WHAT'S NEW?
Loading...

Kontroversi Segara Anak Rinjani

GUNUNG RINJANI adalah salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang lokasinya ada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung api ini memiliki ciri khas berupa kerucut yang tumbuh di tepian kaldera bagian timur, di dalam kalderanya terdapat danau kaldera berbentuk bulan sabit, dan kerucut baru yang muncul dari dalam danau tersebut. Kalderanya dinamakan Segara Anak, dan kerucut barunya disebut Gunung Barujari. Danau Segara Anak (2008 m) merupakan danau kaldera dengan gunung api aktif yang tertinggi di Indonesia

Rinjani masuk dalam Geopark Nasional, dan sedang diusulkan masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) yang dikelola oleh UNESCO.

Para anggota tim dari UNESCO bernama Maurezio Burlando dari Italia dan Soon Jai Lee dari Korea mengunjungi Lombok pada 17-20 Mei 2016 lalu untuk melaksanakan penilaian. Mereka mengunjungi Senaru, sebuah desa tradisional di Lombok Utara, air terjun Benang Stokel yang terletak di sekitar Aik Berik Desa di Lombok Tengah, dan Pusuk Forest di Sembalun, Lombok Timur. Kini tinggal menunggu hasil keputusan resmi dari UNESCO akan masuk atau tidaknya Geopark Nasional Rinjani ke dalam daftar GGN UNESCO. (info dari rinjanigeopark.com)

Dalam masa penantian ini, ternyata Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) punya rencana sendiri dalam menyukseskan masuknya Rinjani ke dalam Global Geopark Network yaitu dengan memasang huruf huruf besar berwarna merah yang lokasinya tidak jauh dari Danau Segara Anak. Foto foto pemasangan "landmark" ini diunggah oleh "Eko Anugraha Priyanto" di akun Facebook nya pada hari Jumat, 24 Juni 2016 yang kemudian langsung viral, menyebar di semua media sosial, seperti Instagram, Twitter dan Path.






Tentu hal ini menimbulkan pro kontra, ada yang mendukung tapi tidak sedikit pula yang dengan keras menentang, sampai sampai salah satu dari mereka membuat petisi dengan title "Selamatkan Gunung Rinjani Kami".  

Nah dari kontroversi ini, aku mau menuliskan beberapa pendapatku, terutama mengenai komentar komentar di berbagai media sosial, terutama facebook.

Alay, merusak pemandangan, merusak keasrian, ide buruk, dan beberapa kata lain mewakili kesedihan, kekecewaan dan kemarahan para pecinta alam dan pendaki gunung. Namun ada satu kata yang terlontar dan itu merupakan ungkapan yang berlebihan, yaitu "TENGGELAMKAN" , heuheuheu , kalau ditenggelamkan di segara anak, justru jadi sampah baru donk......

capture dari facebook
Konsep GEOPARK sih seharusnya tetap mengedepankan konsep ECOTOURISM dalam pengelolaannya ya, termasuk dalam hal pembatasan jumlah dan pengaturan kunjungan pendaki. Penumpukan sampah yang terjadi di pos pendakian, pelawangan maupun Danau Segara Anak adalah bukti bahwa pengelolaan Rinjani tidak "ECO" lagi namun sudah bergerak ke arah "MASS". 

capture dari facebook
Coba deh baca komentar di atas ini yang aku capture dari FB. Salah satu dari mereka bilang bahwa "landmark" baru itu gak ada hubungannya dengan sampah, tidak mengurangi kealamian, membandingkan dengan "landmark" di pantai2 semacam kuta dan trawangan, dan sangat antusias pengen fotoan di sana.

Nah antusiasme berlebihan ini yang sebenarnya aku takutkan dari "landmark" tadi. Orang berbondong bondong ke segara anak hanya untuk selfie di depan "landmark" tersebut, dan dengan bangganya upload di media sosial. Dimungkinkan juga nanti akan ada antrean panjang untuk bisa foto di sini, atau justru nanti akan ada oknum yang menarik retribusi untuk bisa fotoan di sini.

Semakin booming, semakin viral, maka akan semakin banyak orang2 yang berhasrat ke sini, dan sampah di mana mana. Kenapa ada hubungannya dengan sampah? Karena yang mendaki hanya untuk dapat fotoan di sini bisa dipastikan bukanlah pecinta alam, dan mereka gak tahu, gak mau tahu bahkan males untuk bawa kembali sampahnya turun.

Yang terakhir, janganlah disamakan dengan "landmark" yang sudah sudah ada di beberapa pantai di Lombok, disitu memang ditujukan untuk mass tourism... Heuheuheu

Yaa semoga yang punya ide ini bisa berpikir kembali, merenungkan apa yang sudah diperbuat, dan menurunkan kembali tulisan yang sudah terpasang rapi di sana. Eman2 dana nya, dikeluarkan hanya untuk hal seperti ini... Yang diuntungkan sih yang menang tender pengadaan pembuatan tulisan ini, heuheuheu.. Selamat yaaa... Lumayan THR

***

Nah bangaimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komentar ya...
Monggo....

7 comments: Leave Your Comments

  1. Saya baru sekali mendaki gunung, tapi memang sih kalau terlalu banyak pendaki dalam waktu bersamaan tentu secara tidak langsung ada dampak yang kurang baik. Semoga memang dibatasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya begitulah.... Semoga yaaa

      Delete
  2. Aku belumke rinjani tapi aku ngak setuju dengan tulisan itu. Biarkan rinjani alami

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku pun belum pernah om.... heuheuheu

      #anakpantai

      Delete
  3. rasanya kurang natural jika terdapat landmark seperti itu :(

    ReplyDelete
  4. betul gan... ane juga kurang sependapat dengan landmark di tempat2 seperti rinjani. keuntungan untuk ekosistemnya kagak ada,,, dan betul2 banget yg datang cuman buat foto2an doang malah corat-coret 'nya bisa nambah lebih dari landmark, contohnya udah banyak di kawasan wisata alam

    ReplyDelete

Silakan Meninggalkan Jejak di Kolom Komentar