam Sabanase. Meskipun kendaraan sudah terlewat beberapa meter ke depan, aku pun menghentikan kendaraan dan puter balik, enggak tahu kenapa tiba tiba tertarik aja.

Dari jalan utama tadi, enggak jauh, palingan cuma 100 meter saja dan kita sampai di pintu gerbang Wisata Sabanase. Dari pintu gerbang ini sebenarnya mobil masih bisa masuk melewati jalan tanah yang sedikit menurun, namun aku sengaja parkir kendaraan di depan gerbang biar gak susah baliknya.


 
Untuk bisa menikmati pemandangan dari Wisata Sabanase ini ada tiket masuknya, tapi murah cuma 5 ribu rupiah aja untuk orang dewasa, sedangkan anak anak enggak ditarik uang tiket. Nah dari uang 5 ribu tadi sudah termasuk parkir dan minuman teh atau kopi, mantap.
 
Bangunan utama dari Sabanase ini adalah bangunan dengan tiang kayu, lantai kayu dan atap dari daun kering, sungguh syahdu menyatu dengan alam. Dalam bangunan utama ini terdapat beberapa tempat duduk dan meja, serta penjual makanan ringan dan minuman, di tempat ini pula tempat kita menukarkan tiket masuk dengan teh atau kopi. Nah ujung dari bukit ini terdapat 2 spot foto dengan background bendungan rotiklot yang cantik. 



Menjelang senja, matahari semakin turun di balik bendungan rotiklot yang tentunya kalau foto menjadi backlight, jadi menurutku sih cocoknya pagi ya buat foto foto disni biar dapat background yang lebih jelas dan cantik.
 

Peta Lokasi Wisata Sabanase, Kab Belu, NTT

Share:

31 August 2020

Pantai Pasir Putih Atapupu : Ngopi dan Leyeh Leyeh

 
Bisa jadi ini adalah pantai terjauh yang kita datangi di Pulau Timor dengan start dari Kota Kupang, heuheuheu. Jadi minggu kemarin tuh kita berempat ngetrip keliling Pulau Timor, nah salah satunya adalah Pantai Pasir Putih Atapupu, sesuai namanya, pantai ini berlokasi di Jl. Nasional Trans Timor, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur dengan jarak 300 kilometer dari Kota Kupang.

Dengan jarak sejauh itu dan membawa 2 anak kecil, tentunya kita enggak langsung cuss dari Kota Kupang donk, melainkan mampir mampir dulu dan menginap di Atambua. Nah kita mampir mampir kemana aja? Tenang aja, tentunya nanti akan aku tulis satu per satu di blog ini.

 

Kondisi siang itu, pantai pasir putih ini bisa dibilang sepi, hanya ada beberapa orang saja yang sudah berada di area pantai. Untuk masuk kesini dikenakan tiket masuk, kurang jelas sih perhitungannya gimana, pokoknya kita ada 2 dewasa, 2 balita dengan 1 kendaraan roda empat, tiket masuknya 15 ribu rupiah, yah terjangkau lah ya.

Dari pintu masuk ini, aku langsung mencari tempat parkir yang teduh, enggak sulit sih karena di sepanjang pantai ini memang banyak pohon dengan daunnya yang rindang, nah diantara pepohonan ini ada warung-warung milik warga setempat yang menjual air minum botolan, kopi, pop ice, makanan ringan, pop mie dan kelapa muda.


 

Untuk bersantai, para pengunjung tidak perlu bingung duduk dimana, disini banyak banget tempat duduknya, ada meja kursi, ada lopo lopo ada pula bangunan semacam gazebo untuk banyak orang, dan ini semua tidak perlu sewa, alias gratis dipake. Anak anak pun pasti suka banget main di pantai ini, selain pasirnya putih lembut, tidak ada ombak, di sini banyak ayunan, yang ukurannya ada yang kecil khusus untuk anak.

 

Cocok banget nih buat bersantai siang, terutama buat aku yang lumayan capek nyetir beratus ratus km, heuheuheu. Disaat si kecil asyik main ayunan, aku pilih pesen kopi item dan duduk leyeh leyeh di kursi warna warni di bawah pohon.

Pantai sepanjang 500 meter ini sebenernya fotogenik banget, dan asyik untuk dieksplore, di kanan kiri pantai ini terdapat hutan bakau, dan di arah kanan sana terdapat perahu perahu nelayan kecil yang lucu untuk difoto, tapi karena lagi males explore, aku cuma duduk aja, enggak kemana mana, heuheuheuheu.

Enak enak enak, lumayan lama kita santai santai disini, sebelum melanjutkan perjalanan Timor Overland selanjutnya. Nah buat kalian yang ada rencana atau tugas ke Atambua, wajib dah mampir ke pantai ini, cuman 40 menit kok dari pusat kota atambua.


Peta Lokasi Pantai Pasir Putih Atapupu, NTT

Share:

24 August 2020

Pantai Ketapang Satu : Banyak Belingnya


Entah dimana yang nomor dua, Pantai Ketapang Satu ini rupanya cukup ramai ya di sore hari. Dahulunya enggak tertarik sama sekali untuk menjamah pantai ini, padahal lumayan sering lewat jalan di depan pantai ini.

Pantai Ketapang Satu ini terletak di daerah Todekisar, Kota Lama, Kupang. Persis di sebelah Jalan Sumatera dan berdampingan dengan Hotel Timor.


Tidak ada tempat parkir khusus, jadi para pengunjung harus parkir kendaraan di tepi jalan Sumatera, tanpa petugas parkir, tanpa tiket masuk. Kalau dari jalan sih, pantainya enggak terlalu kelihatan, tertutup semacam pagar beton, tapi ternyata di baliknya ada tangga turun ke pantainya lho.

Setidaknya aku sudah 3 kali ke pantai ketapang satu dalam 2 bulan terakhir ini, enggak tahu nih anak anakku seneng main pasir di sini. Dan setiap kesini ya pasti basah basahan kotor kotoran main pasir, sedangkan kita orang tuanya, duduk asik, ngunyah makanan yang dibawa sambil ngawasin mereka main.



Coba deh lihat capture-an google maps di bawah ini, disitu udah aku kasih nomor dari 1 sampai 6, untuk penjelasannya sebagai berikut :
  1. Hotel Timor dengan view Pantai Ketapang Satu
  2. Pintu Masuk Pantai Ketapang Satu, disini ada tangga untuk turun langsung ke pantainya, ada jalan cabang ke arah kanan untuk menuju ke arah jembatan yang ada Salibnya, ada warung/cafe yang menjual makanan, ada pula toilet
  3. Ada semacam jembatan/jalan beton ke arah bebatuan karang yang di mana di ujungnya terdapat 3 salib besar
  4. Bibir pantai ketapang satu, tempat kita piknik/main main pasir di kedatangan pertama dan kedua
  5. Semacam tanjung/daratan yang menjorok ke lautan dimana terdapat beberapa kursi dan di ujungnya ada patung dua orang yang sedang duduk membelakangi pantai
  6. Bibir pantai ketapang satu, tempat kita piknik/main pasir di kedatangan yang ketiga kalinya


Oia, tambahan, di titik nomor 4 itu banyak kita temukan bekas pecahan botol warna warni yang menyatu dengan pasir dan batu batu kecil, lucu juga sih, kalau dikumpulin jadi kayak gini :


Pecahan botol itu udah enggak tajem di ujung ujungnya, mungkin udah terkikis air laut dan gesekan dengan pasir, jadi pas nemu ini tuh rasanya kaya nemu batu batu permata di antara pasir dan bebatuan, heuheuheu.

***

Peta Lokasi Pantai Ketapang Satu, Kupang





Share:

17 August 2020

Pantai Haubenkase Kupang : Batu Warna Warni Mirip Kolbano

Beberapa waktu yang lalu aku menemukan info tentang pantai ini secara tidak sengaja, aku lagi iseng iseng aja searching di youtube tentang pantai pantai di Kupang, eh aku lihat ada pantai yang namanya cukup unik ya, nama pantainya adalah Pantai Haubenkase Buatam. Wew, aku langsung gali informasi lebih jauh lah mengenai pantai ini.

Pantai Haubenkase ini secara geografis terletak di wilayah Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, NTT. Nah melihat lokasinya yang ada di daerah Amarasi, aku agak ragu sih kesana karena pernah mengalami perjalanan yang sangat menakutkan saat menjangkau pantai pantai di Amarasi Timur, perjalanan itu pernah aku tulis di sini.

Tapi ada satu hal yang membuat aku semangat untuk kesini, yaitu adalah bahwa pada tanggal 7 September 2019, Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat bersama jajaran pejabat melakukan kunjungan kerja ke Pantai ini. Wah dalam hati, "berarti jalan menuju ke pantai ini manusiawi donk ya". Woke di tanggal 25 Juli 2020 kemarin kita pun cuss ke Pantai Haubenkase ini.

Dengan menggunakan bantuan Google Maps, aku pun mempercayakan rute yang dibuatkan oleh aplikasi itu, yaaa meskipun pernah dikecewakan sih, dibuatkan rute yang mengerikan pas di Amarasi Timur.

Dari Kota Kupang, kita mengarahkan kendaraan ke daerah Baun yang sudah terkenal akan kuliner Babi nya. Jalur menuju Baun ini sudah aspal namun lumayan sempit, dan banyak lubang di sisi sisi aspalnya, jadi kalau sisipan dengan kendaraan dari depan, harus pelan dan kadang sampai berhenti, buat gantian lewat, apalagi pas ada truk lewat dari depan.

Di rute ini ada satu spot yang cukup curam dan menikung, tapi untungnya sudah diperkeras menggunakan beton, mungkin karena struktur tanah di spot ini yang enggak stabil ya, jadi di titik ini bukan aspal, melainkan beton seperti di jalan tol gitu.

Kondisi jalan menjadi lumayan rame saat mendekati Pasar Baun. Sepertinaya disini memang pusat perekonomian warga baun, ada kantor pos, puskesmas, kantor pegadaian dan kantor bank ntt.

Kondisi jalan yang awalnya aspal dengan lobang lobang, berubah menjadi aspal yang cukup rusak menyisakan bebatuan yang menjadi dasar aspal, dan sekitar 1 km sebelum lokasi jalan berubah menjadi jalan tanah berwarna putih, yuph FYI tanah di kupang ini memang didominasi tanah kapur berwarna putih yang kalau pas musim kemarau gini debunya akan mengebul dengan bebas, heuheuheu.

Lumayan seru sih di spot belokaan terakhir, menurun dengan bentuk huruf S, dan kondisi jalan tanah, untungnya ini musim kemarau, jadi pede lewat, kalau musim penghujan mungkin aku ragu untuk melewati spot ini, mengingat kondisi ban kendaraan yang cuma ban eco yang udah mulus mulus, heuheuheu.


Pantai Haubenkase Buatam ini memang sudah dikelola dengan baik oleh jemaat Gereja Ebenhaezer, yang lokasi gerejanya persis sebelum jalan masuk menuju pantai ini.

Ada sebuah portal bambu yang dibentangkan di jalan masuk ini, dan untuk memasukinya kita membayar 10 ribu saja, ini tarif untuk kendaraan roda empat ya, kalau untuk motor tentunya berbeda.

Huaaaa ternyata pantai ini luas banget, dalam artian dari parkiran ini kita harus berjalan lagi melewati daratan pasir dan batu untuk bisa menyentuh air lautnya.

Oia di parkiran ini ternyata ada warung nya gaes, sekilas sih menjual kopi kopian dan makanan ringan. Sedangkan di sebelah parkiran ini terdapat beberapa spot foto foto dengan background  tulisan ala ala gitu, dan ada beberapa lopo lopo/gazebo yang disewakan di atas bebatuan.


Kita sih enggak tertarik kesitu, kita langsung jalan menuju pantainya, agak buru buru sih, enggak bisa terlalu explore jauh karena udah lumayan sore, jam 5 sore lewat kita baru sampai sini, perkiraanku salah, jam 3 lewat dari kupang ternyata kesorean, karena jalan yang rusak, kendaraan hanya bisa berjalan pelan.

Langsung kita gelar karpet/alas untuk duduk dan membuka bekal yang kita bawa, laper juga ternyata nyetir dari kupang kesini. Saat aku makan, anak anak lagi seru bermain pasir dan lari lari kesana kemari.


Sore ini kondisi pantai tidak ramai, cuma ada 3 group, itupun karena pantainya yang luas banget jadi kerasa sepi pantainya, sisi positipnya jadi lebih nyaman untuk piknik.

Di sisi kanan pantai ini terdapat bukit batu dengan pohon enau/palem/apalah itu aku enggak tahu, heuheuheu yang tegak kokoh berdiri , entah apa yang ada di balik bukit batu itu, mungkin ada pantai juga, sedangkan di arah kiri kita duduk terbentang luas pantainya. Untuk pasir di pantai haubenkase ini bercampur dengan batu batu cantik berwarna warni, mirip dengan pantai kolbano, cuman bedanya di kolbano enggak ada pasirnya, kalau disini ada pasirnya.



Cukup singkat sih kita berada disini, agak nyesel juga karena berangkatnya kesorean, baru nyampai jam 17.11 dan jam 17 50 udah siap berkemas buat balik kupang, karena serem juga kalau balik malem malem dengan kondisi jalan yang seperti itu.

Semoga pemerintah segera memperbaiki jalan menuju ke pantai ini ya, karena lumayan berpotensi lho pantai ini...

***

Peta Lokasi Pantai Haubenkase, Kupang


.



Share:

10 August 2020

Gagal ke Lelogama

(Mei 2020)

Lelogama adalah suatu daerah di daerah Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, di Kaki Gunung Timau. Nah salah satu hal yang membuat aku tertarik banget untuk menjelajah Lelogama adalah adanya pembangunan Observatorium dengan teleskop terbesar di Asia Tenggara.

Tentang Observatorium (diolah dari berbagai sumber)
FYI, Saat ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang membangun observatorium nasional di Timau, Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur lho. Menariknya, wilayah tempat observatorium ini nantinya akan jadi destinasi Taman Nasional Langit Gelap pertama di Indonesia

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan observatorium nasional di Gunung Timau ini akan menggantikan observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Alasannya, dari tahun 1923 sampai dengan 1970an observatorium Bosscha masih berfungsi baik, namun pada tahun 1980an kota Bandung sudah semakin terang, polusi cahayanya sudah terlalu tinggi. Jadi untuk memotret galaksi dan objek yang redup sudah sangat sulit. Maka, pada sekitar tahun 2011, tim astronom dari Institut Teknologi Bandung melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari lokasi yang cocok dijadikan tempat observatorium baru. 

Pilihan akhirnya jatuh di sekitar lereng gunung Timau, NTT. Yang istimewa, observatorium di Timau ini akan menjadi rumah bagi teleskop terbesar di Asia Tenggara, dengan diameter 3,8 meter. Keberadaan observatorium nasional Timau, bisa menyumbang perkembangan sains dan teknologi antariksa di Indonesia. Selain itu, observatorium Timau juga akan mampu menjadi daya tarik wisatawan karena menjadi observatorium terbesar di Asia Tenggara (semoga ya, aamiin)

Untuk mendukung proyek tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur membangun jalan raya sepanjang 40 kilometer, dimulai dari jalur utama Kupang - So'e di daerah Takari Kab Kupang menuju ke kawasan obsevatorium terbesar di Asia Tenggara di Gunung Timau. Nah jalan raya ini baru selesai di awal tahun 2020 ini, ya meskipun sebenarnya belum selesai 100% sih, padahal deadline nya tuh akhir tahun 2019 oh, tapi ngaret, sudah diperpanjang sampai batas waktu, namun masih ada beberapa spot yang belum teraspal.

Pembangunan jalan ini bagi masyarakat lelogama merupakan anugrah yang luar biasa, karena sebelumnya, jalur sepanjang 40 km kondisinya rusak banget nget nget, kalau kemarau, kering berdebu berbatu batu, kalau musim penghujan becek dan licin plus kontur jalan yang naik turun serta berkelak kelok. Coba deh cari videonya di youtube, banyak banget yang upload mengenai rusaknya jalan menuju Amfoang sebelum diaspal lagi.

***

Pagi Pagi setelah sarapan, kita berempat pun bersiap berangkat ke arah Lelogama. Perbekalan untuk makan siang sudah kita siapkan, rencananya sih untuk dimakan di Lelogama, biar dsana enggak perlu beli makan, namun dalam perjalanan ke Lelogama Amfoang Selatan, kita tetep mampir ke Alfamart dulu untuk membeli cemilan dan kopi botolan, biar enggak ngantuk pas nyetir.

Perjalanan menyusuri Jalan Timor Raya cukup lancar, tidak terlalu banyak mobil berlalu lalang, jalanan pun sudah aspal mulus, cuman mulai berkelak kelok saat memasuki daerah Camplong.

Nah di daerah Takari, sebelum Jembatan Panjang Batuputih, kita keluar jalur utama, masuk ke jalur menuju amfoang, di persimpangan jalan ini lumayan rame, banyak warung dan terdapat beberapa angkot yang mangkal menunggu penumpang.

Jalan ini adalah titik awal dari jalur yang diaspal mulus tahun 2019 kemarin dan sepanjang 40 km ke depan akan mulus terus (harusnya sih). Eh tapi kenyataannya enggak, masih ada beberapa spot yang belum teraspal. Videonya bisa kaliaan lihat di sini.

Nah dalam perjalanan ini, kita harus melewati sebuah jembatan yang cukup mendebarkan sih, tiang tiang dan tulangnya sih dari besi besi kokoh, tapi alas atau jalan pada bagian jembatan tersebut terbuat dari bilah bilah kayu, heuheuheu. ngeri juga sih kalau sampai ambrol.. Nama jembatan ini adalah Jembatan Kali Kering.




Ada sebuah plakat di jembatan ini, seperti yang kalian lihat di foto di atas ini, ada beberapa informasi yang kita dapat, yaitu bahwa proyek jembatan ini dibangun menggungan anggaran tahun 2001 dan menghubungkan daerah Bokong dengan Lelogama, heuheuheu, ya Bokong, kalau kalian orang jawa pasti akan tersenyum atau mungkin ketawa saat pertama melihat ini. FYI Bokong disni adalah nama daerah yaaaa.

Nah setelah itu kita lanjut perjalanan lagi, eh ternyata enggak seseram yang dibayangkan saat menyeberang jembatan ini menggunakan kendaraan.


Beberapa kilometer dari Jembatan Kali Kering tadi, perjalanan kita dihentikan oleh beberapa petugas/hansip. Mereka menyuruh kita turun, cek masker, menanyakan tujuan kita kemana, menyuruh cuci tangan dahulu untuk semua orang yang ada di dalam kendaraan, dan mengisi nama di buku, semacam buku tamu atau buku pengawasan. Kirain bakal disuruh balik nih, eh ternyata enggak donk, habis itu kita diperbolehkan lanjut perjalanan menuju Lelogama.


Tidak jauh dari titik pemeriksaan tadi, kita sampai di satu spot yang membuat kita tuh pengen banget berhenti dan foto foto, enggak tahu ini nama spotnya apa, yang jelas cantik untuk diabadikan. Background bukit batunya itu lho, seakan menyembul diantara hijaunya pepohonan, ini mirip mirip dengan bukit bukit batu di Gunung Fatuleu.



Setelah puas foto foto, kita pun lanjut perjalanan.

Perasaan happy karena perjalanan menuju lelogama sudah tidak jauh lagi, tiba tiba sirna begitu saja karena beberapa kilometer dari spot foto foto tadi, perjalanan kita kembali dihentikan, kali ini bukan oleh hansip, tapi oleh aparat TNI yang dengan tegas dan sopan menyuruh kita untuk balik, karena jalan sementara ditutup portal dan hanya warga setempat yang boleh lalu lalang melewati portal ini, huhuhuhuhu, sedih banget..... Tapi untungnya anak anak enggak nangis ya, mereka tetep happy diajak jalan jalan meskipun enggak sampai tujuan.

Ya sudah kita pun langsung puter balik, kembali ke Kota Kupang dalam kondisi lapar, karena sudah waktunya makan siang dan bekal makan siang yang kita bawa pun kita bawa balik, heuheuheu

***

NB : Perjalanan ini kita lakukan di Bulan Mei 2020, nah mulai tanggal 15 Juni spot ini sudah dibuka kembali untuk umum, dan kita pun melakukan perjalanan kembali kesini pada akhir Bulan Juli 2020 kemarin, tunggu ya tulisan mengenai serunya piknik ke Lelogama, tapi kalau kalian mau nonton VLog kita Piknik Seru di Lelogama, bisa meluncur ke https://www.youtube.com/watch?v=IeQmC8chozg



Share:

Youtube

Blog Archive