3 December 2017

Perang Topat : Perang Tanpa Pertumpahan Darah


Setiap tahun, di awal Bulan Desember pasti pecah perang besar di Lombok Barat, ratusan masyarakat baik itu warga Muslim maupun Hindu saling lempar, saling serang menggunakan ketupat.

Meskipun mereka ini perang dengan saling lempar, tak ada satupun masyarakat yang terluka , bersedih, maupun dendam justru malah penuh gelak tawa, karena perang ini adalah perang ritual tahunan yang sudah turun temurun sejak jaman dulu kala.


Bertempat di komplek Taman Lingsar, yaitu Pura dan Kemaliq Lingsar, event tahunan ini diawali dengan tampilan hiburan, seperti gendang beleq dan tari tarian, nah dua tarian yang sempet aku lihat adalah tarian para prajurit berbaju perang warna hijau, lengkap dengan senjata serta tarian oleh perempuan perempuan cantik bernama Tari Rejang Santhi

Sedikit membahas tentang tarian ini, Tari Rejang Santhi ini adalah hal yang baru bagi event Perang Topat, karena tahun tahun sebelumnya tidak pernah dipentaskan tari ini. Nah ciri khas dari Tari Rejang Santhi adalah mahkota yang dikenakan oleh para penari, berbentuk bunga bunga mirip matahari, terbuat dari daun lontar, yang disusun membentuk mahkota.

Tari Rejang Santhi ini adalah karya dari Ayu Bulantrisna Djelantik (dari bali) yang terinspirasi dari Tari Rejang, tarian klasik Pulau Dewata, dan merupakan sebuah bentuk respon terhadap suasana negeri serta dunia global yang kerap dipenuhi oleh keributan, ujaran kebencian, dan kekejaman antar sesama.


Nah saat tarian tarian tersebut ditampilkan, ketupat ketupat kecil yang nantinya akan dipakai sebagai senjata perang sedang berada di area dalam pura lingsar,  hanya orang2 tertentu saja yang boleh masuk, sedangkan beberapa pemuda sudah siap siap di atas pagar pemisah antara area pura dan area perang, jadi tugas mereka nantinya adalah mendistribusikan ketupat dari dalam pura ke  medan perang.


Setelah prosesi tari tarian selesai, dilanjutkan dengan sambutan dari Bupati Lombok Barat, Bapak Fauzan Khalid dan Wakil Gubernur NTB, Bapak Muhamamd Amin.

Dalam sambutannya, Bapak Fauzan Khalid mengatakan “Kita ingin memberikan keteladanan kepada dunia. Jargon yang kita pilih pada tahun ini adalah : Dari Lingsar untuk Lombok Barat, dari Lombok Barat untuk NTB, dari NTB untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk dunia,”



Sedangkan Wakil Gubernur NTB, Muhammad Amin mengatakan bahwa Perang topat merupakan tradisi budaya yang harus dilestarikan, Perang Topat merupakan wujud nyata toleransi kerukunan umat beragama di Lombok, tradisi Perang Topat juga memiliki daya tarik bagi sektor pariwisata NTB, Perang yang tidak pernah ada rasa menang dan kalah, Ini event budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

Usai menyampaikan pembukaan, Bapak Muhammad Amin langsung memberi aba-aba pertanda perang dimulai. Tanpa ragu, Beliau bersama Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid mengawali prosesi perang dengan melemparkan ketupat mini. Begitu aba-aba perang dimulai, pemuda yang berdiri di pagar tadi langsung melemparkan ketupat ke arah medan perang, dan massa kedua kubu yang tampak sudah tidak sabar langsung berebut ketupat dan melemparkannya ke arah lawan. Nah kedua kubu itu adalah kubu utara yang berada di sebelah atas dan kubu selatan yang berada di sebelah bawah.


Keseruan perang ini hanya berlangsung beberapa menit, tidak sampai 15 menit malah, tapi mohon maaf sebelumnya, karena keasyikan perang, jadinya enggak sempet foto foto deh pas perang, heuheuheu...

Setelah perang selesai, beberapa warga memungut ketupat sisa perang untuk dibawa pulang, karena menurut kepercayaan ketupat ini akan memberikan kesuburan bagi sawah atau ladang.

Baca Juga :

***

Peta Lokasi Komplek Taman Lingsar


.
Share:

6 comments:

  1. Seru ada lempar-lemparannya aahhahahaha

    ReplyDelete
  2. Keren.. Beruntung bisa ikut meramaikan tradisi Perang Topat :)

    ReplyDelete
  3. Seru kayaknya nih, direkam video kayaknya bagus. Tapi emang lebih seru ikut lempar2an ya Ir :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, videonya sudah banyak beredar di yutup

      Delete

Silakan Meninggalkan Jejak di Kolom Komentar

Blog Archive